Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SUSU SAPI UNTUK ANAK SAPI

Di dalam ilmu biologi, dinyatakan bahwa mamalia dibedakan dari vertebra lainnya karena memberikan makanan untuk bayinya melalui kelenjar mamae atau dengan kata lain melalui kegiatan menyusui. Mamalia dibagimenjadi 3 kelompok yaitu Protheria (bertelur), Metatheria (berkantong) dan Eutheria (mempunyai placenta, yang merupakan 95% dari seluruh mamalia, termasuk manusia).

Air susu setiap mamalia berbeda dan bersifat “species specific”, artinya air susu dan komposisi yang dihasilkan oleh setiap mamalia akan berbeda-beda dan hanya cocok untuk bayi pada jenisnya saja. Variasi komposisi air susu dari setiap mamalia disebabkan oleh adanya variasi ukuran dan bentuk fisik, lama masa kehamilan, kecepatan pertumbuhan, frekuensi pemberian minum dan perbedaan tempat hidup (air, darat, kutub). Dapat dilihat tentang kandungan air susu dari beberapa mamalia pada tabel berikut :

Mamalia

Waktu untuk mencapai

 2X berat lahir (hari)

Komposisi Makronutrien

Protein

Lemak

Laktosa

Sapi

47

3.4

3.7

4.8

Kambing

19

2.9

4.5

4.1

Tikus

6

12.0

15.0

3.0

Manusia

180

0.9

3.8

7.0

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi gizi bayi manusia selama dua tahun pertama dalam kehidupannya.  Pemberian ASI secara eksklusif adalah pemberian ASI dari seorang ibu kepada bayinya dari usia bayi 0 – 6 bulan tanpa tambahan makanan apapun. Jadi hanya diberikan ASI saja selama 6  bulan pertama kehidupan seorang bayi tanpa tambahan seperti susu formula, madu, air putih, sari buah, biskuit atau bubur bayi. Selanjutnya, dari bayi usia di atas 6 bulan sampai 2 tahun, ASI diberikan dengan ditambahkan makan pendamping ASI (MP-ASI) seperti bubur, biskuit dan buah.

Namun sayangnya, target 80% cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat jauh dari kenyataan.  Prevalensi ASI eksklusif dari Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (1997-2007) menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun yaitu dari 40,2% (1997) menjadi 39,5% (2003) dan semakin menurun pada tahun 2007 yaitu sebanyak 32%.  Bahkan angka ini beradsarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) semakin mengkhawatirkan turun menjadi 15,3% di tahun 2010.Praktik pemberian ASI eksklusf hingga usia bayi 6 bulan di DKI Jakarta adalah 8,5% (Dinkes Propinsi DKI Jakarta, 2005).

Banyak penyebab yang mempengaruhi rendahnya pemberian ASI eksklusif, yang saat ini menjadi penyebab utama adalahgencarnya promosi susu formula (sufor). Saat ini di negara kita Indonesia,  begitu banyak beredar berbagai jenis sufor,  mulai dari yang mahal sampai yang relatif murah. Secara definisi sufor adalah makanan yang ditujukan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sebagai pengganti sebagian atau hampir semua dari Air Susu Ibu (ASI) yang karena sesuatu hal ASI tidak bisa diberikan secara penuh atau sebagian. Bahan dasar dari sufor dapat diklasifikasikan menjaadi berbahan dasar susu sapi,  berbahan dasar soya dan berbahan dasar susu kambing.

Promosi susu formula yang sangat gencar (bahkan sampai di RS dan klinik bersalin) memberikan pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi karena merupakan titik awal bagi ibu untuk memilih apakah tetap memberikan bayinya ASI eksklusif atau memberikan susu formula yang diberikan oleh petugas kesehatan maupun nonkesehatan sebelum ASI-nya keluar.

Padahal, sufor yang diberikan pada bayi berdasarkan beberapa penelitian dapat menimbulkan beberapa kerugian, pertama, komposisinya tidak sesuai untuk kebutuhan bayi manusia karena bahan dasarnya adalah susu sapi.Kandungan protein pada susu formula jauh lebih tinggi daripadaASI, sehingga jumlah zat yang larut pada susu formula lebih tinggi yang mengakibatkan beban pada ginjal yang lebih besar. Pada ASI, kandungan lemaknya mudah diserap dibanding dengan lemak yang terdapat pada susu formula. Pada bayi premature (kurang bulan) yang diberi sufor sering timbul gangguan pencernaan dimana buang air besarnya bercampur dengan lemak.

