Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

KUPAS LENGKAP TENTANG TB

Hari TB sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Maret, di mana momen ini sekaligus juga memperingati ditemukannya kuman (bakteri) penyebab TB oleh Dr. Robert Koch pada tahun 1882 yang membuka jalan bagi penemuan metoda diagnosis dan penyembuhan.

Penyakit TB sampai dengan saat ini masih merupakan masalah epidemik di seluruh dunia, mengakibatkan tidak kurang dari jutaan orang meninggal dunia setiap tahunnya, terutama di wilayah negara yang sedang berkembang.

Diperlukan sekali penyebaran informasi dan pengetahuan yang benar dan utuh tentang TB kepada masyarakat. Banyak program dan upaya yang telah dilakukan, baik oleh pemerintah dan masyarakat, baik edukasi dan pelayanan kesehatan untuk pemberantasan penyakit TB. Diharapkan, semua itu dapat mewujudkan Indonesia Bebas TB.         

TB Masalah Kesehatan Dunia & Indonesia

TB adalah suatu penyakit infeksi yang menular dan disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberkulosis). Penyakit TB dapat diderita oleh siapa saja, orang dewasa atau anak-anak dan dapat mengenai seluruh organ tubuh kita manapun, walaupun yang terbanyak adalah organ paru.

Sampai saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TB. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman TB di dunia ini pun tinggi. Pada tahun 2009, di dunia terdapat 1,7 juta orang meninggal karena TB (600.000 diantaranya perempuan) sementara ada 9,4 juta kasus baru TB (3,3 juta diantaranya perempuan). Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55 tahun).

Menurut Global Tuberculosis Control : WHO Report 2010, kasus Tuberkulosis (TB) di Indonesia mengalami penurunan.  Saat ini Indonesia berada di urutan kelima (setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria)  setelah selama sembilan tahun terakhir menempati urutan ketiga (setelah India dan China) sebagai negara dengan kasus TB terbesar di dunia. Angka Insidens semua kasus TB adalah 430.000 orang = 189/100.000 penduduk, (menurun dibandingkan tahun 1990 : 626.867 orang atau 343/ 100.000 penduduk, artinya di tahun 2010 turun 45% dari tahun 1990). Sedangkan angka Prevalens semua kasus TB adalah 660.000 orang = 285/100.000 penduduk, (menurun dibandingkan 1990 : 809.592 orang = 443/100.000 penduduk, artinya di tahun 2010 turun 36 % dari tahun 1990).

Namun,  permasalahan TB yang dihadapi di Indonesia masih sangat besar yaitu setiap tahun masih ada 61.000 orang atau 169 orang per hari yang meninggal karena TB. Penyakit TB juga berkaitan dengan “economic lost” yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga. Menurut WHO, seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun.

Sedikitnya ada 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia. Pertama, waktu pengobatan TB yang relatif lama (6 – 8 bulan) menjadi penyebab pasien TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Kedua, masalah TB diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant = kebal terhadap bermacam obat). Dan ketiga adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul.

Bahas Tuntas Tentang TB

Sumber penularan penyakit TB adalah melalui dahak/riak yang mengandung kuman TB dan  dikeluarkan dari pasien TB saat  batuk, bersin atau berbicara. Kuman TB dapat hidup dan berkembang pada daerah yang kurang terkena sinar matahari dan kuman TB tidak menular melalui gelas, piring atau handuk. Sehingga perlu diketahui dengan benar bahwa penyakit TB bukanlah penyakit kutukan/guna-guna dan  bukan penyakit keturunan.

Gejala penyakit TB yang perlu dikenali pada orang dewasa (di atas usia 14 tahun) adalah batuk yang disertai berdahak dan sudah terjadi lebih dari 2 pekan atau sering disebut dengan 3B (bukan batuk biasa). Dan sering pula disertai gejala tambahan lainnya seperti adanya rasa sesak, nafsu makan yang berkurang, berat badan yang turun dan keringat pada malam hari walaupun sedang tidak beraktifitas.

