Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

KUSTA BISA SEMBUH DAN DICEGAH

Sampai saat ini penyakit kusta masih ditakuti oleh sebagian besar masyarakat. Keadaan ini terjadi karena pengetahuan yang kurang, pengertian yang salah, dan kepercayaan yang keliru tentang penyakit kusta dan kecacatan yang ditimbulkannya.

Padahal, berkat kemajuan teknologi pengobatan dan pemanfaatan teknologi komunikasi mutakhir, seharusnya penyakit kusta sudah dapat diatasi dan tidak menjadi masalah kesehatan lagi.Penjelasan dari Menkes di tahun 2010, secara nasional, Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta tahun 2000. Tapi sampai saat ini Indonesia masih menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai penyumbang pasien baru kusta terbanyak. Masih ada 14 propinsi dan 150 kabupaten yang belum mencapai eliminasi dan yang harus lebih intensif dalam pelaksanaan program kusta. Sedangkan propinsi dan kabupaten yang sudah mencapai eliminasi masih perlu tetap memberikan komitmennya untuk mempertahankan status eliminasinya dengan melakukan kegiatan pemberantasan kusta secara rutin. 

Penyakit kusta atau lepra (leprosy) atau disebut juga Morbus Hansen (MH), adalah sebuah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini merupakan  penyakit yang terutama menyerang saraf perifer / saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas dengan lesi kulit (gambaran luka di kulit) adalah tanda utama yang dapat dengan mudah dilihat. Meskipun  penyakit kusta termasuk infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah.

Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa kanak-kanak. Kuman Mycobacterium leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tandatanda seseorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Apabila tidak diobati, penyakit kusta dapat bersifat progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota badan dan mata. Penyakit kusta tidak secara langsung menyebabkan bagian tubuh jatuh pada kemauan mereka sendiri, melainkan mereka menjadi cacat atau amputasi dengan sendirinya sebagai akibat dari gejala penyakit.

Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk. Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang. Indonesia dikenal sebagai satu dari tiga negara yang paling banyak memiliki penderita kusta. Dua negara lainnya adalah India dan Brazil.

Kelompok yang berisiko tinggi terkena penyakit kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Perlu diketahui beberapa tanda secara umum seseorang menderita penyakit kusta yaitu adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia, pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak, adanya pelebaran pada syaraf, kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat. adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit, alis rambut rontok, muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa), ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi.

Penyakit kusta dibagi dalam dua tipe, yaitu Pertama,  kusta tipe Pausi Bacillary (PB) atau disebut juga kusta kering adalah bilamana ada bercak keputihan seperti panu dan mati rasa atau kurang merasa, permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh rambut/bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat. Ada kerusakan saraf tepi pada satu tempat, hasil pemeriksaan bakteriologis negatif (-), Tipe kusta ini tidak menular.

Kedua, kusta tipe Multi Bacillary (MB) atau disebut juga kusta basah adalah bilamana bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat, kerusakan banyak saraf tepi dan hasil pemeriksaan bakteriologi positif (+). Tipe seperti ini sangat mudah menular.Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain :

1. Faktor Kuman Kusta

Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh (solid) bentuknya, lebih besar kemungkinan menyebabkan penularan daripada kuman  yang tidak utuh lagi. Mycobacterium leprae bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan panjang 1-8 mikron dan lebar 0,2-0,5 mikron, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin. Kuman kusta dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1 sampai 9 hari tergantung suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta  yang utuh (solid) saja dapat menimbulkan penularan.

2. Faktor Imunitas
Sebagian manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang yang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit. Hal ini belum lagi mempertimbangkan pengaruh pengobatan.

3. Keadaan Lingkungan

Keadaan rumah yang berjejal yang biasanya berkaitan dengan kemiskinan, merupakan faktor penyebab tingginya angka kusta. Sebaliknya dengan meningkatnya taraf hidup dan perbaikan imunitas merupakan faktor utama mencegah munculnya kusta.

4. Faktor Umur

Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi. Incidence Rate penyakit ini meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10 sampai 20 tahun dan kemudian menurun. Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak umur 30 sampai 50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun.

5. Faktor Jenis Kelamin

Insiden maupun prevalensi pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita, kecuali di Afrika dimana wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Faktor fisiologis seperti pubertas, monopause, Kehamilan, infeksi dan malnutrisi akan mengakibatkan perubahan klinis penyakit kusta.

Upaya pencegahan penyakit kusta yang saat ini paling tepat dan utama adalah dengan  pengobatan pasien kusta yang ditemukan. Pengobatan yang tuntas dan adekuat adalah faktor yang amat penting agar penyakit kusta dapat dihancurkan, sehingga terjadi pemutusan mata rantai penularan dan akhirnya penularan dapat dicegah.

Selain faktor pengobatan, untuk mencegah penularan hal penting yang perlu diperhatikan adalah perlunya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab. Hal tersebut berdasarkan pengetahuan bahwa kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati.

Di Indonesia beberapa upaya yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit kusta adalah melalui penemuan pasien kusta secara dini, pengobatan pasien kusta dengan menggunakan multiobat (Multi Drug Therapy/MDT) di sarana kesehatan yang memadai seperti Puskesmas dan Rumah Sakit, penyuluhan kesehatan tentang kusta kepada masyarakat secara langsung dan tidak langsung melalui media, peningkatan ketrampilan petugas kesehatan di bidang kusta dan rehabilitasi pasien kusta.

Diperlukannya kemitraan jajaran kesehatan dengan lintas sektor terkait dan juga dengan mantan pasien kusta. Para mantan pasien kusta  dapat membantu  penemuan kasus kusta sedini mungkin dan dalam pelaksanaan sosialisasi penyakit kusta secara  benar. Sehingga para pasien kusta dapat ditemukan dan diobati sedini mungkin untuk mencegah kecacatan.

Ditulis oleh dr. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa)

2,187 total views, 2 views today