Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

Super Pertanyaan

Oleh :  dr Yamin Setiwan, MARS. Drektur RST Dompet Dhuafa

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah cerita yang menarik melalui facebook dari seorang sahabat dan saya ingin berbagi dikesempatan ini. Cerita tersebut adalah sebagai berikut:

Ini kisah tentang Riri, saat ini ia sedang kuliah semester akhir di sebuah Universitas Negri. Riri kuliah disebuah fakultas yang cukup favorit, yaitu Fakultas Kedokteran. Sebuah fakultas  yang ia yakini dapat membuat hidupnya lebih baik di masa mendatang. Bukan kehidupan yang hanya baik untuknya, tetepi juga buat keluarganya yang telah susah payah mengumpulkan uang agar ia dapat menerusakan dan lulus dari kuliahnya. Kakanya juga rela untuk tidak menikah tahun ini, Karena ia harus menyisihkan sebagian gajihnya untuk membiayai tugas akhir dan  biaya-biaya laboratorium serta praktikum yang cukup tinggi.

Hari ini adalah hari ujian semesteran. Mata kuliah ini diberikan oleh dosen yang cukup unik, dia ingin memberikan pertanyan-pertanyan ujian secara lisan. “Agar aku bias dekat dengan mahasiswa.”katanya beberapa waktu lalu. Satu persatu pertanyaan pun dia lontarkan, para mahasisawa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam keretas ujian mereka.

Ketakutan Riri tejawab hari ini, 9 pertanyaan yang dilontarkan lumayan mudah untuk dijawab. Jawaban demi jawaban pun dengan lancarnya ia tulis di lembar jawabanya. Tinggal pertanyaan  ke-10. “Ini pertanyaan terakhir”’kata dosen iitu. “Coba tuliskan nama ibu tua yang setia membesrihkan ruangan ini,bahkan seluruh ruangan di gedung jurusan ini,!”katanya. Seluruh ruangan pun tersenyum. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurawan , jelas pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang di ujikan kali ini.”Ini serius!”Lanjut pak dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang!”

Riri tahu ibu tua itu, dia mungkin juga satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran ini. Riri tahu dia, orangnya agak pendek, rambut putih yang selalu digelung, dan ia selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswI di sini. Ia selalu menundukan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tapi satu hal yang membuatnya merasa konyol. Riri tidak tahu namanya!!! Dan dengan terpaksa ia memberi  jawaban ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini. Ujian pun berakhir, satu persatu lembar jawaban pun di kumpulkan ketangan dosen itu.

Sambil menyodorkan keretas jawaban,Riri memberanikan bertanya kepada dosennya kenapa ia memberi’pertanyaan aneh,itu ‘itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini. “Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini”, kata pak dosen. Beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu erbicara. “Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainya, jika anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai anda hanya C atau D!!!”

Semua berdecak, Riri pun bertanya kepadanya lagi, “Kenapa pak?”,Kata pak dosen itu sambil tersenyum, “Hanya yang peduli pada orang-orang sekitarnya saja yang pantas jadi dokter.” Pak dosen lalu pergi membawa tumpukan keretas-keretas jawaban ujian itu.

Peduli merupakan langkah awal untuk menjadi pemberi manfaat bagi orang lain serta penyelesai masalah di masyarakat. Dan peduli, sudah seharusnya menjadi milik semua orang, bukan hannya dokter. Jadi, soal ujian Riri nomer ke-10 di atas,Kiranya juga menjadi soal ujian untuk kita semua.

Peduli merupakan langkah awal untuk menjadi pemberi manfaat bagi orang lain serta penyelesai masalahdi masyarakat

3,034 total views, 3 views today