Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

ASI KAYA GIZI UNTUK BAYI

Secara nasional, pada  tahun 2012 diperkirakan ada sekitar 4,5 % dari 22 juta balita atau sama dengan 900 ribu balita di Indonesia mengalami gizi kurang atau gizi buruk, hal ini dikemukakan oleh Menteri Kesehatan RI, (Almarhumah) Endang Rahayu Sedyaningsih dalam Seminar “Nasional Pangan dan Gizi”  tahun 2012 lalu di Jakarta. Walaupun, angka prevalensi gizi kurang pada balita telah menurun dari 31 persen pada tahun 1990 menjadi 17,9 persen pada tahun 2010.

Masalah gizi pada bayi sebenarnya dapat diatasi bahkan dihindari apabila Air Susu Ibu (ASI) diberikan oleh ibu kepada bayinya selama 2 tahun sejak bayi dilahirkan. Pemberian ASI secara eksklusif adalah pemberian ASI dari seorang ibu kepada bayinya dari usia bayi 0 – 6 bulan tanpa tambahan makanan apapun. Jadi hanya diberikan ASI saja selama 6  bulan pertama kehidupan seorang bayi tanpa tambahan seperti susu formula, madu, air putih, sari buah, biskuit atau bubur bayi. Selanjutnya, dari bayi usia di atas 6 bulan sampai 2 tahun, ASI diberikan dengan ditambahkan makan pendamping ASI (MP-ASI) seperti bubur, biskuit dan buah.

Perlu diketahui dan dipahami bahwa nutrisi dalam ASI mencakup hampir 200 unsur zat makanan, dan ASI merupakan sebuah cairan tanpa tanding ciptaan Yang Maha Kuasa yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi. Keseimbangan zat – zat gizi dalam ASI berada pada tingkat terbaik dan memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. Pada saat yang sama, ASI juga sangat kaya akan sari – sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan system saraf.

Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan karena ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya dan saat bayi berumut  6-12 bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan MP-ASI.. Setelah umur 1-2 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan manfaat.

Salah satu komponen penting yang terkandung di dalam ASI adalah kolostrum, dimana kolostrum mengandung zat kekebalan utamanya IgA yang berperan penting melindungi bayi dari penyakit utamanya diare. Secara umum, kolostrum mengandung protein yang unggul, vitamin A, sejumlah karbohidrat dan juga lemak rendah. Ia sangat bermanfaat untuk mengeluarkan mekonium atau kotoran bayi yang paling pertama sejak ia dilahirkan.

Kolostrum merupakan cairan kental berwarna kekuning-kuningan yang dihasilkan pada sel alveoli payudara ibu disaat pertama kali setelah proses melahirkan selesai. Kolostrum dihasilkan tidak dalam jumlah banyak tetapi sesuai untuk kapasitas pencernaan bayi dan kemampuan ginjal bayi baru lahir yang belum mampu menerima makanan dalam volume besar.

Selain kolostrum, ASI juga mengandung protein (whey dan casein) yang cukup untuk bayi.Keunggulan protein dalam ASI terdapat pada rasio whey dan caseinnya yang tinggi yakni 65:35, yang mana hal tersebut menjadikan protein dalam ASI jauh lebih mudah diserap oleh bayi. Coba bandingkan dengan rasio whey dan casein pada susu sapi yang hanya mencapai angka 20:80, oleh karenanya sulit untuk dicerna oleh bayi.

Kandungan nutrisi lainnya di dalam ASI adalah Taurin, Arachidonic Acid (AA), dan Decosahexanoic Acid (DHA). Taurin merupakan sejenis asamamino yang menempati urutan kedua terbanyak di dalam ASI. Ia bermanfaat sebagai neuro-transmitter yang juga memiliki peran yang penting dalam proses perkembangan otak. Sementara itu, AA juga DHA merupakan asam lemat tak jenuh dengan juntai yang panjang atau dikenal dengan istilah polyunsaturated fatty acid yang sangat diperlukan dalam proses pembentukan sel otak secara optimal. Tak hanya itu, AA dan DHA bisa disintesa bentuknya menjadi Omega-3 dan Omega-6 yang sangat baik untuk bayi.

Kemudian,kandungan lemak dan laktosa di dalam ASI secara jumlah sangat mencukupi kebutuhan bayi. Lemak adalah penghasil kalori (energi) utama dan merupakan komponen zat gizi yang  sangat bervariasi, dan lemak dalam ASI lebih mudah dicerna oleh bayi karena sudah dalam bentuk emulsi. Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI yang fungsinya sebagai sumber energi dan meningkatkan penyerapan (absorbsi) kalsium serta merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus.

Pemberian ASI pada usia bayi 1-2 tahun, dalam satu referensi dinyatakan bahwa setiap 448 ml ASI akan dapat memenuhi kebutuhan bayi berupa 29% dari kebutuhan energinya, 43% dari kebutuhan proteinnya, 36% dari kebutuhan kalsiumnya, 75% dari kebutuhan vitamin A, 76% dari kebutuhan asam folatnya, 94% dari kebutuhan vitamin B12 dan 60% dari kebutuhan vitamin C.

Terbukti sudah  bahwa seorang ibu yang menyusui ASI kepada bayinya akan mendapatkan manfaat yang sangat penting untuk bayinya, yaitu terpenuhinya kebutuhan gizi bayi dengan sempurna. Komposisi nutrisi yang terkandung dalam ASI sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan bayi sehat, mudah dicerna dan diserap serta didapatkan secara gratis. Jadi, para ibu, berikan bayi ASI, maka gizinya akan tercukupi.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas.

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

3,027 total views, 2 views today