Pada orang dewasa yang dicurigai menderita TB, akan dilakukan pemeriksaan dahak di laboratorium sebanyak 3 kali (disebut dengan SPS / sewaktu-pagi-sewaktu). Dari dahak-dahak tersebut akan dilakukan pemeriksaan BTA (basil tahan asam) di laboratorium untuk diwarnai dan dilihat dengan mikroskop apakah terdapat kuman TB atau tidak. Apabila ditemukan kuman TB, maka dipastikan orang dewasa tersebut menderita penyakit TB dan harus diobati. Pasien TB dengan adanya kuman TB dalam dahaknya berpotensi dapat menularkan kepada orang-orang disekitarnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan dahak dan seseorang dinyatakan sakit TB, maka tenaga medis akan melakukan pengobatan TB sampai sembuh. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diberikan dalam bentuk paket (Kombipak atau FDC) di Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya seperti Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) adalah GRATIS / Cuma-Cuma.

OAT paket tersebut (yang obatnya berwarna merah) harus ditelan setiap hari pada tahap awal  selama 2 bulan (56 hari) dengan dosis perharinya disesuaikan dengan berat badan pasien saat itu. Pasien TB dan PMO biasanya dianjurkan untuk melakukan kontrol rutin setiap 2 pekan sekali, untuk dipantau perkembangan hasil pengobatannya serta pemberian OAT untuk 2 pekan yang akan datang. Apabila ada keluhan efek samping OAT (seperti gatal dan mual), maka pasien harus menyampaikan kepada petugas kesehatan saat kontrol agar dapat diberikan obat mengatasi efek samping tersebut, serta OAT jangan diberhentikan sendiri dan tetap dilanjutkan sesuai anjuran.

Dalam 2 bulan pengobatan TB, biasanya keluhan yang dialami oleh pasien TB seperti batuk berdahak, sesak, kurang nafsu makan dan keringat malam akan berkurang sekali bahkan hilang. Namun, tetap diingatkan bahwa pasien TB harus melanjutkan pengobatannya sampai tuntas dan dinyatakan selesai oleh petugas kesehatan.

Satu pekan sebelum tahap awal selesai, kepada pasien TB akan dilakukan pemeriksaan dahak di laboratorium sebanyak 2 kali (SP = sewaktu-pagi) untuk dilihat apakah kuman TB nya masih ada atau sudah tidak ada. Apabila hasilnya menunjukkan kuman TB nya sudah tidak ada, maka pengobatan TB dengan OAT paket akan dilanjutkan ke tahap lanjutan selama 4 bulan (112 hari) dengan obatnya yang berwarna kuning dan harus ditelan dalam 3 hari  / pekan (biasanya pada hari Senin, Rabu dan Jum’at).

Kontrol tetap dilakukan rutin setiap 2 pekan sekali. Satu bulan sebelum selesai tahap lanjutan,kembali pasien TB akan melakukan pemeriksaan dahak  di laboratorium sebanyak 2 kali untuk dilihat apakah kuman TB nya tetap tidak ada. Apabila hasilnya menunjukkan kuman TB nya tetap tidak ada, maka pengobatan TB dilanjutkan sampai tuntas. Pada akhir tahap lanjutan (1 pekan sebelum pengobatan bulan keenam), untuk memastikan kembali kuman TB tetap tidak ada, pasien TB akan diperiksa kembali dahaknya di laboratorium sebanyak 2 kali. Dan apabila hasil pemeriksaan dahaknya ternyata tetap tidak ditemukan kuman TB nya, maka pasien TB tersebut dinyatakan SEMBUH dari penyakit TB.

Dikarenakan pengobatan TB ini diberikan untuk waktu yang lama (6-8 bulan) dan biasanya pasien TB merasa bosan dalam minum OAT serta merasa sudah enakan walaupun baru berobat selama 1-2 bulan, maka diberlakukan  untuk setiap pasien TB yang berobat harus didampingi oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO) yang dipilih oleh tenaga medis dan pasien. Di mana PMO ini bertugas memastikan penderita minum OAT setiap hari dan kontrol secara rutin ke Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya, sehingga TB nya bisa SEMBUH.

Tentang TB Pada Anak

Laporan mengenai TB Anak jarang didapatkan, namun diperkirakan jumlah kasus TB Anak per tahun adalah 5 % sampai 6 % dari total kasus TB. Di negara berkembang, TB pada anak berusia

TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru?paru dengan perbandingan 3:1. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun.

Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). Sebagian besar anak yang terinfeksi M. tuberculosis tidak menjadi sakit selama masa anak-anak. Satu-satunya bukti infeksi mungkin hanyalah tes tuberkulin kulit yang positif.

Gejala utama yang harus dikenali pada anak yang dicurigai menderita TB adalah berat badan yang tidak naik-naik atau cenderung menurun dalam 3 bulan berturut-turut, hal ini dapat dilihat dari KMS (kartu menuju sehat) yang sering digunakan saat penimbangan berat badan di Posyandu. Biasanya gejala tambahan yang sering ditemukan pada anak yang dicurigai TB adalah sering batuk dalam waktu yang lama dan demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas serta susah makan.

Pemeriksaan yang akan dilakukan pada anak yang dicurigai TB meliputi Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Test Tuberkulin (dikenal dengan sebutan Mantoux test) serta Foto Rongent apabila diperlukan. Dalam anamnesis, akan ditanyakan kepada orangtua si anak beberapa hal, yaitu :

• Apakah ada keluarga atau tetangga yang dewasa dan dekat rumah yang sakit TB ?

• Apakah si anak mengalami penurunan berat badan atau berat badannya tidak naik-naik ?

• Apakah si anak sering mengalami demam dan batuk ?

• Apakah si anak pernah di imunisasi BCG sebelumnya ?

Kemudian akan dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh kepada si anak, terutama untuk melihat apakah terjadi pembesaran pada kelenjar limfenya. Dan pada si anak akan dilakukan pemeriksaan test tuberkulin, yaitu dengan menyuntikkan 0,1 ml tuberkulin PPD intrakutan di bagian lengan bawah. Reaksi akan dilihat 48 – 72 jam setelah penyuntikan dan hasil test tuberkulin dinyatakan positif, maka menunjukkan adanya infeksi TB. Pemeriksaan radiologis (foto rongent) biasanya dilakukan setelah anak diuji dengan test tuberkulin dan hasil yang di dapatkan positif.

Setelah dilakukan rangkaian pemeriksaan pada anak dan ternyata dinyatakan sakit TB, maka tenaga medis akan melakukan pengobatan TB sampai sembuh. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diberikan dalam bentuk paket (Kombipak atau FDC) di Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya seperti Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) adalah GRATIS / Cuma-Cuma.

Pada saat bersamaan, harus dilakukan pula pemeriksaan pada orang dewasa yang ada di sekitar pasien TB Anak untuk mencari sumber penularnya. Karena yang bisa menularkan TB pada anak adalah pasien TB Dewasa, terutama yang ditemukan kuman TB pada dahaknya saat pemeriksaan di laboratorium. Pasien TB Anak sulit untuk menularkan TB kepada anak lainnya, sehingga tidak perlu diasingkan atau dijauhi.

Pengobatan TB Anak diberikan untuk waktu yang lama (6-9 bulan) dan harus didampingi oleh orangtuanya atau keluarga lainnya sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) Di mana PMO ini bertugas memastikan pasien TB Anak minum OAT setiap hari dan kontrol secara rutin ke Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya, sehingga TB nya dinyatakan SEMBUH.

Beberapa upaya pencegahan TB Anak yang dapat dilakukan yaitu, pertama, dengan mengobati semua pasien TB Dewasa sampai sembuh, sehingga tidak menjadi sumber penularan lagi di lingkungan sekitarnya. Kedua, dilakukan imunisasi BCG dengan tujuan memberikan kekebalan pada Anak dan mengurangi resiko terkena TB yang berat (seperti infeksi TB di syaraf kepala).

Lalu ketiga, pemberian asupan makanan yang bergizi cukup dengan jumlah dan jenisnya sehingga daya tahan tubuh anak maksimal. Dan keempat, perlunya pengetahuan dan pendidikan kesehatan yang benar dan tepat tentang TB pada keluarga dan masyarakat sehingga terbiasakanlah prilaku hidup bersih dan sehat.

Ditulis oleh dr. Yahmin Setiawan,MARS (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa)

2,032 total views, 1 views today