Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

NEK ENTIN TAK LAGI BERFIKIR SOAL BIAYA PENGOBATAN ANAKNYA

Derita yang dialami Amirullah (36) biasa panggilannya Amir, didiagnosa menderita penyakit “Paraplegia” atau penurunan fungsi motorik yang sebabkan oleh cidera pada tulang belakang. Yang kini tinggal bersama ibunya Suwartini (67) alias Nek Entin di salah satu ruang pasar berukuran 4 x 3 meter yang dibangun oleh saudagar kaya dari Sumatra Barat, tetapi tidak dilanjutkan dan bahkan menjadi kawasan Pasar mati, yang lokasinya berada di Kp.Kebantenan Rt.04/09, Jatiasih Kota Bekasi.

Amir anak keempat dari kedelapan bersaudara, namun ketujuh saudara Amir  telah berpulang ke Rahmatullah. Sehingga Amir kini menajadi anak tunggal Nek Entin. Amir mengungkapkan telah lima tahun paraplegia merampas daya gerak pinggang hingga kakinya. Derita kelumpuhan yang dialami Amir berawal ketika ia terjatuh saat akan memulung dengan gerobaknya lima tahun lalu. Amir kemudian terserang sakit panas tinggi, yang lama kelamaan tubuhnya melemah dan kaki kakinya mulai tidak dapat digerakkan. Bahkan jika pegal benar-benar telah menyiksa, satu-satunya obat bagi Amir adalah berdiam diri, tak menggerakkan tubuhnya beberapa lama. Dengan sendirinya pegal-pegal itu sirna. Namun, pegal-pegal itu kerap kembali menyiksa tanpa merasakan tanda-tanda sebelumnya. Kondisi itu diperparah lagi oleh kondisi ekonominya yang didera kemiskinan.

“Setiap hari menghadapi berbagai kesusahan hati semacam itu saya tak kuat lagi. Kondisi saya pasti merepotkan orang-orang di sekitar saya. Pikiran-pikiran macam itu membuat mental saya drop. Lalu saya sadar kalau terus-terusan berpikir negatif kondisi saya bisa-bisa malah makin parah. Sejak saat itu saya pasrah saja, enggak berpikiran macam-macam, agar ibunda tercintanya tidak menjadi kepikiran” ungkap Amir mencurahkan isi hati.

Meski begitu, Amir tidak pernah dibawa berobat ke rumah sakit oleh nek Entin. Dikarenakan , ia sendiri tidak pernah mengenal adanya kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) maupun Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA), (Bagaimana mau pergi ke rumah sakit, nak. Uang saja tidak ada sedikit pun),” ujar Nek Entin.

Awal ia mengetahui keberadaan RS Rumah Sehat Terpadu (RST)  Dompet Dhuafa dari pemuda karang taruna Komp AL jatiasih Bekasi. Karena keterbatasan karang taruna dalam menangani penyakit dan mencari kebutuhan dana pengobatan, akhirnya mereka menghubungi Tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) yang terdiri dari petugas survey dan petugas paramedis, lalu dengan bantuan ambulan LKC maka pasien diantar langsung ke RST.

Bergenang air matanya Nek Entin saat melihat anak tunggalnya sudah mendapat perawatan ekstra dari tim Medis RST, dan ia pun tak henti-hentinya mengucapkan bersyukur dan terimaksih yang sebesar-besarnya  “Dengan adanya RST saya merasa sangat terbantu untuk kesembuhan anak saya, terima kasih untuk semuanya yang sudah turut peduli membantu pengobatan anak saya,” tutur Nek Entin

“Dan kini kondisi Amir sudah agak sedikit perubahan setelah dilakukan perawatan di RST,” kata Dadi saudara sepupu Amir menjelaskan.

(Author-mfr)

1,772 total views, 2 views today