Belum pernah terjadi adanya bayi yang alergi terhadapat ASI. Namun kemungkinan timbulnya alergi terhadap sufor ada, karena terbuat dari susu sapi dan dalam proses pengolahan sufor telah ditambahkan beberapa bahan lain. Jadi, kerugian kedua dari sufor adalah dapat menimbulkan alergi pada bayi. Gejala alergi sufor tidak hanya berupa gejala pada saluran pencernaan seperti muntah, diare, pendarahan gastrointestinal, kehilangan protein dengan akibat hipoproteinemia dan gejala sumbatan usus seperti muntah dengan konstipasi dan perut kembung, tetapi juga gejala yang menyangkut sistem lain, seperti rinorea, urtikaria, dan renjatan.

Gejala alergi akibat sufor dapat berlangsung secara cepat, yaitu terjadi anafilaksis atau eksaserbasi dari eksema atau urtikaria atau kombinasi dari ketiganya terjadi dalam 45 menit pertama setelah minum sedikit susu sapi. Reaksi sedang yang dapat berupa muntah, diare atau keduanya yang terjadi dalam waktu beberapa jam setelah minum susu dalam jumlah yang lebih banyak. Dan reaksi lambat berupa eksema, bronchitis, atau diare atau kombinasi dari gejala ini terjadi dalam waktu 24-72 jam setelah minum susu dalam jumlah yang wajar.

Pada pemberian sufor tidak akan mempunyai manfaat seperti ASI, terutama untuk bayi dan ibu, itulah kerugian ketiga dari sufor. Bayi tidak akan mendapatkan asupan zat-zat pelindung/imunitas yang terdapat pada kolostrum dan ASI serta tidak terpenuhinya zat-zat gizi yang sempurna. Ibu yang memberikan sufor, tidak akan mendapatkan manfaat dari menyusui ASI, terutama sekali adalah sentuhan kasih sayang ibu kepada bayinya disaat menyusui.

Kerugian keempat dari sufor adalah dapat terjadi salah pengenceran dalam penyajian sufor.Dimana pengenceran yang salah dapat diartikan dalam 2 hal, yaitu melarutkan susu formula lebih encer dari seharusnya atau dibuat lebih pekat. Pelarutan suforyang lebih pekat dari seharusnya dapat mengakibatkan Hipernatremi (tinggi kandungan mineral Natrium), Obesitas (kegemukan) dan  Hipertensi (tekanan darah tinggi). Sebaliknya, apabila larutan sufor  yang hipoosmolar/lebih encer, maka dapat  mengakibatkan malnutrisi (kekurangan zat nutrisi) dan gangguan pertumbuhan.

Kesulitan mendapatkan air bersih, kebutuhan akan gas/minyak tanah dan peralatan lainnya untuk menyiapkan sufor saat ingin diberikan kepada bayi, merupakan kesulitan dan kerepotan bagi seorang ibu dan ayah, serta membutuhkan biaya tersendiri untuk memenuhi itu semuanya.Ditambah, belum tentu sterilnya botol dan dot yang digunakan untuk memberikan sufor kepada bayi, sehingga berpotensi sekali untuk terkontaminasi oleh kuman. Hal-hal tersebut merupakan kerugian kelima dari menggunakan sufor.

Apabila dengan menyusui ASI, tidak diperlukan air bersih, gas/minyak tanah dan peralatan lainnya, sehingga sangat praktis serta didapatkan dengan gratis. Ditambah, ASI selalu dalam keadaan steril dan dalam suhu sesuai kebutuhan bayi.

Untuk memberikan sufor pada bayi biasanya menggunakan botol dot, dan kerugian keenam dari sufor adalah dapat menyebabkan tersedak pada bayi ketika pemberian sufor memakai botol dot, terutama jika lubang yang ada pada dot sangat besar, sehingga air susu yang mengalir sangat deras sedangkan bayi belum bisa menyesuaikannya. Dapat pula menyebabkan congekan (otitis media) yang sering terjadi pada bayi yang diberi sufor. Air susu dalam dot dapat masuk dalam telinga karena bayi diberi susu sambil tiduran. Sering terjadi posisi botol dot tidak pas sehingga udara dapat terhisap, yang bisa menyebabkan regurgitasi susu ibu, muntah dan perut kembung.

Jadi, sangat perlu diketahui oleh ayah-ibu dan masyarakat bahwa susu sapi (sebagai bahan dasar susu formula) adalah susu yang tidak tepat untuk bayi. Yang tepat dan benar adalah, susu sapi untuk anak sapi dan ASI untuk bayi manusia.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas.

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

4,031 total views, 1 views today