Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

ASA DAN CITA RIVALDO TERHALANG OLEH SCOLIOSIS

Parung – Bogor. Ia memang terlihat berbeda secara fisik jika dibandingkan dengan remaja laki-laki seusianya. Terlihat ada sesuatu yang menonjol di bagian belakang tulang punggungnya yang membentuk seperti kurva huruf C dan lebih condong ke samping kiri. Rivaldo Harizki (16) telah terdiagnosa menderita Idiopathic Scoliosis Congenital.

Scoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan, yang dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada), maupun lumbal (pinggang), biasanya membentuk kurva seperti huruf “C” atau kurva seperti huruf  “S”.

Dalam kasus scoliosis idiopatik pada usia remaja, belum diketahui penyebab yang jelas. Peran faktor genetik sebagai kemungkinan penyebab dari  kasus scoliosis idiopatik ini secara luas dapat diterima oleh para ahli.

Penyakit ini muncul kira-kira di tahun 2011, saat ia kelas 3 SMP.” Kata Halimah, ibu Rivaldo.

“Saat itu cuma gejala-gejalanya saja yang muncul, saya pikir itu hanya sakit biasa, namun semakin kesini kondisi fisik anak saya semakin aneh, seperti cara berjalannya dan menonjolnya tulang di bagian belakang badannya.” tambah Halimah.

Karena khawatir takut terjadi sesuatu terhadap putra sulungnya, akhirnya Halimah dan suami pun membawa Rivaldo berobat ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan terkait dengan kondisi kesehatannya.

“Awal gejalanya waktu itu saya hanya merasa sakit di dada bagian bawah, tapi saya pikir itu cuma sakit biasa jadi enggak terlalu saya perdulikan.” ungkap Rivaldo.

“Sampai akhirnya karena terlihat ada perubahan terhadap bentuk tubuh saya, baru di tahun 2012 saya memeriksakan di ke dokter.” tambahnya.

Akibat penyakit Idiopathic Scoliosis Congenital yang dideritanya itu, Rivaldo pun merasa minder, malu, dan tidak percaya diri. Sudah setahun belakangan ini ia mengundurkan diri dari bangku sekolah menengah yang baru ia cicipi selama 3 bulan saja.

“Karena kelasnya ada di lantai 2, katanya dia merasa sulit untuk naik tangganya.” ungkap Halimah.

Semenjak menderita penyakit Idiopathic Scoliosis Congenital, ruang gerak Rivaldo memang terbatas. Untuk berjalan pun ia perlu dibantu oleh orang lain akibat ketidakseimbangan tubuhnya.

Halimah juga menyampaikan bahwa selama setahun belakangan ini setelah Rivaldo mengundurkan diri dari bangku sekolah, ia pun hanya berdiam diri di rumah. “Ia merasa malu dan gak percaya diri, ia baru akan pergi bergaul dengan teman-temannya jika memang ada yang mengajaknya pergi, kalau tidak diajak ya dia segan untuk keluar rumah” pungkas Halimah.

Karena keterbatasan biaya orangtuanya, Rivaldo pun hanya sekali saja memeriksakan kondisi kesehatannya ke rumah sakit. Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang driver serabutan pun memiliki penghasilan yang tidak pasti. “Kadang jika pergi mengantar seseorang atau barang sampai seharian penuh itu hanya dapat Rp 100.000,00, dan kalau cuma setengah hari hanya dapat Rp 50.000,00,” ungkap Halimah.

Untuk membantu memenuhi biaya kebutuhan sehari-hari, Halimah pun berjualan nasi uduk di sebuah sekolah dekat rumahnya. Jika sedang ramai, Halimah bisa meraup penghasilan sebesar Rp. 80.000,00 – Rp 90.000,00 namun jika sedang sepi nasi uduk buatannya itu pun tidak segan ia bawa pulang kembali untuk diberikan kepada anak-anaknya.

Penantian untuk mendapatkan pemeriksaan serta pengobatan secara maksimal pun didapatkan oleh Rivaldo berkat informasi yang ia peroleh dari tetangganya mengenai keberadaan RST Dompet Dhuafa.

Di RST Dompet Dhuafa, Rivaldo mendapatkan pemeriksaan dan penanganan dari dokter spesialis tulang (Sp. Orthopedia) dan dokter spesialis saraf. Dan berdasarkan diagnosa penyakit yang diderita oleh Rivaldo, dokter spesialis tulang (Sp.Orthopedia) di RST Dompet Dhuafa pun berencana untuk mengambil tindakan operasi koreksi reformitas posterior stabilisasi dengan prediksi biaya ± Rp 150 juta.

Rencana tindakan operasi diambil mengingat usia Rivaldo yang masih sangat muda dan produktif, sehingga peluang untuk sembuhnya pun sangatlah besar. Tindakan operasi tersebut juga dapat mengurangi angka kesakitan dan ketidakmandirian Rivaldo.

“Saya begitu amat berharap kalau anak saya bisa sembuh agar ia bisa menggapai cita-citanya dan dapat  beraktivitas normal seperti semula, apalagi ia adalah anak laki-laki dan anak pertama, saya sering berpikir bagaimana nasib dan masa depan anak saya kelak jika kondisinya terus menerus seperti ini. ” ungkap Halimah dengan mata yang berkaca-kaca.

Harapan serupa pun diungkapkan oleh remaja yang bercita-cita menjadi pemain bola ini. Semangat untuk menuntut ilmunya tidak pernah surut karena Rivaldo menyampaikan bahwa ia ingin segera sembuh agar bisa bersekolah kembali dan menjalani aktivitas serta pergaulan sosialnya seperti sedia kala.

Setelah sembuh nanti, Rivaldo berencana akan melanjutkan pendidikan dengan mengikuti kejar paket C.

Kondisi Rivaldo saat ini pun relatif sehat, hanya ia mengeluhkan terkadang merasa nyeri di bagian tulang belakangnya. Sambil menunggu panggilan untuk operasi, saat ini Rivaldo pun hanya berobat jalan ke RST jika obatnya sudah mulai habis. (tie/yhm)

Kami menggugah hati anda untuk dapat membantu kesembuhan Rivaldo Harizki

Salurkan Donasi Anda melalui rekening di bawah ini:

Infak (BCA Cab. Pondok Indah 237.304.5454) an Yayasan Dompet Dhuafa Republika

2,359 total views, 6 views today