Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

KETIKA ANAK TERJANGKIT TB

Hari TB sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Maret, di mana momen ini sekaligus juga memperingati ditemukannya kuman (bakteri) penyebab TB oleh Dr. Robert Koch pada tahun 1882 yang membuka jalan bagi penemuan metoda diagnosis dan penyembuhan.

Penyakit TB sampai dengan saat ini masih merupakan masalah epidemik di seluruh dunia, mengakibatkan tidak kurang dari jutaan orang, terutama di wilayah negara yang sedang berkembang, meninggal dunia setiap tahunnya.

TB adalah suatu penyakit infeksi yang menular dan disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberkulosis). Penyakit TB dapat diderita oleh siapa saja, orang dewasa atau anak-anak dan dapat mengenai seluruh organ tubuh kita manapun, walaupun yang terbanyak adalah organ paru.

Sampai saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TB. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman TB di dunia ini pun tinggi. Pada tahun 2009, di dunia terdapat 1,7 juta orang meninggal karena TB (600.000 diantaranya perempuan) sementara ada 9,4 juta kasus baru TB (3,3 juta diantaranya perempuan). Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55 tahun).

Laporan mengenai TB Anak jarang didapatkan, namun diperkirakan jumlah kasus TB Anak per tahun adalah 5 % sampai 6 % dari total kasus TB. Di negara berkembang, TB pada anak berusia

TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru, dengan perbandingan 3:1. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun.

Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). Sebagian besar anak yang terinfeksi M. tuberculosis tidak menjadi sakit selama masa anak-anak. Satu-satunya bukti infeksi mungkin hanyalah tes tuberkulin kulit yang positif.

Gejala utama penyakit TB yang perlu dikenali pada orang dewasa (di atas usia 14 tahun) adalah batuk yang disertai berdahak dan sudah terjadi lebih dari 2 pekan atau sering disebut dengan 3B (bukan batuk biasa). Dan sering pula disertai gejala tambahan lainnya seperti adanya rasa sesak, nafsu makan yang berkurang, berat badan yang turun dan keringat pada malam hari walaupun sedang tidak beraktifitas.

Gejala utama yang harus dikenali pada anak yang dicurigai menderita TB adalah berat badan yang tidak naik-naik atau cenderung menurun dalam 3 bulan berturut-turut, hal ini dapat dilihat dari KMS (kartu menuju sehat) yang sering digunakan saat penimbangan berat badan di Posyandu. Biasanya gejala tambahan yang sering ditemukan pada anak yang dicurigai TB adalah sering batuk dalam waktu yang lama dan demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas serta susah makan.

Ketika seseorang dicurigai menderita TB (baik dewasa maupun anak), sebaiknya segera ke Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya seperti TB Center LKC Dompet Dhuafa agar dapat dilakukan pemeriksaan diagnosis penyakit TB. Pemeriksaan ini sangatlah penting untuk dilakukan dalam memastikan apakah seseorang yang dicurigai menderita TB adalah benar penderita TB dan akan dilakukan pengobatan khusus dalam waktu yang cukup lama (6-8 bulan).

Pemeriksaan yang akan dilakukan pada anak yang dicurigai TB meliputi Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Test Tuberkulin (dikenal dengan sebutan Mantoux test) serta Foto Rongent apabila diperlukan. Dalam anamnesis, akan ditanyakan kepada orangtua si anak beberapa hal, yaitu :

• Apakah ada keluarga atau tetangga yang dewasa dan dekat rumah yang sakit TB ?

• Apakah si anak mengalami penurunan berat badan atau berat badannya tidak naik-naik ?

• Apakah si anak sering mengalami demam dan batuk ?

• Apakah si anak pernah di imunisasi BCG sebelumnya ?

Kemudian akan dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh kepada si anak, terutama untuk melihat apakah terjadi pembesaran pada kelenjar limfenya. Dan pada si anak akan dilakukan pemeriksaan test tuberkulin, yaitu dengan menyuntikkan 0,1 ml tuberkulin PPD intrakutan di bagian lengan bawah. Reaksi akan dilihat 48 – 72 jam setelah penyuntikan dan hasil test tuberkulin dinyatakan positif, maka menunjukkan adanya infeksi TB. Pemeriksaan radiologis (foto rongent) biasanya dilakukan setelah anak diuji dengan test tuberkulin dan hasil yang di dapatkan positif.

Setelah dilakukan rangkaian pemeriksaan pada anak dan ternyata dinyatakan sakit TB, maka tenaga medis akan melakukan pengobatan TB sampai sembuh. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diberikan dalam bentuk paket (Kombipak atau FDC) di Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya seperti RST dan LKC Dompet Dhuafa.

Pada saat bersamaan, harus dilakukan pula pemeriksaan pada orang dewasa yang ada di sekitar pasien TB Anak untuk mencari sumber penularnya. Karena yang bisa menularkan TB pada anak adalah pasien TB Dewasa, terutama yang ditemukan kuman TB pada dahaknya saat pemeriksaan di laboratorium. Pasien TB Anak sulit untuk menularkan TB kepada anak lainnya, sehingga tidak perlu diasingkan atau dijauhi.

Pengobatan TB Anak diberikan untuk waktu yang lama (6-9 bulan) dan harus didampingi oleh orangtuanya atau keluarga lainnya sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) Di mana PMO ini bertugas memastikan pasien TB Anak minum OAT setiap hari dan kontrol secara rutin ke Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya, sehingga TB nya dinyatakan SEMBUH.

Beberapa upaya pencegahan TB Anak yang dapat dilakukan yaitu, pertama, dengan mengobati semua pasien TB Dewasa sampai sembuh, sehingga tidak menjadi sumber penularan lagi di lingkungan sekitarnya. Kedua, dilakukan imunisasi BCG dengan tujuan memberikan kekebalan pada Anak dan mengurangi resiko terkena TB yang berat (seperti infeksi TB di syaraf kepala).

Lalu ketiga, pemberian asupan makanan yang bergizi cukup dengan jumlah dan jenisnya sehingga daya tahan tubuh anak maksimal. Dan keempat, perlunya pengetahuan dan pendidikan kesehatan yang benar dan tepat tentang TB pada keluarga dan masyarakat sehingga terbiasakanlah prilaku hidup bersih dan sehat.

Ditulis oleh : dr. Yahmin Setiawan, MARS. (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa).

1,975 total views, 2 views today