Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

NEGARA SEHAT DENGAN ASI

Dalam beberapa hasil penelitian di beberapa negara, terbukti bahwa ketika seorang ibu yang menyusui Air Susu Ibu (ASI) kepada bayinya, terutama selama 2 tahun, memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa bagi bayi dan anak-anak yang pada akhirnya akan membentuk generasi masa depan di masyarakat yang sehat dan negara yang sehat pula. Berikut ini, kami sampaikan beberapa hasil penelitian tentang manfaat pemberian ASI.

Pertama adalah para peneliti di Australia Barat melakukan penelitian terhadap 2602 anak untuk mempelajari timbulnya asma dan sulit bernafas pada anak usia 6 tahun. Dengan tidak memberikan ASI meningkatkan risiko sebesar 40% dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI saja 4 bulan (Oddy WH, et al. maternal asthma, infant feeding, and the risk for asthma in childhood. J. Allergy Clinic Immunol 110:65-67,2002). Sedangkan penelitian lain di Negara maju menyimpulkan bahwa bayi yang diberi susu formula mengalami penyakit saluran pernapasan 3 kali lebih parah dan memerlukan rawat inap di RS, dibandingkan dengan bayi yg diberi ASI saja selama 4 bulan (Arch PedatrAdolesc Med, 2003).

Kemudian yang kedua, penelitian yang dilakukan pada anak-anak di Finlandia, bahwa  semakin lama anak diberi ASI akan semakin rendah risiko menderita penyakit alergi, penyakit kulit (eczema), alergi makanan dan alergi saluran nafas (Soarinen UM, Kajosari M. Breastfeeding as a prophylactic against atopic disease.Prospective follow-up study until a7 years old. Lancet 346: 1065-1069, 1995).

Pada penelitian lainnya berkaitan dengan kasus otitis media akut (infeksi saluran telinga tengah), didapatkan hasil bahwa kasus kejadiannya meningkat secara signifikan dengan menurunnya durasi dan eksklusifitas ASI. Bayi-bayi di Amerika Serikat dengan ASI eksklusif ≥ 4 bulan mengalami 50% lebih sedikit kejadian dibandingkan bayi tanpa ASI dan penurunan kejadian sebesar 40% dilaporkan pada bayi yang mendapat ASI dan makanan tambahan sebelum usia 4 bulan. (Pediatrics: 1993)

Yang ketiga, penelitian pada 3.880 anak Australia yang diikuti sejak lahir untuk menentukan pola pemberian ASI dan perkembangan kognitif anak selanjutnya. Didapatkan hasil penelitian bahwa anak yang mendapat ASI selama 6 bulan atau lebih, didapati skor 8,2 poin lebih tinggi (anak perempuan) dan skor 5,8 poin (anak laki) dalam tes kosakata, disbanding dengan anak yg tidak pernah mendapat ASI (J Paediatr Child Health, 2001). Sedangkan dalam penelitian di Inggris menyatakan bahwa pemberian ASI memiliki potensi jangka panjang dalam kehidupan seseorang melalui pengaruhnya pada perkembangan kognitif dan pendidikan masa kanak-kanak .Pemberian ASI secara signifikan dan positif berhubungan dengan tingkat pendidikan pada usia 26 tahun dan kemampuan kognitif pada usia 53 tahun (Publ Health Nur 2002).

Penelitian keempat, pada suatu studi kasus terkontrol di Uni Emirat Arab, yang meneliti 117 kasus leukemia lymfositikakut (kanker sel darah putih) dan 117 anggota kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa masa pemberian ASI pada bayi leukemia lebih pendek secara signifikan daripada bayi pada kelompok kontrol. Masa pemberian ASI ≥ 6 bulan mungkin melindungi anak dari leukemia akut dan kanker getahbening (limfoma) di masa kanak-kanak. (EurJ Cancer, 2001). Pada suatu penelitian lainnya, dalam peninjauan kembali terhadap praktek pemberian makanan pada bayi dikaitkan dengan penyakit menahun pada anak menunjukkan adanya peningkatan risiko diabetes melitus (DM) tipe I, penyakit celiac (ususbesar), beberapa kanker di masa kanak-kanak, dan penyakit infeksi usus besar lainnya bagi anak-anak yang diberi makanan formula. (PediatrClin North Amer, 2001)

