Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

ASMA + BRONKITIS = TUBERKULOSIS!

Oleh : dr.Arifianto, Sp.A

Gadis kecil itu tampak cantik dengan setelan sleepsuit berwarna pink. Begitu memasuki ruang praktikku, matanya menjelajah seisi ruangan yang berisi lemari masak-masakan berukuran satu setengah meter persegi, sebuah tempat tidur periksa berbentuk bis mainan setinggi satu meter, lemari status yang memenuhi satu sisi ruangan, dan meja tempatku menganamnesis pasien. Tanpa ragu-ragu, ia melangkah masuk. Cara berjalannya mantap, menunjukkan sudah lama ia lancar berjalan. Mendadak bocah itu menghentikan langkahnya dan duduk. Ia mengambil seperangkat teko mainan yang terletak di lantai. Pasien anak sebelumnya tidak meletakkan mainan ini di posisi seharusnya. Tergeletak, berantakan di lantai, bersamaan dengan mainan-mainan lainnya.

“Saya datang ke sini untuk meminta second opinion dari Dokter.” Ibu sang bocah mengawali pembicaraan. Matanya menatap tajam kedua mataku. Aku membalas tatapannya. “Saat anak saya berumur 9 bulan, saya pergi ke dokter. Katanya anak saya kena asma bronkitis.”

Kena apa, Bu?” Aku merasa tidak jelas mendengar ucapannya.

“Asma bronkitis.”

“Maaf Bu? Asma dan bronkitis?” Kali ini aku merasa harus benar-benar mengulang pertanyaanku.

“Ya, asma bronkitis. Waktu itu dokter bertanya ke suami saya, apakah Bapak punya asma? Suami saya bilang iya. Dokter kemudian meresepkan obat yang diminum anak saya sampai sekarang. Sudah 6 bulan ia minum. Minggu yang lalu saat kontrol ke dokter ini, anak saya diminta untuk memperpanjang lagi pengobatannya sampai satu tahun lamanya. Makanya saya sekarang mau minta pendapat Dokter tentang hal ini.”

Kalimatnya berurut rapi dan jelas terdengar kali ini. Tiba-tiba tenggorokanku terasa tercekat. Seperti asam lambung yang naik ke dada. Secara refleks aku menginterpretasi ceritanya.

“Obatnya diminum sampai 6 bulan.. Kencing anaknya jadi berwarna merah ya?” Aku bertanya pada si ibu sambil terus menatap anaknya yang bermain di lantai. Sesekali kulihat senyum merekah dari mulut mungil gadis kecil ini. Giginya sudah ada empat buah.

“Betul Dok.”

“Berarti anak Ibu diobati sebagai te-be-se ya, tuberkulosis.”

“Itu yang mau saya tanyakan. Adik saya bilang seperti ini. Makanya dia yang menyuruh saya datang ke Dokter.”

Ibu ini tidak berdua saja dengan anaknya di ruang praktikku. Suaminya menemani di sampingnya. Tepat di hadapanku. Bapak ini belum mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum simpul.

“Saya sebenarnya ragu untuk memberikan obat-obatan ini ke anak saya. Karena menurut saya anak saya baik-baik saja. Tapi suami saya minta agar mengikuti saran dokter tersebut.” Ia melirik suaminya, setengah cemberut.

“Iya Dok, saya sendiri juga merasa saat ini anak saya baik-baik saja. Tetapi kenapa Dokter masih minta kami untuk meneruskan obat pada anak saya ya?” Sang Ayah akhirnya angkat bicara. Tangan kanannya menyodorkan selembar kertas salinan resep yang jelas tertulis tiga macam obat yang diracik menjadi satu puyer, dan satu merek sirup vitamin. “Dokter juga sempat memberi suntikan di bokong anak saya tiap hari selama satu minggu. Isinya vitamin untuk menguatkan paru-paru. Begitu katanya.”

Aku diam, mengatur napas selama beberapa detik, kemudian melanjutkan menganamnesis.

Anak ini awalnya dibawa orangtuanya pergi ke sebuah klinik di sebuah bilangan Jakarta atas rekomendasi teman mereka. Di mata ayah dan ibunya, badan si anak kecil. Mereka ingin memeriksakan kondisi kesehatan sang anak. Klinik yang mereka datangi sebenarnya bukan klinik khusus anak. Dokternya pun bukan dokter spesialis anak.

