Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SAKA MENANTIKAN ULURAN TANGAN DONATUR

RST News – Tak jelas apa yang dikatakannya, tapi tangannya terus-menerus menunjuk botol minuman isotonik yang sudah berganti isi teh manis itu. Serta merta, pria berkaus orange langsung mengambil botol itu dan memberikan kepada anak itu. Secara perlahan botol itu ditempelkan di mulut anak itu, ia tampak kesulitan untuk menenggak minuman itu.

Lelaki kecil itu bernama Muhammad Saka Hardana (5). Badannya tampak kurus kering, kedua tangan dan kakinya terlihat sangat kecil untuk ukuran anak seusianya. Ia hanya bisa berbaring di sofa hijau ruang tunggu Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, ketika orang tuanya tengah mengurus administrasi untuk mendapat pelayanan di RST. “Ibu… ibu…” ujarnya lirih mencari ibunya, nyaris tak terdengar.

Sekira tujuh bulan lalu, Saka, demikian ia akrab dipanggil, baru kembali dari sekolah ketika ia mengeluh badannya panas dan nyeri di rahang karena bengkak. “Sore itu langsung saja saya bawa ke dokter di bilangan Bojong Gede, Bogor,” cerita Erna Purwanti (36) ibu Saka.

Dokter, kata Erna, hanya memberinya obat dan menyuruhnya kembali ke rumah. “Tidak perlu khawatir, nanti juga pecah sendiri,” ujar dokter sebagaimana ditirukan Erna. Namun, tak lama berselang, bengkak di bagian bawah mulut Saka terus membesar. Suami Erna yang berprofesi hanya sebagai petugas keamanan langsung membawanya ke Puskesmas. Saat itulah, Erna baru tahu jika anaknya menderita kista.

Atas saran dokter di Rumah Sakit Islam di bilangan Cempaka Putih Jakarta Pusat, kista di mulut Saka harus segera dioperasi agar tidak semakin parah. Ia pun kembali dirujuk ke salah satu rumah sakit di bilangan Tipar Cakung, Jakarta Utara. “Penyebabnya bisa jadi infeksi, karena gigi susu anak saya tumbuh ke bawah,” terang Erna sambil terisak.

Karena merasa tidak mampu untuk membiayai operasi Saka yang puluhan juta, Erna pun membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan yang lainnya ke kecamatan. Setelah dirasa cukup, ia pun kembali ke rumah sakit berharap mendapat keringanan biaya. Tapi yang terjadi saya ditolak, dan harus membayar uang Rp 2 juta untuk pendaftaran,” kenangnya. Padahal, Erna hanya membawa uang Rp500 ribu. “Bahkan saya diminta juga uang Rp100 ribu untuk melengkapi berkas,” tukasnya.

Setelah itu, Erna dan keluarganya pasrah. Ia tak memiliki uang untuk membiayai anaknya. Akhirnya ia pun membawa Saka ke pengobatan alternatif herbal. Lama menjalani terapi, bengkak di mulut Saka tak kunjung kempis. “Saya tidak berani lagi ke rumah sakit,” ucap Erna.

Karena rahangnya terus membengkak, Saka sulit untuk menelan makanan. Bahkan ia juga sempat kesulitan bernafas. Akibatnya, asupan nutrisi ke tubuh Saka sangat sedikit, dan tubuhnya pun terus menyusut.

Beruntung, rekan kerja ayah Saka, mengetahui keberadaan RST Dompet Dhuafa yang ternyata tak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. Mengetahui RST tidak memungut biaya Saka pun dibawa ke sana. Tak muluk-muluk, orang tua Saka hanya ingin konsultasi terlebih dahulu kepada dokter bedah mulut yang ada di RST. “Kita berharap juga bisa ditangani lebih lanjut,” pungkas Erna.

Ernah yang saat ini tinggal di Griya Kali Suren Blok B2 Nomor 16 Inkopad Tajur Halang, Bogor Jawa Barat ini berharap uluran tangan donator agar anaknya bisa dioperasi dan sehat seperti sedia kala. (Amir DD/mfr)

2,953 total views, 3 views today