Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

PENYEBAB ASI EKSKLUSIF RENDAH

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi gizi anak selama dua tahun pertama dalam kehidupannya.  ASI eksklusif menjadi investasi yang tidak terhingga untuk menciptakan generasi sehat berkualitas secara fisik maupun emosional.  Pertumbuhan dan perkembangan ideal anak akan tercapai dalam enam bulan pertama jika pemberian ASI eksklusif berhasil dilakukan.

Pemberian ASI secara eksklusif adalah pemberian ASI dari seorang ibu kepada bayinya dari usia bayi 0 – 6 bulan tanpa tambahan makanan apapun. Jadi hanya diberikan ASI saja selama 6  bulan pertama kehidupan seorang bayi tanpa tambahan seperti susu formula, madu, air putih, sari buah, biskuit atau bubur bayi. Selanjutnya, dari bayi usia di atas 6 bulan sampai 2 tahun, ASI diberikan dengan ditambahkan makan pendamping ASI (MP-ASI) seperti bubur, biskuit dan buah.

Manfaat pemberian ASI eksklusif sesuai dengan salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDGs) yaitu mengurangi tingkat kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu. WHO pada tahun 2009 menyatakan sekitar 15% dari total kasus kematian anak di bawah usia lima tahun di negara berkembang disebabkan oleh pemberian ASI tidak eksklusif.  Berbagai masalah gizi kurang maupun gizi lebih juga timbul akibat dari pemberian makanan sebelum bayi berusia 6 bulan

Namun sayangnya, target 80% cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat jauh dari kenyataan.  Prevalensi ASI eksklusif dari Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (1997-2007) menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun yaitu dari 40,2% (1997) menjadi 39,5% (2003) dan semakin menurun pada tahun 2007 yaitu sebanyak 32%.  Bahkan angka ini beradsarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) semakin mengkhawatirkan turun menjadi 15,3% di tahun 2010.Praktik pemberian ASI eksklusf hingga usia bayi 6 bulan di DKI Jakarta adalah 8,5% (Dinkes Propinsi DKI Jakarta, 2005).

Rendahnya pemberian ASI merupakan ancaman bagi tumbuh kembang anak yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan kualitas SDM secara umum. Hingga 80% perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan sampai usia 3 tahun yang dikenal dengan periode emas, sehingga sangat penting untuk mendapatkan ASI yang mengandung protein, karbohidrat, lemak dan mineral yang dibutuhkan bayi.

Banyak penyebab yang mempengaruhi rendahnya pemberian ASI eksklusif, pertamaadalah dukungan sosial terutama dari keluarga terdekat yaitu ayah yang masih kurang. Sebenarnya peran keluarga menjadi utama karena ibu bukanlah pelaku tunggal yang bertanggungjawab dalam pemberian ASI eksklusif.  Keluarga terdekatlah dalam hal ini adalah suami yang faktor dominan dalam memberikan dukungan pada ibu dan bayi.

Breastfeeding father merupakan istilah populer bagi ayah yang mendukung dan berperan aktif membantu ibu dalam menyusui sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Begitupun keluarga terdekat lainnya terutama orangtua baik dari pihak ibu maupun ayah sang bayi.

Peran keluarga sangat perlu dioptimalisasi dengan cara diantaranya, mempelajari berbagai strategi atau perilaku keluarga terdekat yang dapat dicontoh dari ibu yang telah berhasil memberikan ASI eksklusif dan disebarluaskan kepada ibu yang baru dalam hal pengalaman menyusuinya ataupun ibu yang mengalami masalah-masalah kesehatan yang sama saat menyusui.

Penyebab yang kedua adalah adanya mitos-mitos negatif tentang menyusui dan ASI yang dipercayai oleh masyarakat dan tersampaikan secara turun menurun sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan pada akhirnya menghentikan pemberian ASI eksklusif. Umumnya para ibu baru akan lebih menuruti perkataan orangtua mereka dan mempercayai nasihat bahkan seringkali mitos negatif tentang menyusui akan turun temurun diwariskan pada anak-anak perempuan mereka yang sedang menyusui.

Terlebih tidak sedikit ibu yang baru menyusui berhenti memberikan ASI karena dipercaya ASI menjadikan anak diare dan tubuhnya menjadi bau amis.  Seringkali kita mendengar kata ‘ASI jahat’ karena ASI yang dihisap bayi baru lahir jika tidak segera dibersihkan mulut bayinya bisa menyebabkan kulit bayi menjadi bercak-bercak putih.  Masih banyak pula ibu yang khawatir payudaranya akan berubah bentuk menjadi tidak menarik lagi jika memberikan ASI pada buah hati mereka.Kesalahpahaman ini yang menyebabkan pada akhirnya ibu memilih memberikan makanan selain ASI walaupun usia bayi belum genap 6 bulan.

