Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

ULFA INGIN BEBAS DARI GIZI BURUK

Parung – Bogor. Gizi buruk masih menjadi momok yang menghantui jutaan anak di Indonesia. Entah kapan masalah ini dapat terentaskan. Hal tersebut seperti yang dialami oleh balita kecil bernama Ulfa (2.5 tahun) ini sedang terbaring lemah di tempat tidur dan diberi susu melalui sendok oleh ibunya saat kami temui di ruang rawat inap anak Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, Kamis (3/4). Siapa yang mengira Ulfa pun didiagnosa menderita penyakit yang sampai dengan saat ini selalu mengintai anak-anak di Indonesia yaitu gangguan gizi / malnutrisi berupa gizi buruk.

Ulfa masuk ke RST Dompet Dhuafa sejak tanggal 25 Maret 2014 lalu. Pada saat masuk di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RST, Ulfa mengalami dehidrasi berat yang diakibatkan oleh diare yang diderita tiga hari sebelumnya. Selain itu, badan Ulfa pun panas, terdapat bengkak pada tangan dan kakinya sejak 1 minggu yang lalu sesak, batuk disertai dengan susah makan dan minum.

Pasca mendapatkan pemeriksaan dari dokter, Ulfa didiagnosa menderita penyakit gangguan gizi berupa Marasmus Kwashiorkor dan Suspect Bronchopneumonia Dextra serta TB Aktif.

“ Pada awal lahir berat badan Ulfa normal seperti biasanya bahkan cenderung besar yaitu 3.5 kg. Namun 2 minggu setelah melahirkan itu saat saya mengkonsumsi jamu pasca bersalin berat badan Ulfa menurun drastis menjadi 2.8 kg,” ungkap Ayu ibunda Ulfa.

Melihat kondisi berat badan anak bungsunya yang terus menurun, Ayu pun segera membawa Ulfa ke bidan terdekat.

“ Saat itu bidan menyampaikan bahwa Ulfa sudah keracunan parah. Kemungkinan hal ini bersumber dari jamu bersalin yang saya konsumsi dan terminum oleh Ulfa melalui ASI,” tambahnya.

Mendapati berat badan anaknya di bawah dari anak-anak normal, karena keterbatasan biaya akhirnya Ayu pun hanya bisa memberikan nutrisi tambahan seperti madu, teh manis, dan bubur sebagai makanan pendamping ASI. Namun nutrisi tambahan tersebut hanya dapat menaikkan bobot tubuh Ulfa sedikit demi sedikit dari 2.8 kg sampai dengan saat ini hanya berkisar 5 kg.

Ayah Ulfa yang berprofesi sebagai supir angkot memiliki penghasilan yang tidak menentu. Pada hari biasa jika sedang ramai ia bisa memperoleh penghasilan berkisar Rp 30.000,00 sedangkan Ayu sendiri membantu menopang ekonomi keluarga dengan berjualan kue keliling kampung, bahkan terkadang ia menjadi buruh cuci.

“ Ingin sekali rasanya saat itu membawa Ulfa untuk berobat ke dokter tapi karena tidak ada uang, saya pun hanya bisa merawat Ulfa di rumah saja”, ungkap Ayu.

“Namun akhirnya berkat informasi dari tetangga saya waktu itu tentang RST Dompet Dhuafa, saya pun akhirnya mencoba mendaftarkan diri untuk menjadi member dan Alhamdulillah lolos verifikasi sehingga Ulfa pun bisa mendapatkan perawatan disini,” tambahnya.

Sampai dengan saat ini berdasarkan keterangan yang diperoleh dari perawat ruangan, Ulfa pun diberikan terapi perbaikan gizi untuk menambah bobot tubuh agar ideal sesuai dengan usianya, obat batuk, antibiotik, vitamin dan asam folat oleh tim dokter RST Dompet Dhuafa yang merawatnya.

“ Untuk diet makanannya sendiri Ulfa diberikan susu dan makanan pendamping ASI,” ungkap perawat.

“ Untuk penanganan selanjutnya terapi yang diberikan kurang lebih masih sama sampai mencapai bobot tubuh normal ideal sesuai usianya,” tambah perawat.

Seperti halnya orangtua lain, Ayu yang merupakan warga Kp. Kemang Batas, Kemang Bogor ini pun menyampaikan harapannya untuk Ulfa.

“Saya hanya ingin melihat Ulfa sehat, gemuk dan berat badannya normal lagi seperti saat dia kecil agar tumbuh kembangnya normal seperti anak-anak seusianya dan terbebas dari penyakit gizi buruk,” ungkap Ayu. (tie/yhm)

Kami menggugah hati Anda untuk membantu kesembuhan Ulfa

Salurkan Donasi Anda melalui rekening di bawah ini:

Infak (BCA Cab. Pondok Indah 237.304.5454)

Wakaf (Bank Syariah Mandiri 004.013.8118)

2,142 total views, 1 views today