Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

Akhir Penantian Nadin

Rini Rahayu (21) tak mampu menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Di depan sebuah pavilion, ia mondar-mandir, sesekali duduk, tapi kemudian kembali berjalan. Hidangan nasi kotak yang disiapkan petugas tak disentuhnya sedikit pun.

Dengan hati-hati kepala Nadin yang tampak besar disanggah dengan “bantal” berbentuk donat. Perawat pun mulai mencukur kepala yang belum banyak ditumbuhi rambut itu. Tak lama kemudian, dua buah alat penerangan berukuran besar yang menempel di langit-langit ruangan pun mulai menyala. Setelah semua siap, sejumlah orang berpakaian serba hijau dengan masker dan penutup rambut memasuki ruangan. Dengan seksama 3 dokter bedah, 1 dokter anestesi dan 5 orang tim medis lainnya melakukan tindakan operasi selama hampir dua jam.

Rini Rahayu adalah orang tua Nadin yang tengah dioperasi karena mengidap penyakithydrocephalus, yaitu penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak  (cairan serebro spinal). Warga Kampung Setu, Desa Setu, Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor ini menceritakan, semasa kandungan ia tidak pernah mengalami hal yang aneh-aneh. Proses persalinannya pun berjalan lancar tanpa halangan.

Saat usianya baru dua bulan, Nadin menderita demam tinggi dan kejang-kejang. Rini pun langsung membawa putri kesayangannya itu ke salah satu Rumah Sakit pemerintah di kawasan Cibinong, Bogor. Di rumah sakit inilah ia baru tahu kalau Nadin mengidap Hidrosefalus. Setelah delapan hari Nadin dirawat di rumah sakit itu, ia pun disarankan seorang dokter untuk ke Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa karena dirinya termasuk keluarga tidak mampu.

Setelah menjadi member RST, Nadin pun dirujuk ke RSCM untuk mendapat tindakan lebih lanjut. Saat itu RST memang belum memiliki pelatan kesehatan yang memadai untuk merawat dan mengoperasi Nadin. Lima bulan lebih Rini bolak-balik membawa Nadin ke RSCM. Ia pun sudah mendapat jadwal operasi saat usia Nadin 5 bulan. Namun, hingga tiba waktunya Nadin tidak juga dioperasi. “Dua kali dapat jadwal, tapi selalu batal,” ungkap Rini.

Istri dari Arsudin yang berprofesi sebagai penjahit di salah satu garmen di Jakrta Utara ini tidak tahu pasti alasan anaknya batal dioperasi, “katanya sih karena Jamkesda saya tidak bisa dipakai untuk operasi ini. Katanya ini penyakit bawaan yang tidak bisa diklaim Jamkesda,” terangnya.

Mentok di RSCM, ia pun disarankan ke RS di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Namun, ia harus mengulangi proses dari awal yang cukup berbelit. Syukurnya, salah satu dokter di RSCM mengenal RST. Ia pun kembali dirujuk ke RST. Alhamdulillah, RST sudah memiliki peralatan medis yang memadai untuk melakukan operasi.

Akhirnya, berkat bantuan beberapa pihak, termasuk sponsor dari PT Jamsostek dengan program CSR-nya, Nadin dapat dioperasi di RST. Perlu diketahui, Nadin adalah pasien pertama yang menjalani tindakan operasi besar di RST pada Sabtu (15/12). Selain Nadin ada satu pasien hidrosefalus lainnya yang juga dioperasi pada hari itu.

Rini pun akhirnya dapat kembali tersenyum manakala Nadin dipindahkan ke ruang High Care Unit (HCU) setelah operasinya berjalan lancar. Ia menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada semua donatur RST Dompet Dhuafa, PT Jamsostek, serta tim dokter, perawat dan semua pihak yang telah membantunya sehingga Nadin dapat dioperasi. “Saya sangat senang karena akhirnya Nadin dapat dioperasi,” pungkasnya.

Nadin baru menjalani operasi pertama, ia harus menjalani beberapa tindakan operasi kembali untuk menyembuhkan penyakitnya. Dompet Dhuafa tidak bosan-bosannya mengajak para dermawan untuk membantu Nadin dan pasien miskin lainnya yang masih sulit mengakses layanan kesehatan berkualitas. Salurkan donasi melalui BCA 237.304.5454. A/N Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Donasi Anda akan mengembalikan senyum mereka. [Author mfr]

2,547 total views, 2 views today