Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

INDONESIA BEBAS MALARIA 2030

Peringatan Hari Malaria Sedunia yang jatuh pada tanggal 25 April setiap tahunnya, masih menjadikan penyakit malaria sebagai salah satu masalah kesehatan utama di banyak daerah tropis dan subtropis.  Penyakit Malaria banyak terdapat di daerah tropis, pola penyebarannya disebabkan oleh berbagai faktor antara lain seperti perubahan lingkungan, vektor, sosial budaya masyarakat dan resistensi obat, selain itu juga karena keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan di beberapa daerah.

Malaria Masalah Kesehatan

The World Malaria Report (2011) melaporkan bahwa setengah dari penduduk dunia berisiko terkena malaria. Transmisi malaria di Indonesia juga masih terjadi, berdasarkan laporan riset kesehatan dasar menunjukkan  hingga tahun 2011, terdapat 374 kabupaten endemis malaria.

Pada 2011, jumlah kasus malaria di Indonesia terdata sebanyak 256.592 orang dari 1.322.451 kasus suspek malaria yang diperiksa sediaan darahnya. Dengan angka Annual Parasite Insidence (API)  1,75 per seribu penduduk,  artinya dalam setiap 1.000 penduduk di daerah endemis terdapat 2 orang terkena malaria. Dampaknya sangat nyata terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia yang mengakibatkan berbagai masalah sosial, ekonomi bahkan berpengaruh terhadap ketahanan nasional. Oleh karena itu malaria adalah satu di antara penyakit yang menjadi target pemerintah untuk dieleminasi secara bertahap dan ditargetkan Indonesia bebas malaria pada 2030.

Untuk mengeliminasi malaria, Indonesia telah melakukan berbagai upaya. Sejarah mencatat melalui Komando Pembasmian Malaria (KOPEM) pada tahun 1950-an, telah berhasil yang berhasil menurunkan jumlah kasus malaria secara bermakna khususnya di Pulau Jawa. Selanjutnya karena pelaksanaan adanya keterbatasan dana, program ini terhenti pada 1969 dan diubah secara bertahap menjadi upaya pemberantasan yang diintegrasikan ke dalam sistim pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan lain-lain.

Namun demikian, upaya penanggulangan malaria tidak berhasil optimal karena hanya mengandalkan sektor kesehatan, padahal malaria adalah penyakit yang berkaitan dengan perilaku manusia dan lingkungan. Oleh karena perlu melibatkan sektor lain yang turut berperan di dalam epidemiologi malaria. Atas dasar inilah kemudian  WHO meluncurkan gerakan intensifikasi pengendalian malaria dengan kemitraan global, yang dikenal Roll Back Malaria Initiative (RBMI) pada Oktober 1998.

Bentuk operasional RBMI di Indonesia dikenal dengan nama Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria) yang telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan pada 8 April 2000 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jadi Gebrak Malaria merupakan upaya pemberantasan malaria melalui kemitraan dengan seluruh komponen masyarakat. Lebih lanjut, Indonesia bertekad untuk melakukan eliminasi malaria pada 2030, sesuai dengan Keputusan Menkes No.293/Menkes/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi malaria di Indonesia.

Dalam laporan penyakit malaria yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2012, berkat kerjasama antar lembaga donor di tahun 2010 Indonesia tercatat sudah mengeluarkan biaya penanggulangan penyakit malaria lebih dari 45juta US$ baik yang berasal dari dana pemerintah atau donor asing. Namun di tahun 2011 terjadi penurunan, hanya sekitar 22juta US$.

Tentang Malaria

Malaria dapat diderita  baik laki-laki maupun perempuan serta pada semua golongan umur, dari bayi sampai orang dewasa serta yang diserang umumnya masyarakat yang tinggal di pedesaan dan tempat yang banyak genangan airnya.

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersebut. Di dalam tubuh manusia, parasit Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah. Penyakit ini paling banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana parasit Plasmodium dapat berkembang baik begitu pula dengan vektor nyamuk Anopheles. Daerah selatan Sahara di Afrika dan Papua Nugini di Oceania merupakan tempat-tempat dengan angka kejadian malaria tertinggi.

