Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SYAIMA MENANTI OPERASI HIDROSEFALUS DI RST

Parung – Bogor. Syaima (6) hanya bisa terbaring di tempat tidur sambil sesekali merengek dan menangis. Entah apa yang ia rasakan, mungkin hanya orang-orang terdekat yang peka dan dapat merasakan apa yang Syaima rasakan. Syaima yang terlahir prematur di usia 8 bulan dengan diagnosa jantung bocor, paru-paru belum sempurna dan hidrosefalus ini sejak lahir hanya bisa terbaring di tempat tidur tanpa dapat beraktivitas normal seperti anak seusianya.

“Terlahir dengan kondisi seperti itu, saya terus berusaha mengikuti anjuran dokter dengan memberikan makanan yang bergizi untuk Syaima, ditambah dengan obat yang diberikan Alhamdulillah di usia Syaima yang ke 7 bulan dokter menyatakan bahwa jantung Syaima sudah menutup,” ungkap Novi ibunda Syaima.

Kondisi jantung bocor yang sudah membaik, namun masih ada hidrosefalus yang masih menghantui kesehatan anak sulung dari pasangan Lutfi dan Novi ini.

“Sebetulnya sejak dalam kandungan sudah terlihat kelainan pada Syaima. Dokter bilang lingkar kepala Syaima terlihat sedikit lebih besar dari bayi normal,”  tambah Novi.

Berharap anak sulungnya bisa segera mendapatkan tindakan operasi hidrosefalus saat itu setelah kondisi jantungnya membaik namun hal tersebut harus terhalang oleh berat badan Syaima yang waktu itu berusia 7 bulan belum cukup untuk bisa diambil tindakan operasi.

Waktu pun terus berjalan, di usia yang ke 2 tahun hambatan untuk bisa mendapatkan tindakan operasi kembali dihadapi oleh Syaima.

“Waktu itu padahal sudah tinggal maju ke meja operasi saja. Namun 10 hari dirawat di rumah sakit di Solo kondisi Syaima malah menurun. Ia batuk dan pilek enggak kunjung sembuh dan akhirnya dokter menyarankan untuk Syaima dibawa pulang dulu karena takut terkena virus dari pasien lainnya,” jelas Novi.

Gagal untuk operasi, mengakibatkan dana yang dipersiapkan oleh Lutfi dan Novi untuk Syaima ikut habis pula.

“Kami sudah mengusahakan apapun yang kami punya untuk berobat Syaima, dari sejak pengobatan jantungnya sampai untuk biaya operasi Syaima. Tapi mau bagaimana, setelah dipulangkan itu dana untuk operasi Syaima pun habis untuk keperluan pengobatan Syaima,” ungkap Novi.

“ Saya sempat membeli obat-obat herbal atas saran dari tetangga, lalu Syaima juga sempat menjalani terapi, pokoknya semua usaha saya coba namun tidak ada perubahan yang berarti dan tetap jalan satu-satunya adalah operasi,” tambahnya.

Bingung karena kehabisan dana untuk biaya operasi, akhirnya berkat rekomendasi dari seseorang, Lutfi (ayah Syaima) pun mendapatkan bantuan dari Dompet Dhuafa Jawa Tengah dan segera dirujuk ke Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa pada tanggal 12 November 2013 lalu.

Di RST Dompet Dhuafa, Syaima dirujuk kembali ke rumah sakit pemerintah di Jakarta untuk menjalani serangkaian pemeriksaan seperti kontrol ke spesialis anak, spesialis saraf dan radiologi anak.

Selesai menjalani seluruh rangkaian pemeriksaan di rumah sakit tersebut, Syaima pun direncanakan akan menjalani tindakan operasi atas penyakit Hidrosefalus yang dideritanya pada hari Sabtu, 14 Desember 2013 di RST Dompet Dhuafa.

“Kami tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk, untuk kondisi saat ini saja dengan Syaima sudah terbantu untuk dapat dioperasi kami sudah bersyukur, apalagi jika nanti Syaima sudah dioperasi dan kesehatannya membaik tentu kami hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT,” kata Novi.

Saat ini kondisi kesehatan Syaima sendiri relatif baik, ia bersama ayah dan ibunya tinggal menanti waktu operasi.

RST Dompet Dhuafa memohon doa dari para pembaca dan donatur agar operasi Syaima dapat berjalan dengan lancar. Amin..(tie)

Salurkan Donasi Anda untuk Syaima melalui rekening di bawah ini:

Infak (BCA Cab. Pondok Indah 237.304.5454)

Wakaf (Bank Syariah Mandiri 004.013.8118)

2,720 total views, 3 views today