Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

NAFAS "NGIK-NGIK" KARENA ASMA

Asma bronkial atau yang kerap kita sebut dengan sebutan ASMA adalah penyakit peradangan kronis/lama yang terjadi pada saluran napas kita dengan gejala batuk, sesak, nyeri dada dan mengi (keluarnya bunyi “ngik-ngik” saat bernafas) yang bisa terjadi secara berulang.

Asma sudah dikenal sejak jaman 450 SM dan banyak ditemukan di semua populasi manusia di dunia. Sekitar 10% populasi di Indonesia mengidap asma atau dengan kata lain, pada setiap 10 orang terdapat 1 pasien asma.

Secara umum, tidak seperti penyakit lainnya, asma adalah keadaan yang reversibel/dapat kembali seperti semula. Namun jika tidak diobati, asma dapat menyebabkan peradangan saluran napas yang menahun dan tidak dapat kembali seperti semula.

Asma timbul karena faktor genetik / keturunan dan lingkungan. Asma tidak dapat timbul semata – mata hanya karna faktor lingkungan , namun juga harus di latar belakangi oleh adanya bawaan/keturunan yang memiliki asma. Asma juga erat hubungannya dengan alergi. Orang yang memiliki bawaan alergi seperti sering bersin di pagi hari, sering gatal – gatal jika makan/ minum sesuatu / terkena debu dan kotoran memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena asma.

Dengan kata lain, asma merupakan salah satu penyakit yang tidak bisa dihilangkan, namun bisa diusahakan untuk dikendalikan agar tidak sering muncul pada pasiennya. Sehingga pasien asma dapat hidup dengan normal dan melaksanakan aktifitas kesehariannya sama seperti orang lainnya.

Beberapa  faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi timbulnya asma pada anak dan dapat memicu timbulnya serangan asma, seperti  asap rokok, polusi udara,batuk pilek berulang, dan stres.

Secara umum, serangan asma dapat berupa sesak, sakit dada dan mengi (bunyi nafas “ngik-ngik”). Namun juga dapat berupa batuk – batuk yang berkepanjangan. Pada saat serangan yang lama ditangani, pasien dapat menjadi biru karena kekurangan asupan oksigen. Serangan asma dapat timbul karna dipengaruhi oleh berbagai pemicu seperti debu, kutu, bulu binatang, serangga, parfum, dan saat batuk/pilek. Menurut penelitian yang banyak dilakukan, kekambuhan seringnya serangan asma juga dapat dipengaruhi oleh kebersihan lingkungan dan faktor sosioekonomi.

Ketika terjadi serangan asma, pada saluran nafas kita terjadi 3 hal sebagai berikut :

  1. Peradangan yang menimbulkan pembengkakan (oedeme)
  2. Produksi (sekresi) lendir meningkat yang menimbullkan penumpukan
  3. Sehingga saluran nafas menjadi terasa sempit

Ketiga hal tersebutlah yang memunculkan gejala-gejala berupa sesak, nyeri dada dan mengi pada pasien asma ketika mengalami serangan. Gejala-gejala tersebutlah yang sering menyebabkan pasien asma mengalami gangguan dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya.

Biasanya gejala ini didapati pada pagi atau malam hari, pada udara dingin atau pada saat berolahraga. Timbulnya gejala – gejala ini sangat bervariasi pada setiap penderita asma. Serangan asma bisa terjadi dari sangat ringan sampai mengancam jiwa.

Target utama pengobatan asma adalah pencegahan timbulnya serangan asma. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghindari faktor penyebab timbulnya asma. Untuk itu, sangat penting bagi kita untuk mengidentifikasi pemicu pada penderita asma dan menghindarinya.

Pada saat serangan asma, pengobatannya adalah pemberian obat pelega saluran nafas (bronkodilator) yang dapat berbentuk obat yang diminum/dihirup untuk meredakan serangan dan obat pengencer lendir yang  berbentuk obat yang diminum (tablet atau sirup) agar lendir yang menumpuk menjadi encer dan dapat dikeluarkan melalui batuk. Seringkali, dokter memberikan pula  obat anti peradangan (steroid) untuk meredakan peradangan dan pembengkakan. Jika serangan tidak membaik, maka penderita harus segera dirujuk untuk medapatkan penanganan yang lebih intensif di rumah sakit.

Tergantung pada derajatnya, pada penderita yang cukup parah dengan angka kekambuhan yang tinggi, diberikan pengobatan jangka panjang yang wajib diminum oleh pasien asma sesuai anjuran dokter.Dianjurkan sekali pada pasien asma untuk menghindari asap rokok (perokok aktif atau pasif).

#dari berbagai sumber

Oleh dr. Yahmin Setiawan, MARS (Dirut RST Dompet Dhuafa)

 

1,951 total views, 1 views today