Bentuk kesalahpahaman lainnya dalam menyusui adalah pemberian prelaktal madu dan susu formula menggunakan dot kepada bayi baru lahir dan pemberian MP-ASI yang terlalu dini. Selain itu, terdapat kebiasaan yang keliru dalam cara pemberian ASI yang salah/tidak sesuai konsep medis serta adanya berbagai tabu atau pantangan bagi ibu menyusui.  Contoh dari tabu atau pantangan makan yang salah ini adalah adanya larangan mengonsumsi bayam, ikan laut, dan sayur nangka bagi ibu menyusui di daerah Kerinci, bahkan di beberapa daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur.

Di sisi lain masih banyak pula ibu yang berhenti menyusui sebelum bayi berusia 6 bulan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang menyusui, terutama teknik menyusui yang baik dan benar yang menjadi penyebab  ketiga rendahnya ASI eksklusif. Dengan kurangnya pengetahuan ibu menyusui  tentang ASI eksklusif menyebabkan kurangnya motivasi dari ibu untuk memberikan ASI ekslusif kepada bayinya. Dengan pengetahuan yang rendah tentang ASI eksklusif juga menimbulkan kesadaran masyarakat yang juga rendah. Padahal Kemenkes RI beserta jajarannya telah memberikan panduan mengenai cara dan teknik menyusui yang baik namun sosialisasi hal ini masih terbilang rendah.

Teknik menyusui ini antara lain mencakup mengatur posisi bayi saat menyusu dan pelekatan bayi saat meyusu dengan payudara ibu.  Jika hal ini tidak dilakukan dengan benar banyak sekali masalah kesehatan yang akan ditimbulkan terutama masalah penyakit mastitis pada payudara ibu.  Penyakit mastitis diawali dengan lecetnya payudara ibu yang mungkin disebabkan bayi tidak menghisap pada areola (lingkartan hitam pada payudara) ibu namun menghisap hanya pada puting ibu saja.

Untuk mengatasi penyebab kedua dan ketiga, sangat diperlukan gerakan edukasi tentang menyusui dan ASI yang benar pada masyarakat melalui kampanye yang masif dan berkelanjutan melalui berbagai media massa serta kesempatan, sepertipenyuluhan atau pengarahan dari bidan/petugas kesehatan seputar menyusui saat ibu memeriksakan kehamilannya. Gerakan edukasinya ini haruslah didukung oleh semua pihak, pemerintah-swasta-masyarakat, dalam mencetak penerus bangsa yang sehat dan cerdas. Penyebaran informasi yang benar diharapkan akan dapat meningkatkan pengetahuan, motivasi dan prilaku untuk menyusui dan ASI eksklusif di masyarakat.

Penyebab yang keempat dan kelima dari rendahnya ASI eksklusif adalah gencarnya promosi susu formula dan kurangnya dukungan dari masyarakat termasuk institusi yang mempekerjakan perempuan yang belum memberikan tempat dan kesempatan bagi ibu untuk menyusui di tempat kerja.

Promosi susu formula yang sangat gencar (bahkan sampai di RS dan klinik bersalin) memberikan pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi karena merupakan titik awal bagi ibu untuk memilih apakah tetap memberikan bayinya ASI eksklusif atau memberikan susu formula yang diberikan oleh petugas kesehatan maupun nonkesehatan sebelum ASI-nya keluar. Diperlukannya penegakkan peraturan pemerintah yang telah ditetapkan tentang batasan promosi susu formuladan sanksi bagi tenaga kesehatan yang melanggar secara tegas, sehingga ditaati oleh seluruh pihak yang terkait.

Kepada para pemilik perusahaan dan perkantoran, sangat perlu didorong untuk menyediakan tempat khusus dan kesempatan bagi para karyawan perempuannya yang ingin menyusui atau memerah ASI nya di tempat kerja. Begitu pula di tempat-tempatumum seperti pasar, mall, rumah sakit dan rekreasi, perlu disediakan tempat khusus tersebut yang memudahnya ibu untuk menyusui.

Pada akhirnya, diperlukan upaya-upaya nyata untuk meningkatkan prevalensi pemberian ASI eksklusif di Indonesia melaui dukungan seluruh pihak baik ayah sebagai keluarga terdekat atau keluarga lainnya, tenaga kesehatan, konselor ASI, kelompok pemerhati ASI, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap gizi anak bangsa melalui pemberian ASI eksklusif yaitu mulai dari nol hari sampai bayi berusia 6 bulan.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas.

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

9,436 total views, 4 views today