Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SEMINAR KESEHATAN PENGEMBANGAN NON - PROFIT HOSPITAL DI ASIA TENGGARA

JAKARTA –  INDONESIA sangat membutuhkan keberadaan rumah sakit (RS) nirlaba (non profit). Pasalnya, pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin ternyata masih jauh dari ideal. Dari beberapa kasus kesehatan yang melibatkan kaum dhuafa mendapat perhatian dari banyak pihak. Tak terkecuali Dompet Dhuafa (DD) yang sejak 2001 telah mendirikan klinik cuma-cuma (LKC) dan Rs. Rumah Sehat Terpadu (RST) merupakan pengembangan dari LKC yang saat ini sudah melayani sekitar 3000 jiwa sejak beroperasi 4 juli 2012, yang menjadi pusat pelayanan kesehatan bagi warga miskin.

Makin banyaknya kasus – kasus pasien yang ditolak karena kurangnya dana dan sebagainya menjadi alasan DD mensosialisasikan RS tak berbayar (Non-Profit). RST hadir untuk memberikan pelayanan secara cuma cuma / gratis berkelas VIP.

Dengan harapan mengurangi jumlah tersebut, DD dengan RSTnya menyelenggarakan seminar dengan tema “Pengembangan Non-profit Hospital di Asia Tenggara”. Seminar yang diadakan di Twin Plaza Jakarta Barat Kamis (21/2) ini dihadiri beberapa direktur RS, instansi kesehatan, masyarakat umum dan lembaga lainnya.

”Seminar ini berangkat dari kesadaran bahwa sehat milik semua, dan merupakan kebutuhan yang sangat penting. Khususnya bagi dhuafa.” papar Direktur RS RST Dompet Dhuafa dr.Yahmin Setiawan, MARS.

RST Dompet Dhuafa merasa perlu memberikan solusi terbaik dengan pelayanan tak berbayar. Dan RST merupakan RS pertama di Indonesia yang biaya perawatannya full cuma-cuma. “melalui penghimpunan dana yang dihimpun masyarakat seperti Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZIZWAF) serta dana social lainya kami pergunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis,” Ulasnya.

Menurut keynote speaker Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan (BUK) Prof.Dr.dr.med.AkmalTaher,SpU(K), saat ini dari 819 RS di Indonesia, ada 728 RS yang non-profit. Namun belum sepenuhnya gratis, hanya bayarannya yang dikurangi. Setelah dari seminar ini, diharapkan banyak RS yang tertarik menjadi full non-profit seperti RST Dhompet Dhuafa. Karena biayanya sendiri berasal dari donatur.

Melalui seminar ini pula diharapkan dapat membumikan informasi tentang non – profit hospital yang dapat mengurangi beban biaya kesehatan masyarakat dhuafa.

Masih banyaknya kaum dhuafa di Indonesia menjadikan pelayanan tak berbayar menjadi suatu keharusan. Direktur RST, Yahmin Setiawan mengatakan banyak orang kaya di Indonesia yang juga bersedia berbagi.

“Karena itu seminar ini menginformasikan tentang RS non-profit. Darimana mendapat dana, bagaimana menjalankannya, RST dapat dicontoh” ujarnya.

3,064 total views, 1 views today