Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

BIBIR ANAK BIRU, WASPADA PJB

Ketika kita memperhatikan bibir atau ujung jari bayi atau anak berwarna biru, maka waspadalah para orangtua, bisa jadi itu adalah gejala dari Penyakit Jantung  Bawaan (PJB). PJB adalah penyakit kongenital yang paling sering terjadi. Penyakit ini merupakan  kelainan bawaan yang paling banyak menyebabkan kematian pada tahun pertama kehidupan seorang anak. Statistik menyebutkan bahwa kurang lebih 8 bayi dari 1.000 kelahiran mengalami kelainan jantung bawaan. Di Indonesia sendiri, sekitar 45.000 bayi terlahir dengan kelainan jantung bawaan tiap tahunnya. 

Penyebab pasti PJB belum diketahui, tetapi berdasarkan penelitian terdapat beberapa faktor risiko yang turut berkontribusi terhadap terjadinya kelainan jantung bawaan pada anak yakni mutasi/kelainan genetik (misalnya pada Sindrom Down),  paparan lingkungan seperti konsumsi obat-obatan tertentu, atau rokok (baik aktif maupun pasif) pada masa kehamilan, infeksi virus (misalnya rubella) yang terjadi pada trimester pertama kehamilan, dan penyakit maternal lainnya seperti diabetes tipe 1 dan 2 yang tidak terkontrol.

Secara garis besar, PJB dibagi menjadi dua jenis yakni tipe sianotik dan asianotik. PJB dengan tipe sianotik menyebabkan warna kebiruan pada kulit, lidah/bibir, dan ujung-ujung jari. Contoh penyakit jantung bawaan tipe ini antara lain TOF (Tetralogy of Fallot) dan TGA (Transposition of Great Aorta). Sedangkan PJB tipe asianotik tidak bermanifestasi biru pada kulit. PJB tipe ini pada umumnya menimbulkan gejala gagal jantung seperti sesak napas dan cepat lelah jika beraktivitas (termasuk di dalamnya bayi yang menyusu sebentar-sebentar), detak jantung yang cepat, dan gagal tumbuh atau pertumbuhan yang lambat. Selain itu seorang anak juga dapat dicurigai menderita penyakit jantung bawaan tipe asianotik jika ia sering terkena infeksi saluran napas berulang.  Contoh kelainan jantung bawaan tipe ini antara lain VSD (Ventricular Septal Deffect) dan ASD (Atrial Septal Deffect).

Jika seorang anak mengalami kebiruan atau gejala gagal jantung yang telah disebutkan sebelumnya ditambah dengan didapatkannya bising jantung oleh dokter, anak tersebut kemungkinan menderita penyakit jantung bawaan. Gejala dan tanda ini biasanya dipastikan dengan pemeriksaan penunjang lain seperti chest x-ray dan echocardiogram. Namun, tidak semua PJB dapat dideteksi secara dini, ada yang baru diketahui ketika sudah dewasa. Begitu pula untuk penanganannya. Terdapat jenis PJB yang harus segera mendapat intervensi (bedah ataupun nonbedah) segera setelah lahir, tetapi ada juga yang hanya memerlukan pemantauan sampai anak tumbuh dewasa. Semua itu tergantung pada jenis PJBnyadan derajat kelainan jantung yang ditimbulkan.

Saat ini, mayoritas PJBdapat ditangani dengan baik dengan tindakan operasi  (bedah) maupun kateter (nonbedah). Namun, bagaimanapun mencegah tetaplah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, sudah sewajarnya seorang calon ibu diharapkan menjaga kesehatan dan  mempersiapkan nutrisi yang baik jika merencanakan kehamilan karena pembentukan jantung dan pembuluh darah sudah dimulai sejak minggu ketiga pembuahan. Dengan cara ini, walaupun penyebab PJB bersifat multifaktorial, diharapkan dapat mencegah kemungkinan terjadinya PJB pada anak.

#dari berbagai sumber

Ditulis oleh dr. Yelsi Khairani (Dokter Umum di RST Dompet Dhuafa)

16,933 total views, 13 views today