Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

JUHRIADI, 2 TAHUN MELAWAN HIDROSEFALUS

Parung – Bogor. Terlihat ada yang berbeda dari bocah kecil ini. Ukuran kepalanya terlihat lebih besar dari ukuran normal. Juhriadi (2) sedang terbaring di tempat tidur ruang rawat inap anak Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa sambil minum susu dan terpasang infus di tangannya saat kami temui. Juhriadi didiagnosa menderita hidrosefalus sejak lahir, serta terdapat kelainan jantung dan bibir sumbing yang diketahui sejak dirawat di RST Dompet Dhuafa.

Awalnya orangtua Juhriadi hanya memeriksakan kondisi anaknya yang kurang lebih hampir sebulan belakangan ini mulai sering kejang-kejang, menangis dan tidak mau minum ASI.

“Adi memang sudah sejak kecil sakit-sakitan dan ukuran kepalanya semakin besar. Awalnya saya hanya ingin memeriksakan kondisi kesehatan Adi karena sering kejang-kejang, sering menangis dan tidak mau minum ASI, tapi ternyata setelah diperiksa, dokter tidak memperbolehkan saya untuk membawa pulang Adi. Adi harus mendapatkan perawatan lebih intensif,” terang Yeni (Ibu Juhriadi)

Hidrosefalus adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan serebrospinal (cairan di dalam otak) sehingga menyebabkan akumulasi (penumpukan) cairan serebrospinal dalam ventrikel serebral, ruang subarachnoid, atau ruang subdural. Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.

Penyakit hidrosefalus ditambah dengan kelainan jantung serta bibir sumbing yang diderita Juhriadi semakin menambah berat kehidupan keluarga Juhriadi yang merupakan kaum tidak mampu.

“Suami saya kerjanya serabutan. Apapun pekerjaan yang dapat ia lakukan asalkan halal pasti diambilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan biaya pengobatan Adi,” ungkap Yeni.

Yeni menuturkan bahwa awalnya ia sempat bingung tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan pengobatan untuk Adi.

“Melihat pekerjaan ayahnya yang hanya seorang buruh serabutan, kami pun bingung untuk membawa Adi berobat. Karena kami tahu pasti biaya pengobatan untuk Adi sangatlah mahal, Tapi alhamdulillah berkat info dari tetangga, kami diberikan informasi mengenai LKC Dompet Dhuafa di Ciputat sehingga kami pun langsung  mendaftar ke sana. Dari LKC kemudian kami mendapatkan rujukan agar Adi mendapatkan perawatan lebih intensif di RST Dompet Dhuafa,” terang Yeni.

“Jika menangis warna kulit Adi terlihat membiru, hal tersebut dikarenakan akibat kelainan jantung yang dimilikinya. Berdasarkan keterangan dokter, untuk kondisi Adi ini akan dilakukan penanganan secara bertahap, pertama akan ditangani dulu penyakit kelainan jantungnya, kemudian hidrosefalusnya,  baru setelah itu bibir sumbingnya,” ungkap dokter yang merawat Adi.

“Saya merasa bersyukur karena saat ini Adi bisa mendapatkan perawatan di RST Dompet Dhuafa. Tentunya saya sangat berharap sekali Adi bisa lekas sembuh,”tutup Yeni dengan penuh pengharapan. (tie/yhm)

Kami menggugah hati Anda untuk membantu kesembuhan Juhriadi

Salurkan Donasi Anda melalui rekening di bawah ini:

Infak (BCA Cab. Pondok Indah 237.304.5454)

Wakaf (Bank Syariah Mandiri 004.013.8118)

3,071 total views, 3 views today