Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

CHARLIE’S ANGEL RST :KAMI HIDUP DENGAN SEMANGAT

Ny. Dian, Suhaemi dan Jarminah adalah tiga nama sederhana yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi beberapa petugas medis atau para pekerja di Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, karenakurang lebih sudah 5 kali nama mereka terukir di papan informasi pasien ruang khusus tindakan pre dan post bedah untuk menjalani penanganan penyakit yang sering kita kenal sebagai Ca Mammae  (Kanker Payudara).

Secara pasti ketiga ibu rumah tangga ini tidak ada yang bisa menjelaskan awal mula terjadinya kanker payudara yang mereka alami. Karena memang keganasan pada payudara masih belum jelas apa penyebab pastinya, tetapi terdapat beberapa faktor yang berkaitan erat dengan munculnya keganasan payudara yaitu virus, faktor lingkungan, faktor hormonal dan familiar (herediter).“Saya gak tau kenapa bisa begini Mas, dari dua tahun lalu, yang saya rasa cuma benjolan  di payudara, makin kesini makin kerasa gede”ujar salah seorang dari mereka menuturkan.

Penyakit yang oleh World Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD) dengan kode 17 ini, merupakan penyakit keganasan yang paling umum diderita kaum perempuan. Pria juga dapat terserang, meskipun kemungkinannya lebih kecil dengan rentang  1 di antara 1.000.

Dan karena pembelahan sel-sel tubuh yang tidak teratur, ditambah dengan pertumbuhan yang tidak dapat dikendalikan membuat jaringan tumor membesar menjadi benjolandengan ukuran yang tidak wajar. Penyakit kanker ini juga membuat fungsi organ yang diserang tidak lagi sempurna dan apabila sudah stadium lanjut, benjolan akan terasa nyeri sampai tak tertahankan.

Ada beberapa pengobatan kanker payudara yang penerapannya tergantung pada stadium  penyakitnya. Seperti operasi pengangkatan sel kanker sekaligus jaringan payudaranya atau biasa dikenal dengan istilah Mastektomy. Tindakan operasi ini telah berhasil dijalani oleh  Ny.Dian dan Suhaemi di RST Dompet Dhuafa akhir tahun 2012.

Namun berbeda nasib dengan mereka berdua, Ny. Jarminah harus melewati tindakan kemoterapi terlebih dahulu dengan pertimbangan ukuran jaringan kanker yang terlalu besar, setidaknya sampai bisa dilakukan mastektomy di kemudian hari.

Ya, kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti kanker atau sitokina dalam bentuk pil cair, kapsul atau melalui infus yang berkerja menggunakan mekanisme perpindahan zat  bergerakyang mendekati atau menjauhi rangsangan kimia dalam tubuh. Biasa diberikan oleh dokter spesialis bedah umum atau onkologi (bidang ilmu kedokteran yang khusus menangani masalah-masalah kanker) sebelum atau sesudah tindakan operasi.

Tergantung jenisnya, kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Yang paling ditakuti dari kemoterapi tentu saja efek sampingnya. Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi bergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh, kondisi psikis, dan sebagainya. Efek samping timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. Mual ,muntah, sariawan, gangguan indera perasa, rambut rontok hingga badan lemas adalah sebagian efek yang dapat ditimbulkan oleh program pengobatan ini.

Pada kenyataannya, untuk mengobati kanker payudara pada pasien, digunakan lebih dari satu macam cara pengobatan. Misalnya, pembedahan yang diikuti oleh kemoterapi atau radioterapi, bahkan terkadang pengobatan harus dilakukan dengan menggunakan 3 kombinasi tersebut. Tujuan utamanya adalah mengangkat sel-sel kanker secara keseluruhan, karena penyakit kanker hanya dapat sembuh jika belum menjalar ke tempat lain. Sedangkan kemoterapi dan radiasi bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker yang masih tertinggal.

Atas dasar teoridan fakta tersebut ketiga “Charlie’s Angel” dari RST Dompet Dhuafa ini masih menjalani program terapi hingga tanggal 9 Juni 2013 kemarin. Canda gurau yang mereka saling lontarkan seakan menjadi hiburan penuh makna tatkala menantikan jadwal kemoterapi yang mereka jalani setiap bulannya. Perbincangan tentang anak, lingkungan rumah hingga kondisi rambut masing-masing yang jumlahnya tak selebat dulu sering mereka gunakan sebagai amunisi pembunuh rasa bosan yang juga mempererat tali silaturahmi diantara ketiganya.Sedari awal masuk memang sudah seperti kakak beradik rasanya ketiga perempuan yang sama-sama berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini, ditambah dengan kesamaan jadwal operasi, ruangan dan dokter spesialis yang membuat mereka selalu berbarengan dalam setiap program penanganan medis yang dijalani.

Mereka berujar kepada siapapun, jangan pernah memikirkan bagaimana rasanya menjadi seorang “Survivor” bahkan untuk membayangkan saja dangan tegas mereka katakan jangan, karena takkan pernah terbayangkan rasanyal, sulitnya, dan pahitnya menjadi orang yang hidup dengan penyakit kanker payudara ini.

“Kami selama ini hidup dengan semangat agar bisa sembuh dan sehat kembali, dapat berkumpul bersama keluarga.” ucap mereka bertiga pada suatu kesempatan yang sekaligus do’a yang dipanjatkan. (Yyg/Yhm)

2,076 total views, 2 views today