Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

LAGI, GIZI BURUK MENYERANG ANAK INDONESIA

Anak berusia 13 tahun ini bernama Tasya Saraswati. Ia terlihat terkulai lemah di ruang isolasi rawat inap anak Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa saat kami temui. Kondisinya begitu memprihatinkan, tubuhnya kurus dan terdapat luka memar hitam di kaki dan tangannya. Tasya masuk ke RST Dompet Dhuafa sejak Rabu, 05 Juni 2013.

Berdasarkan keterangan dari Andi seorang relawan kesehatan yang membawa Tasya ke RST Dompet Dhuafa, kondisi Tasya saat dibawa begitu mengkhawatirkan.

“Saat saya membawa Tasya ke RST Dompet Dhuafa, untuk berjalan saja dia tidak bisa, sangat lemah sekali sampai harus dituntun dan digendong,” ungkap Andi.

Menurut cerita dari Andi ia bertemu Tasya saat Tasya sedang mengemis di lampu merah jembatan dua daerah Angke, Jakarta Barat. Andi merasa tersentuh dengan kondisi Tasya yang sangat memprihatinkan namun masih tetap harus mengemis di jalan. Setelah beberapa kali pendekatan dengan Tasya dan kedua orangtuanya, Andi pun membawa Tasya untuk berobat ke puskesmas dan klinik. Namun setelah berobat ternyata tidak terdapat perubahan yang signifikan pada kesehatan Tasya.

Pada akhirnya relawan membawa Tasya ke LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) di Ciputat. Setelah mendapatkan pemeriksaan di LKC, LKC pun memutuskan untuk merujuk Tasya ke RST Dompet Dhuafa agar mendapatkan perawatan lebih intensif.

“Diagnosa dokter menunjukan bahwa Tasya menderita penyakit masalah gangguan gizi berupa gizi buruk, anemia (kurang darah), radang kulit, ulkus (luka di kulit), dan suspect TB (penyakit Tuberkulosis),”terang perawat di ruang rawat inap anak RST Dompet Dhuafa.

“Berat badan Tasya saat ini adalah 20kg, jauh dari berat badan minimal yaitu 36kg dan berat badan ideal anak seumurannya yaitu 46kg,”tambahnya

Berdasarkan keterangan relawan, kondisi Tasya saat ini sudah diderita sejak satu tahun yang lalu, namun karena keterbatasan biaya dan tuntutan hidup yang mengharuskan ia untuk membantu keluarganya dengan mengemis akhirnya keluarga dan Tasya pun kurang begitu memperhatikan kondisi kesehatannya.

“Tasya sendiri sudah ikut mengemis bersama ibunya sejak usia tiga tahun, ia juga hanya sempat bersekolah sampai kelas 2 SD kemudian berhenti karena tidak ada biaya,” ungkap Andi.

Selama dirawat di RST, Tasya hanya ditemani oleh teman-teman relawan. Orangtua Tasya sendiri sejak Tasya dirawat di RST Dompet Dhuafa baru dua kali mengunjungi Tasya. Hal tersebut dikarenakan jarak rumah yang cukup jauh, yaitu di daerah Cengkareng, Jakarta Barat dan mereka juga harus bekerja. Ayah Tasya sendiri bekerja sebagai pencari cacing. Ia kadang pulang satu atau dua minggu sekali ke rumah dengan jumlah penghasilan yang tidak pasti. Sedangkan ibu Tasya sehari-harinya mengemis di jalan dengan penghasilan berkisar Rp ± 50.000,00/hari.

Selama perawatan di RST Dompet Dhuafa, Tasya ditangani secara bersama –sama oleh dokter spesialis anak, dokter spesialis gizi medik dan tim perawatan (dokter umum dan perawat) secara profesional dan kehangatan keluarga.

“Menurut dokter, penanganan Tasya ini kemungkinan membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan dan sampai dengan saat ini penanganan awal yang diberikan kepada Tasya adalah pemasangan templon untuk pemberian obat suntik antibiotik, pemberian obat penurun panas, terapi obat anti tuberkulosis (OAT) dan pemberian vitamin untuk nafsu makannya serta pemberian makanan untuk pemenuhan kebutuhan protein-kalorinya ,” tutup perawat.

Setelah beberapa waktu yang lalu, RST Dompet Dhuafa (Alhamdulillah) dengan bantuan dari banyak pihak telah membantu menangani anak Wira dari Bogor dengan masalah gizi buruk dan diantarkan pulang ke rumahnya di Kecamatan Tenjo, Jasinga, Bogor. Saat ini, gizi buruk menyerang anak Indonesia lagi.  (tie/yhm)

Salurkan Donasi Anda melalui rekening di bawah ini:

Infak (BCA Cab. Pondok Indah 237.304.5454)

Wakaf (Bank Syariah Mandiri 004.013.8118)

2,616 total views, 1 views today