Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

WELCOME TO THE "BATUK-PILEK" SEASON

Oleh: dr. Arifianto, Sp.A

Selepas lebaran, pulang dari mudik, bertemu dengan banyak orang, anak-anak pun rentan jatuh sakit. Batuk-pilek menjadi penyakit langganan pasca liburan. Awalnya sehat-sehat saja, bertemulah anak-anak dengan sepupu-sepupunya atau orang dewasa yang sedang batuk-pilek. Sesampainya di rumah, gejala yang muncul akibat tertular mulai tampak. Batuk grok-grok, terkadang sampai muntah, hidung yang mampet atau bahkan meler, sampai gelisah dan sudah tidur yang berlanjut susah makan, menjadi fakta yang harus dihadapi orangtua. Persis dengan yang saya alami saat ini di rumah dan yang saya temui sehari-hari di ruang praktik. Selamat datang di musim batuk-pilek!

Batuk-pileknya anak pertama pun ternyata berbeda dengan anak kedua. Seingat saya, pertama kalinya si sulung sakit common cold yang disertai demam ketika selepas dari ASI eksklusifnya, yaitu saat berumur lebih dari 6 bulan. Tetapi adiknya lebih dini terkena batuk-pilek untuk pertama kalinya, yaitu ketika berumur sekitar 3 bulan. Mengapa begini? Ya, tidak lain sebabnya karena si adik tertular kakaknya yang lebih dulu mengalami common cold. Anak kedua, ketiga, dan seterusnya memang lebih rentan sakit, karena sudah punya saudara yang bisa jadi teman berbagi infeksi.

Apa yang dilakukan kemudian menghadapi anak batuk-pilek? Anak-anak ini bisa jadi mengalami demam, rewel, kesulitan bernapas lega karena banyaknya ingus atau lendir, dan minta digendong terus. Orangtua yang baik ingin menghilangkan semua keluhan ini bukan? Berikan obat penurun panas, obat batuk-pilek, tetes hidung, diuap, dan digendong tentunya.

Dari semua pilihan yang ada, yang bisa saya lakukan adalah memberikan antipiretik bila demam dan… menggendongnya sampai tertidur. Bagaimana dengan terapi yang lain?

Ada beberapa fakta yang ingin saya sampaikan:

1. Batuk pilek alias common cold atau selesma adalah infeksi virus yang akan sembuh sendiri seiring waktu. Pilek dengan ingus yang berubah warna menjadi kuning-hijau-coklat adalah akibat bakteri normal saluran napas atas yang sama sekali tidak membutuhkan antibiotik. Batuk grok-grok hingga muntah tanpa disertai sesak napas juga tidak mengindikasikan pneumonia, sehingga lagi-lagi tidak membutuhkan antibiotik.

2. Tidak ada satupun obat pereda gejala batuk-pilek yang efektif untuk anak. Obat penekan refleks batuk seperti kodein dilarang digunakan, karena menghalangi keluarnya lendir yang berpotensi menyebabkan sesak napas. Obat pilek berisi pseudoefedrin berpotensi menyebabkan jantung berdebar-debar dan anak menjadi gelisah. Obat pengencer dahak semacam ambroksol atau bromheksin percuma saja diberikan, karena sekalipun dahak menjadi encer, anak di bawah 6 tahun umumnya belum bisa membuang dahak secara sengaja. Mereka akan menelan dahak atau kemudian memuntahkannya. Seringkali anak menjadi muntah setelahnya.

Badan pengawas obat di Amerika (FDA) menekankan penggunaan obat pereda gejala batuk-pilek harus sangat berhati-hati dan diijinkan khususnya di atas usia 6 tahun, meskipun anak usia ini juga tidak terlalu membutuhkan obat batuk-pilek.

3. Penggunaan obat tetes hidung untuk mengencerkan ingus boleh saja diberikan, meskipun tidak lama kemudian anak bisa kembali mampet, dan tidak ada anak yang merasa nyaman ditetesi/disemprot hidungnya.

4. Tidak jarang anak batuk-pilek pergi ke dokter dan diuap (inhalasi). Niatnya untuk membantu mengencerkan dahak. Bisa jadi beberapa saat setelah diinhalasi, anak merasa nyaman. Tapi sesampainya di rumah, lendir kembali mengumpul dan batuk grok-grok terdengar nyaring. Apakah dengan demikian anak batuk-pilek harus diinhalasi sekian kali per hari. Fakta yang saya punya: terapi inhalasi ditujukan untuk serangan asma, bukan common cold. Saya juga berpendapat anak-anak yang diinhalasi mudah mengeluarkan dahaknya karena muntah akibat menangis ketakutan tidak suka mendengarkan suara bising mesin inhalasi dan asap yang dikeluarkannya. Jadi… buatlah anak menangis supaya muntah dan mengeluarkan dahaknya. Hehe…

Tidak ada anak yang meninggal karena common cold, karena sebanyak-banyaknya lendir, anak tidak sesak. Yang ada adalah anak meninggal karena pneumonia. Terapi pneumonia bukan diinhalasi, tetapi dirawat dan mendapatkan oksigen.

5. Boleh saja memberikan balsam untuk menghangatkan dada, air madu hangat, jeruk nipis atau ramuan rumahan lainnya. Semuanya membantu membuat anak nyaman, tetapi tidak menyembuhkan penyebabnya.

6. Antipiretik sejenis parasetamol sebenarnya lebih bertujuan membuat anak nyaman, bukan menurunkan suhu tubuhnya semata. Jadi jangan panik bila anak memuntahkan parasetamol setelah diberikan. Tubuh akan menurunkan sendiri suhu tubuh, karena punya termostat canggih.

Di balik semua ini, semua gejala yang ada tentunya Alloh ciptakan dengan tujuan. Demam timbul sebagai reaksi tubuh menghadapi infeksi virus agar tidak mudah berkembang biak. Bila saatnya turun, tubuh akan menurunkan sendiri suhunya. Demam baik kan?

Batuk bertujuan mengeluarkan dahak berisi kuman agar tidak menumpuk dan membuat sesak. Ingus berisi kuman yang seharusnya dikeluarkan tubuh juga. Muntah membuang bahan yang tidak seharusnya berada dalam tubuh. Segala sesuatu memang diadakan dengan tujuannya.

Bagi saya pribadi di ruang praktik, batuk-pilek termasuk penyakit yang paling sulit. Tidak jarang saya butuh 30 menit untuk meyakinkan orangtua bahwa common cold akan sembuh sendiri dan tidak butuh obat apapun. Batuk-pilek juga bisa berlangsung lebih dari 2 minggu, terutama bila ada orang lain di rumah yang sakit serupa. Ping-pong istilahnya. Kadang-kadang saya menangkap ekspresi kecewa di wajah orangtua. But the truth must be told. It’s my opinion.

Kembali ke kenyataan, saya harus menghadapi si sulung yang batuk dan muntah berulang-ulang, sehingga asupannya sangat berkurang. But it’s just a common cold anyway. It’s self-limiting. Sembuh sendiri akhirnya, insyaAlloh. Dan… jangan lupa berdoa untuk kesembuhan anak kita. Kesembuhan hanya datang dari Sang Maha Penyembuh.

2,130 total views, 8 views today