Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SEMANGAT PERJUANGAN NURJANAH UNTUK KELUARGA DI TENGAH KETERBATASAN

Parung – Bogor. Sambil menjalankan sendiri kursi rodanya, wanita berusia 33 tahun ini datang secara rutin untuk menjalani terapi di unit fisioterapi Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa saat kami temui Jumat (25/4). Nurjanah didiagnosa oleh dokter spesialis bedah tulang RST Dompet Dhuafa menderita penyakit Fraktur Kompresi Lumbal 1 yaitu patah pada salah satu segmen tulang belakang sehingga gerakannya sangat terbatas.

Sudah kurang lebih 11 tahun tepatnya di tahun 2003, wanita beranak 1 itu harus pasrah menerima keadaan kakinya yang lumpuh akibat terjatuh saat bekerja.

“Saya jatuh dari ketinggian 8 meter di sebuah pabrik tempat saya bekerja. Saat itu saya jatuh dengan posisi duduk dan sempat tidak sadarkan diri,” ucap Nurjanah.

Menurut Nurjanah ia sempat mengalami koma selama 2 minggu. “Setelah sadar dari koma itu saya merasa kaget karena tidak bisa menggerakan kaki sama sekali.” ungkapnya.

Pasca kejadian tersebut, Nurjanah hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ia menjalani pengobatan secara medis dengan dibiayai oleh pabrik tempatnya bekerja. Namun setelah beberapa lama menjalani pengobatan, Nurjanah tidak melihat perkembangan yang signifikan pada kesehatannya.

Saat itu sempat terlintas dalam benaknya untuk beralih ke pengobatan alternatif saja berbekal pesangon yang diberikan oleh pabrik tempatnya bekerja. Ya, semenjak terjatuh dari ketinggian 8 meter dan lumpuh, Nurjanah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

“Saya mendapatkan pesangon sebesar Rp 24.000.000,00 dari pabrik tempat saya bekerja. Tadinya uang tersebut akan saya gunakan untuk berobat, namun ternyata uang itu dibawa kabur oleh suami saya sendiri,” ungkapnya sambil berkaca-kaca.

Nurjanah yang gerak tubuhnya sangat terbatas memang hanya bisa mengandalkan suaminya saat itu untuk mencairkan uang tersebut. Namun tanpa disangka cek dan suaminya pun tidak kembali sampai sekarang.

Sudah jatuh lalu tertimpa tangga, mungkin seperti itulah gambaran hidup Nurjanah. Pasca ditinggal kabur oleh suaminya, Nurjanah dengan segala keterbatasannya pun harus menghidupi anak semata wayangnya yang saat itu berusia 3 tahun, ibu kandung dan kakeknya yang mengalami gangguan kejiwaan, serta neneknya yang menderita penyakit stroke.

Untuk menyambung hidup, dengan menggunakan kursi roda pemberian seorang dermawan ia pun mengais sisa – sisa sayuran di pasar untuk lauk makan sehari-hari, sementara itu ibunya sempat mengemis di jalanan.

“ Uang hasil mengemis saya gunakan untuk membeli beras dan susu,” ucap Nurjanah.

Bertahun – tahun menjalani kehidupan dari bantuan dan belas kasihan orang lain, akhirnya kini Nurjanah pun mulai bangkit dan berjuang untuk meneruskan kehidupannya. Dengan modal yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit dari pekerjaan menjadi buruh cuci gosok, kini Nurjanah mampu menambah penghasilan dengan berjualan kue yang ia titipkan ke warung-warung di dekat rumahnya.

“Kadang anak saya suka membantu berjualan dengan membawa kue-kue tersebut ke sekolah dan menitipkannya di kantin,”ucapnya.

Meskipun berjuang sendiri menghadapi kerasnya kehidupan untuk menghidupi anak, ibu, nenek dan kakeknya di tengah keterbatasan kakinya yang lumpuh hal tersebut tidak menyurutkan niat Nurjanah untuk sembuh. Ia pun terus berusaha berobat ke pengobatan alternatif dari kampung ke kampung sampai dengan akhirnya seorang teman mendaftarkan Nurjanah ke Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa dan dari LKC, Nurjanah pun dirujuk ke RST Dompet Dhuafa.

Di RST Dompet Dhuafa, Nurjanah ditangani oleh dokter spesialis bedah tulang dan direncanakan untuk segera mendapatkan tindakan operasi Laminektomi dan pemasangan pedicel dan screw untuk mensupport dan menstabilkan segmen tulang belakang yang patah. Diperkirakan biaya operasi tersebut mencapai Rp 45.000.000,00 dengan manfaat yang didapatkan adalah menghilangkan nyeri dan menambah mobilitas Nurjanah nantinya.

Bertahun – tahun menjalani kehidupan dengan berbagai cobaan yang datang bertubi-tubi, sebagai seorang manusia biasa Nurjanah pun sempat merasakan kekecewaan terhadap kehidupan yang ia jalani. “Kadang saya merasa hidup ini tidak adil, saya yang hanya seorang diri dengan kondisi seperti ini harus mengurus orang-orang yang saya sayangi,” ucapnya.

Namun kekecewaan yang terkadang datang menghampirinya itu perlahan sirna jika setelah ia mendapatkan nasihat dari teman-temannya.

“Sampai dengan saat ini saya masih terus bersemangat untuk ibu dan anak saya. Tinggal saya anak satu-satunya yang dapat menjaga ibu, dan saya juga adalah satu-satunya orang tua untuk anak saya jadi saya harus kuat,” ungkapnya.

“Saya hanya berharap semoga tindakan operasi itu dapat segera dilakukan agar saya bisa sembuh dan beraktivitas kembali seperti dulu,” tambahnya.

Dalam perjuangan tunggal melawan beratnya beban kehidupan, dalam hati kecilnya Nurjanah pun meyakini, dibalik kepedihan yang ia rasakan sekarang pasti akan ada kebahagiaan untuknya suatu saat nanti.(tie)

Salurkan Donasi Anda melalui rekening di bawah ini:

Infak (BCA Cab. Pondok Indah 237.304.5454)

Wakaf (Bank Syariah Mandiri 004.013.8118)

1,814 total views, 1 views today