Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SEBUAH PERISTIWA DI IGD RST DOMPET DHUAFA : KECELE .....

Sore itu jalanan agak lengang. Sesekali melintas kendaraan berkecepatan tinggi. Daerah ini, jalan Raya Parung-Bogor, memang masih sepi dan jarang terjadi kemacetan lalulintas, namun angka kecelakaan lalu lintasnya cukup tinggi karena jalanan yang mulus tanpa batas pemisah, ditambah lagi pengendara yang memacu kendarannya dengan cukup kencang.

Di sebuah Intalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit di jalan tersebut, seorang bapak tua berusia 50-an terlihat sedang marah  marah pada seorang  anak muda, sepertinya anaknya….. ,tapi ternyata bukan.

“Kamu ini yang salah, jalan kaki sambil meleng pasti lagi melamun ya?”,ujar si Bapak sambil mengangkat badannya dari posisi rebahan di atas tempat tidur periksa. Terlihat sekali air muka yang menunjukkan kejengkelan. Marah-marah pada si Anak Muda yang juga berbaring di tempat tidur satunya lagi, bersebelahan dengan  si Bapak.

Si Anak Muda yang diidentifikasi bernama Komar hanya meringis kesakitan. Di betis kaki kanannya menganga luka robek sepanjang  dua sentimeter dan  masih mengucurkan darah sedikit.

Dikisahkan di sebuah tikungan di jalan Raya Parung-Bogor, Komar hendak menyeberang jalan tanpa menoleh kanan-kiri padahal dari arah kanan meluncur sepeda motor si Bapak. Si Bapak tidak sempat mengerem dan  akhirnya Komar tertabrak, keduanya sama-sama terjatuh dan terluka. Si Bapak mengalami lecet-lecet di siku kiri dan pinggang kiri. Warga yang melihat kejadian ini segera menolong dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat.

Dokter Khun yang saat itu bertugas di IGD segera bertindak melakukan evaluasi secara umum atas kondisi kedua pasien kecelakaan tersebut. Sepertinya hanya mengalami luka lecet dan robek yang tidak terlalu parah. Hanya saja, si Bapak naik pitam sejak mereka berdua memasuki pintu IGD.

Si Bapak terus saja mengomeli Komar yang menurutnya bersalah, tapi kecelakaan antara pengendara motor dengan pejalan kaki,  sebagai pengendara motor tentu si Bapak yang akan dipersalahkan.

“Sudahlah Pak, namanya aja musibah. Kita tidak bisa menduganya…, yang penting luka-lukanya tidak begitu parah. Eh maaf Pak, tolong diangkat tangan kirinya, akan saya olesi  obat luka.” ujar seorang perawat.

“Bukan begitu Mbak, saya ini baru pulang kerja di Ciputat, ada masalah keuangan di kantor dan kebetulan akhir-akhir ini keuangan saya juga lagi seret. Hari ini saja saya nggak bawa uang banyak…” ujar si Bapak sambil mengomel perlahan. Mbak perawat tanpa menyahut mulai membersihkan luka-luka di tangan di Bapak. Dokter dan petugas yang lain saat itu sibuk menjahit luka terbuka di betis Komar. Luka yang agak dalam dan membutuhkan kita-kira tiga sampai lima jahitan luar.

Si Bapak yang sudah selesai ditangani, masih menunggui Komar yang sedang ‘dipermak’ oleh tim medis Rumah Sakit yang bernama Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa yang berlokasi di jalan Raya Parung-Bogor km 45, hampir saban hari menerima pasien kecelakaan lalu lintas. Tak jarang pasien harus dirujuk bila mengalami luka yang sangat parah karena fasilitas belum memungkinkan, karena RST Dompet Dhuafa  ini masih baru dan dalam tahap pengembangan.

Tiga puluh menit berlalu, tindakan medis dinyatakan selesai. Bapak dan juga Komar turun dari tempat tidur, berjalan agak terpincang pincang menghampiri Dokter yang melambai dari meja pelayanan, kode bahwa mereka berdua sudah bisa pulang.

“Bapak, ini obatnya yang harus diminum selama dirumah. Luka lecetnya harus selalu diolesi obat luka agar cepat mengering dan tidak terkena infeksi. Sedangkan untuk mas Komar, mandi diperbolehkan tetapi balutan luka jangan terkena air/ basah, jadi sebaiknya ditutupi plastik dulu sebelum mandi. Ini obatnya juga harus diminum rutin. Kontrol lagi pada saat obat habis. ” ujar dr. Khun, bergantian memandangi Bapak maupun si Komar.

“Luka di kaki saya parah nggak dok?” tanya Komar

“Parah nggak parah toh yang ngeluarin biaya nantinya juga saya” si Bapak menukas…..

“Insya Allah nggak parah, yang penting sesuai anjuran, Insya Allah cepat kering dan sembuh.” dokter Khun  menjelaskan

“Dijahit banyak ya dok?” tanya Komar lagi

“Seharusnya tadi nggak perlu dijahit dok.” si Bapak menukas lagi, tetap dengan wajah sebal. Komar hanya cengengesan.

“Eeh kamu malah cengengesan, mana sini liat dompetmu..” si Bapak meradang…..

Komar langsung menunduk ketakutan.

“Tadi memerlukan 5 jahitan luar Mas, karena luka yang cukup lebar dan menganga bila hanya dibiarkan terbukan. Jahitan akan dibuka seminggu lagi ya Mas. Tapi jangan lupa kontrol untuk mengecek apakah lukanya sudah  mengering atau belum.” imbuh dokter Khun .

“Berapa administrasinya dok?”tanya si Bapak.

“Maaf pak, pelayanan di sini gratis. Bapak dan Komar bisa langsung pulang.”

Bapak terhenyak kaget, muka sebal dan cemberutnya seketika hilang berubah menjadi cerah dan bahagia.

“Ha? Gratis? Yang benar? Alhamdulillah……beruntung kowe le eh salah….Saya yang beruntung hehehe… Terimakasih Dokter, Mas-mas dan Mbak-mbak. Terima kasih atas pelayanannya ya…permisi Assalamualaikum” si Bapak berpamitan sambil menuju pintu keluar IGD.

“Wa alaikum salam  Pak,  hati-hati di jalan” sahut seluruh ‘kru’ IGD RST Dompet Dhuafa.

RST Dompet Dhuafa adalah sebuah model rumah penyembuhan yang memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma bagi kaum dhuafa (tidak mampu) dengan pendekatan kehangatan keluarga, ketepatan waktu, professional dan sentuhan hati.Berdiri di atas lahan seluas 7.803 m2, di desa Jampang Kec. Kemang, Bogor Jawa Barat, siap melayani kaum dhuafa yang selama ini sulit mendapatkan akses kesehatan secara memadai. (Akhun/Yhm)

4,064 total views, 1 views today