Masa tunas / inkubasi penyakit malaria dapat terjadi  beberapa hari sampai beberapa bulan kemudian,  barulah muncul tanda dan gejala yang dikeluhkan oleh pasien.  Gejala awal  yang dialami oleh pasien malaria adalah demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit kepala yang hebat,  badan terasa lemah, mual-muntah dan tidak nafsu makan, kuning pada mata, air kencing berwarna teh tua serta wajah pucat karena kurang darah. Apabila tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat, dapat terjadi kejang-kejang dan kehilangan kesadaran.

Namun demikian, gejala yang klasik muncul pada pasien malaria adalah adanya perasaan tiba-tiba kedinginan yang diikuti dengan kekakuan dan kemudian munculnya demam dan banyak berkeringat setelah 4 sampai 6 jam kemudian, hal ini berlangsung tiap dua hari. Diantara masa tersebut, mungkin penderita merasa sehat seperti sediakala.

Malaria digolongkan menjadi 4 jenis , yaitu, pertama, Malaria tertiana, disebabkan oleh Plasmodium vivax, dimana pasien malaria merasakan demam muncul setiap hari ketiga dan merupakan penyebab kira-kira 43% kasus penyakit malaria pada manusia. Kedua, Malaria quartana, disebabkan oleh Plasmodium malariae, pasien malaria merasakan demam setiap hari keempat dan menyebabkan kira-kira 7% penyakit malaria didunia.

Dan ketiga, Malaria tropica, disebabkan oleh Plasmodium falciparum serta merupakan penyakit malaria yang paling berbahaya dan seringkali berakibat fatal. Jenis penyakit malaria ini adalah yang terberat, karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi berat seperti cerebral malaria (malaria otak), anemia berat, syok, gagal ginjal akut, perdarahan, sesak nafas, dll. Penderita penyakit malaria jenis ini mengalami demam tidak teratur dengan disertai gejala terserangnya bagian otak, bahkan memasuki fase koma dan kematian yang mendadak. Serta, keempat, Malaria pernisiosa, disebabkan oleh Plasmodium ovale. Penyakit malaria jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat.

Diagnosis sakit malaria ditegakkan berdasarkan gejalanya, dimana terjadi serangan demam dan menggigil secara periodik tanpa penyebab yang jelas. Dugaan malaria semakin kuat jika dalam waktu 1 tahun sebelumnya, pasien telah mengunjungi daerah endemik malaria. Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan darah guna menemukan parasit penyebabnya. Mungkin perlu dilakukan beberapa kali pemeriksaan karena kadar parasit di dalam darah bervariasi dari waktu ke waktu.

Cara pencegahan yang  efektif dari  malaria adalah pertama, menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu, menggunakan obat nyamuk dan memakai obat oles anti nyamuk saat tidur, serta pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah dan kurangi berada di luar rumah pada malam hari. Kedua, dengan menebarkan pemakan jentik untuk  menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik, seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi dan mujair. Dibarengi pula dengan upaya membersihkan lingkungan melalui menimbun genangan air, membersihkan lumut dan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar

Bentuk pencegahan yang ketiga adalah dengan pemberian obat pencegahan, 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria, minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria.

Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin. Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena. Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.

Obat penyakit malaria belakangan ini sudah menggunakan obat baru seperti Artemisinin-based Combination Therapy (ACT), atas rekomendasi dokter dan dosis yang tepat, diharapkan ACT dapat mengurangi angka kematian akibat penyakit malaria. Disinilah dibutuhkan kerjasama antara masyarakat, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat khususnya pada pusat layanan kesehatan masyarakat dalam ikut menanggulangi penyebaran penyakit malaria.

Semoga, dengan gerakan bersama, GEBRAK MALARIA, harapan Indonesia bebas malaria di tahun 20130 bisa terwujud dengan sempurna.

oleh : dr. H. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa) 

5,209 total views, 1 views today