Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

FASYANKES PRO ASI

Data di Indonesia pada  para ibu yang menyusui ASI eksklusif kepada bayinya, ternyata hasil terbanyak adalah para ibu menyusui ASI eksklusif hanya selama 2 bulan. Dan hasil Survey Dasar Kesehatan Indonesia tahun 2002-2003 di wilayah DKI Jakarta didapatkan data hanya 14 % bayi mendapat ASI eksklusif  selama 4-6 bulan.

Kemungkinan penyebab dari ketidakberhasilan pelaksanaan menyusui ASI tersebut adalah informasi yang kurang / tidakbenar tentang ASI dan tatalaksana/penanganan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang kurangmendukung dalam pelaksanaan menyusui ASI. Sehingga sangat perlu didukung dan didorong fasyankes yang pro ASI sebanyak mungkin di lingkungan terdekat masyarakat agar dapat mudah diakses.

Fasyankes yang pro ASI memiliki posisi yang penting dan strategis dalam mendukung keberhasilan menyusui ASI oleh seorang ibu pada bayinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa berhasil atau gagalnya pemberian ASI diawali di fasyankes yang menangani masa kehamilan dan persalinan. Harapan terbesar masyarakat dan pemerintah adalah seluruh fasyankes mendukung keberhasilan gerakan menyusui ASI.

Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan agar setiap fasyankes pro ASI, yaitu :

  1. Fasyankes harus mempunyai kebijakan tertulis tentang menyusui ASI yang mengikuti standar nasional dan internasional.
  1. Fasyankes harus melatih semua staf pelayanan kesehatan dengan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tertulis tentang menyusui ASI.Sehingga idealnya seluruh staf medis maupun non-medis mendapat pelatihan (in house training) tentang manajemen laktasi dan ASI, sesuai dengan tempat kerja dan tingkat pendidikannya.
  2. Fasyankes harus menjelaskan kepada semua ibu hamil dan keluarganya yang datang tentang manfaat dan manajemen ASI.Sehingga perlu dilakukanpenyuluhan secara perorangan atau berkelompokpadasemuaibuhamiltentang ASI eksklusiftermasuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dapat dibuat brosur dan leaflet.
  3. Fasyankes harus membantu ibu-ibu dalam proses persalinan untuk mulai menyusui bayinya dalam waktu setengah jam setelah melahirkan.Dengan melakukan IMD membantu ibu untuksegera menyusui bayinya setelah melahirkan normal atau dengan tindakan, kecuali bila ada kontraindikasi. Pada ibu yang dirawat di ICU setelah persalinan,maka bayinya diusahakan tetap diberi ASI perah atau ASI donor sambil menunggu ibu sehat.
  4. Fasyankes harus memperlihatkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan cara mempertahankannya dengan baik dan benar sampai bayi berusia 2 tahun.Sehingga setelah persalinan, ibu harus diberi penyuluhan& pendampingan mengenai ASI, baik tentang posisi dan pelekatanmenyusui ASI yang optimal, cara memerah ASI dan menyimpannyaserta memberikannya tanpa botol dan dot.
  5. Fasyankes tidak boleh memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir.ASI diberikan sedini mungkin, sesering dan semau bayi. Dan tidak memberikan susu formula pada semua bayi.
  6. Fasyankes harus melaksanakan rawat gabung. Sehingga semua ibu dan bayi akan dirawat gabung kecuali bila ada kontraindikasi.
  7. Fasyankes harus mendukung pemberian ASI kepada bayi tanpa dijadwal.Dan rekomendasi dari American Academt of Pediatrics (AAP) yang perlu diperhatikan adalah susuilah bayi di tahun pertamanya dan susuilah terus selama ibu dan bayi saling menginginkan, semakin lama ibu menyusui ASI kepada bayinya, maka semakin memberikan keuntungan / manfaat bagi ibu dan bayi dari sisi kesehatan dan perkembangannya.
  8. Fasyankes tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi. Sehingga harus mengajarkan pada ibu caramemerah ASI dan memberi ASI dengan cangkir. Bila bayi terpisah dari ibu berikan ASI dengan cangkir atau sendok/pipet/spuit/pipa lambung. Sama sekali tidak membiarkan bayi kontak dengan dot atau kempeng.
  9. Fasyankes berusaha untuk membentuk dan membantu pengembangan kelompok pendukung ibu menyusui.Kelompok ini dibentuk di masyarakat bekerja sama dengan Puskesmas setempat.

Dengan melaksanakan 10 langkah di atas, maka diharapkan fasyankes pro ASI sebagai ujung tombak pelayanan akan dapat meningkatkan keberhasilan menyusui ASI dengan signifikan. Akan memudahkan pula bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi dan ketrampilan yang benar tentang ASI. Maka, para ibu dan bapak ketika selama masa kehamilan dan proses persalinan nantinya, carilah fasyankes (rumah sakit / rumah sakit ibu dan anak / rumah bersalin / balai pengobatan) terdekat dan mudah terjangkau tetapi yang pro ASI tentunya.

Dengan fasyankes pro ASI, marilah kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas.

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

2,248 total views, 1 views today