Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SEPASANG ALAT BANTU DENGAR UNTUK ADIT DAN SALSA

Parung-Bogor. Usianya masih belum genap 2 tahun, namun Aditya Putra harus mengalami kenyataan pahit atas diagnosa Tuli Sensorineural (kondisi tuli yang berat dan terjadi pada dua telinga) oleh dokter spesialis THT di sebuah rumah sakit milik pemerintah di Jakarta.

Gangguan dengar saraf/tuli sensorineural merupakan gangguan dengar akibat kerusakan saraf pendengaran, yaitu terdapat kelainan pada koklea (telinga dalam), nervus vili atau di pusat pendengaran. Gangguan dengar ini berhubungan dengan urat syaraf yang disebabkan oleh rusaknya sel-sel rambut dan sel-sel syaraf yang merespon gelombang suara. Gangguan pendengaran sensoris ini hampir selalu menetap dan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berbicara normal.

Esy Sukesy ibunda Adit pun baru menyadari adanya gangguan pendengaran pada anaknya saat Adit berusia kurang lebih satu tahun.

“Saat itu saya melihat kok ada yang berbeda dengan Adit dibandingkan teman-teman seusianya. Temannya yang lain sudah bisa ngomong sesuatu tapi kenapa Adit belum,” ungkapnya.

“Selain itu jika dipanggil pun Adit tidak menengok,dan baru akan menengok saat kita colek,” tambah Esy.

Melihat perbedaan pada diri anaknya, dengan kartu peserta yang dimiliki akhirnya Esy pun membawa Adit untuk berobat ke Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa dan segera mendapatkan rujukan ke rumah sakit milik pemerintah di Jakarta.

Disana Adit menjalani serangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis THT dan hasilnya dokter pun menyarankan agar Adit diberikan alat bantu dengar untuk berkomunikasi.

“Saat itu saya memang kurang paham atas penjelasan dokter, yang saya mengerti Adit membutuhkan alat bantu dengar,” ucapnya.

Saat itu pun sempat terpikir di benak Esy tentang harga alat bantu dengar yang cukup mahal tersebut. Ayah Adit yang berprofesi sebagai tukang kayu dengan penghasilan tidak menentu hanya dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

“Bapak kalau lagi ada pekerjaan ya bekerja, tapi kalau tidak ada yang tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang,” ungkapnya.

Begitu besar doa dan harapan yang Esy panjatkan untuk anak bungsunya ini.

“Saya ingin sekali Adit bisa bicara, bisa mendengar seperti anak-anak normal pada umumnya. Kasian saya melihat Adit, bagaimana dia jika sudah besar nanti“ ucap Esy.

Setali tiga uang dengan Adit, hal yang sama pun dialami oleh Salsabila Banuwati (8). Salsa begitu panggilan akrabnya juga harus mengalami gangguan pendengaran sejak kecil. Orangtua Salsa baru menyadari ada hal yang berbeda dari anaknya saat Salsa berusia 3 tahun.

“Baru waktu Salsa usia 3 tahun saya sadar kalau Salsa mengalami gangguan pendengaran,” ucap Budi ayah Salsa.

Sama halnya seperti Adit, orangtua Salsa pun baru menyadari saat teman-teman seusianya sudah menunjukkan banyak perkembangan dalam hal verbal.

“Saat itu Salsa baru menoleh saat saya colek saja. Sebetulnya saat masih kecil sempat keluar kata-kata dari mulut Salsa seperti “maem” dan “tidak mau”, tapi sekarang tidak lagi, “tambah Budi.

Melihat ada gangguan pendengaran pada anaknya Budi pun segera membawa Salsa ke dokter di salah satu rumah sakit milik pemerintah di Jakarta. Namun besarnya biaya pemeriksaan sempat membuat Budi putus asa.

“Saya sempat putus asa saat itu, tapi saya terus berusaha untuk menabung sampai di tahun berikutnya saya dapat membawa Salsa untuk berobat kembali di tempat yang berbeda,” ucap Budi.

Mendapatkan pemeriksaan di tempat yang berbeda, dokter pun akhirnya menyarankan Salsa untuk segera memakai alat bantu dengar.

“Mendengar bahwa anak saya harus menggunakan alat bantu dengar, saya bingung juga uangnya dari mana untuk membeli alat yang mahal itu,” ungkap Budi.

Pada awalnya Budi pasrah dengan keadaan Salsa namun berkat bantuan dari adiknya yang mengetahui keberadaan Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, akhirnya Budi mencoba untuk mendaftarkan diri dan lolos menjadi member.

Salsa pun akhirnya dirujuk ke salah satu rumah sakit milik pemerintah di Jakarta. Disana Salsa menjalani pemeriksaan ulang dan didiagnosa menderita penyakit yang sama seperti Adit yaitu Tuli Sensorineural.

Sama seperti Esy, harapan serupa pun dilontarkan oleh ibunda Salsa.

“Semoga Salsa bisa segera mendapatkan alat bantu dengar itu agar bisa membantu kehidupan sehari-harinya nanti seperti anak-anak normal lainnya,” ungkap ibu Salsa.

Kami menggugah hati anda untuk dapat membantu Aditya dan Salsabila mendapatkan alat bantu dengar yang sangat mereka butuhkan.

Perkiraan kebutuhan biaya untuk empat buah alat bantu dengar tersebut adalah ± Rp 24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah). (tie/yhm)

Salurkan Donasi Anda melalui rekening di bawah ini:

BCA Cab. Pondok Indah 237.304.5454 an Yayasan Dompet Dhuafa Republika

2,728 total views, 1 views today