“Dokternya sudah tua. Profesor dokter siapa lah namanya. Yang memberikan obat pun bukan si dokter, tetapi anaknya. Yang saya heran, anak saya tidak diperiksa lengkap, dibuka seluruh pakaiannya, dilihat dengan teliti. Tetapi hanya dipegang lehernya, dikatakan ada 5 buah benjolan yang teraba, dan harus diobati. Sakitnya asma bronkitis.” Pasangan istri-suami ini melengkapi kisahnya.

Anak ini sama sekali tidak pernah mengalami keluhan layaknya seseorang yang dicurigai mengalami tuberkulosis (TB) paru. Tidak pernah ada demam lebih dari 2 minggu, tidak pernah mengalami batuk berkepanjangan (meskipun batuk bukan gejala utama TB pada anak), berat badannya naik terus meskipun tidak banyak, nafsu makannya baik, ibunya memberikan ASI sampai sekarang, dan perkembangannya normal. Kedua orangtuanya pun menyangkal adanya orang dewasa di rumah mereka yang dicurigai atau mengalami TB paru. Saat kuplot berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepalanya di kurva pertumbuhan WHO, memang berada di persentil 15 – 50. Tapi kenaikannya selalu mengikuti kurva. Artinya anak ini tumbuh dengan baik. Tidak ada satu alasan pun untuk mencurigai TB pada anak ini. Apalagi memberikannya obat-obatan anti TB yang semuanya berpotensi merusak hati. Dan yang cukup mengiris hatiku: dokter tidak pernah mengatakan diagnosis TB pada mereka. Apa yang dokter katakan? Asma bronkitis. Asma bukan, bronkitis apalagi!

Selama empat tahun terakhir, aku melihat bagaimana reaksi para orangtua ketika mereka diberikan ceramah umum mengenai TB pada anak. Kami mengajarkan mereka untuk mengetahui apakah TB itu? Bagaimana patogenesis penyakitnya. TB adalah penyakit menular, bukan penyakit keturunan.  Bahkan mereka memahami mengenai sistem skoring TB pada anak yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan WHO. Para orangtua sudah banyak yang mengerti betul apa itu uji tuberkulin (tes Mantoux) dan perannya dalam mendiagnosis TB pada anak. Mereka juga tahu bahwa pemeriksaan foto dada pada anak yang dicurigai TB harus menggunakan dua posisi: antero-posterior (AP) dan lateral, tidak cukup AP saja.

Di sisi lain, masih banyak orangtua yang tidak mengetahui apa itu TB. Beberapa mengeluhkan padaku anaknya sudah mendapatkan obat anti TB (OAT) selama 6 bulan atas dasar diagnosis yang tidak jelas. Mereka belum mengerti saat itu. Mereka khawatir akan perkataan dokter mengenai “flek paru”, sehingga mereka mengikuti instruksi dokter untuk memberikan OAT. Aku pernah mendapatkan beberapa kasus gangguan fungsi hati akibat penggunaan OAT. Pemberian OAT yang sesuai indikasi saja berpotensi merusak hati, apalagi yang tidak sesuai indikasi! Sayangnya kejadian gagal hati akibat efek samping OAT (drug-induced hepatitis) ini jarang diangkat ke masyarakat umum, sehingga praktik men-TB-kan anak tanpa dasar diagnosis yang jelas masih cukup banyak, dan pemberian OAT yang tidak sesuai indikasi masih umum.

Mendiagnosis TB pada anak sangat-sangat tidak mudah. Kalau perlu dokter spesialis anak merujuknya pada konsultan paru anak bila kriteria diagnosisnya masih belum terpenuhi. Memutuskan untuk memberikan OAT pada anak seharusnya dipikir-pikir dulu beberapa kali. Dokter juga harus jujur dalam menginformasikan diagnosis pada pasien. Asma, bronkitis, atau tuberkulosis? Pasien makin cerdas dan kritis saat ini. Jangan remehkan konsumen kesehatan. Alih-alih dokter yang terkena tuntutan.

Akhir cerita, kuputuskan untuk menghentikan semua OAT yang pernah diberikan. Vitamin pun tidak perlu. Anak ini makan sayur dan buah cukup baik. Ketika ayahnya bertanya, bagaimana dengan obat-obatan yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuhnya? Kujawab alhamdulillah, sampai saat ini tampaknya tidak ada efek samping yang terjadi. Semoga ini jadi pelajaran buat Bapak-Ibu dalam menangani masalah kesehatan anaknya di masa datang. Pekerjaan untuk mengedukasi konsumen kesehatan masih belum berakhir.

2,892 total views, 1 views today