Kelima, terlalu awal mengenalkan susu formula, makanan padat dan sususapi merupakan faktor-faktor yang terbukti meningkatkan kejadian diabetes melitus (DM) tipe I di masa depannya. Dilakukan perbandingan antara anak-anak Swedia (517) dan Lithuania (286), usia 0-15 thn yang didiagnosa terkena DM tipe I, didapatkan hasil bahwa pemberian ASI secara eksklusif > 5 bulan dan total waktu pemberian ASI selama > 7-9 bulan dapat melindungi dari DM. (Diabete Metab Res Rev, 2004). Dan pada penelitian lainnya,dalam kasus terkontrol, 42 pasien diabetes melitus (DM) tipe II asli Kanada dibandingkan dengan 92 anggota kelompok control, didapatkan hasil yang menyatakan bahwa faktor-faktor risiko sebelum dan sesudah kelahiran dibandingkan dan pemberian ASI terbukti mengurangi risikoDMtipe II (Arch PediatrAdolesc Med, 2002).

Selanjutnya yang keenam, penelitian di Inggris yang meneliti tingkat kolesterol pada 1.500 remaja usia 13-16 tahun, menyatakan bahwa pemberian ASI mungkin memiliki keuntungan jangkapanjang dalam mencegah penyakit kardiovaskuler dengan mengurangi kolesterol total dan kolesterol berkadar lipid rendah. Dengan paparan awal ASI mungkin memprogram metabolisme lemak pada tahun-tahun selanjutnya, menghasilkan tingkat kolesterol darah lebih rendah sehingga menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler (Pediatrics, 2004).

Dalam penelitian lainnya di Inggris, didapatkan hasil bahwa tekanan darah 216 anakusia 13-16 tahun yang lahir premature, pada bayi yang mendapat susu formula sangat awal atau rutin memiliki tekanan darah lebihtinggi daripada yang mendapat ASI. Kesimpulan dari penelitian adalah pada bayi-bayi prematur dengan pemberian ASI menurunkan tekanan darah pada tahun-tahun berikutnya dan hal yang sama juga berlaku pada bayi-bayi yang lahir cukup umur (The Lancet, 2001).

Ketujuh, di dalam suatu kajian epidemiologi di Brazil, didapatkan hasil studi yang menyatakan bahwa dibandingkan pemberian ASI eksklusif, pemberian ASI parsial memiliki risiko 4,2 kali lebih tinggi untuk meninggal karena diare. Tidak adanya pemberian ASI dihubungkan dgn peningkatan risiko kematian akibat diare sampai 14,2 kali pada anak-anak (Amer J Epidemiol, 1989). Para peneliti dalam sujatu kajian lain yang mendiskusikan dampak pemberian ASI dengan jarak kelahiran anak, hasilnya menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif mengarah pada menurunnya angka kematian sebanyak 20% ketika kelahiran bayi berjarak setidaknya 2 tahun (Nature, 1988).

Dari beberapa hasil penelitian di atas tentang manfaat ASI yang luar biasa, dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini, yaitu :

  1. Menyusui ASI dapat menurunkan resiko terjadinya asma dan sulit bernafas, serta gangguan pernafasan lainnya.
  2. Menyusui ASI dapat menurunkan resiko terjadinya alergi dan kejadian kasus otitis media akut.
  3. Menyusui ASI dapat meningkatkan tingkat kognitif/kecerdasan.
  4. Menyusui ASI dapat menurunkan resiko terjadinya kanker.
  5. Menyusui ASI dapat menurunkan resiko terjadinya penyakit diabetes melitus (DM) tipe I dan tipe II.
  6. Menyusui ASI dapat menurunkan resiko terjadinya gangguan kardiovaskuler seperti tingkat kolesterol yang tinggi dan penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi).
  7. Menyusui ASI dapat menurunkan angka kematian bayi.

Dengan kata lain, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa seorang ibu yang menyusui ASI pada bayinya akan mengurangi resiko penyakit dan meningkatkan kesehatan serta menurunkan angka kematian bayi.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas, serta negara yang sehat dan kuat.

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

2,936 total views, 3 views today