Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

MERS BISA DICEGAH

Akhir akhir ini dunia dihebohkan dengan mewabahnya MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang terjadi di beberapa negara. Sampai 5 Mei 2014, MERS didapatkan di  negara timur tengah meliputi,  Jordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Yaman, Prancis, Jerman, Yunani, Itali, Inggris, Tunisia, Mesir, Malaysia dan Filipina dan laporan terakhir Amerika Serikat. Keseluruhan kasus memiliki keterkaitan erat dengan Timur Tengah. Di Perancis, Itali, Tunisia dan Inggris (UK), penularan lokal terbatas telah terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat berkunjung ke Timur Tengah tetapi memiliki riwayat kontak erat dengan pasien suspek MERS-CoV.

Dan negara Arab Saudi memang merupakan negara yang paling besar mengalami wabah penyakit akibat virus ini. Jumlah penderita per 1 Mei 2014 mencapai 449 pasien, sedangkan yang wafat mencapai 121 orang.

MERS adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus. Kasus pertama MERS dilaporkan terjadi di Arab Saudi pada tahun 2012. Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah jenis virus korona (Coronavirus) sehingga virus ini dinamai MERS-CoV. Virus korona adalah sebuah keluarga besar virus yang menyebabkan kesakitan dengan berbagai tingkat keparahan. Kebanyakan penderita MERS mengalami penyakit pernapasan akut yang berat.

Virus korona manusia ditemukan pertama kali pada pertengahan tahun 1960-an. Virus ini ditemukan dari hasil swab lubang hidung penderita common cold (flu). Para ilmuwan menamakannya dengan virus korona karena terdapat tonjolan-tonjolan berbentuk mahkota (crown) pada permukaannya.

burek

http://www.medicalnewstoday.com/articles/256521.php

Virus korona ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan pada manusia dan hewan (terutama mamalia dan burung). Namun, selain infeksi saluran pernapasan, virus ini juga dapat menginfeksi saluran pencernaan. Sekitar 30% gejala flu disebabkan oleh dua jenis virus korona yakni HCoV-229E dan HCoV-OC43. Hingga saat ini sudah dikenali tujuh jenis virus korona yang dapat menginfeksi manusia yakni HCoV-229E, HCoV-OC43, SARS-CoV, NL63-CoV, HKU1-CoV, HCoV-EMC, dan MERS-CoV.

Sedikit banyak wabah MERS kembali mengingatkan kita dengan wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang pernah terjadi pada tahun 2003 setelah ditemukan pertama kali di Guandong, Cina pada November 2002. Mungkin kita jadi bertanya-tanya lalu apa perbedaan antara MERS dengan SARS?

MERS dapat dikatakan serupa tapi tak sama dengan SARS. Keduanya sama-sama disebabkan oleh virus korona, tetapi oleh tipe yang berbeda. Virus korona yang menyebabkan MERS (MERS-CoV) merupakan Virus Korona dengan strain Lineage C. Masa inkubasi virus MERS-CoV ini adalah 2-14 hari. Masa inkubasi adalah waktu sejak pertama kali terinfeksi virus ini sampai timbulnya gejala. Perbedaan yang paling pokok dari keduanya adalah penyebaran SARS-CoV lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan MERS-CoV. Namun, data menunjukan bahwa progresivitas penyakit untuk bermanifestasi gagal napas lebih cepat terjadi pada MERS dibandingkan dengan SARS.

Virus korona menular atau menyebar dari penderita ke orang lain melalui udara (batuk/bersin) dan kontak dekat dengan penderita misalnya dengan bersentuhan atau berjabat tangan. Virus juga dapat menyebar dengan menyentuh benda atau permukaan yang terkontaminasi lalu dengan tangan yang sama memegang mulut, hidung, atau mata.

Penularan dari binatang juga belum jelas benar meski didapatkan bukti bahwa terdapat virus MERS-CoV yang sama dengan yang didapat dari manusia pada beberapa populasi Onta di Mesir, Qatar dan Arab Saudi, berdasarkan hal ini masih mungkin didapatkan virus MERS-CoV pada hewan lain seperti kambing, domba, sapi, babi dan lainnya. Hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian di Mesir pada rumah pemotongan hewan didapatkan 3,6% unta terinfeksi virus MERS-CoV tetapi tidak ditemukan pada manusia yang kontak di sekitarnya.Berdasarkan hal ini masalah unta sebagai sumber penularan MERS-CoV masih memerlukan penelitian lebih lanjut, meski demikian kewaspadaan tetap harus dilakukan.

Gejala yang ditimbulkan setelah seseorang terinfeksi virus korona adalah gejala infeksi saluran pernapasan atas pada umumnya seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan dan sesak atau dada terasa berat dan dapat disertai  gejala saluran pencernaan, mencakup diare. Selain itu dapat terjadi juga gejala infeksi saluran penapasan bawah yang bermanifestasi menjadi pneumonia (radang paru) hingga gagal napas yang dapat kita jumpai pada infeksi MERS-CoV dan SARS-CoV.

Kematian akibat kasus MERS-CoV dilaporkan terjadi pada 1 dari 3 pasien (27%) dan penyakit menjadi berat pada penderita diabetes,penyakit paru kronik, asma dan gangguan kekebalan tubuh. Sebaliknya pada beberapa orang yang kontak dengan penderita MERS-CoV didapatkan hasil positif terinfeksi tetapi tidak sakit.

Tegaknya diagnosis infeksi virus korona dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan laboratorium. Pemeriksan tersebut meliputi isolasi virus pada kultur sel, PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk memeriksa DNA virus, tes serologis untuk memeriksakan antibodi terhadap Virus korona. Namun, pada umumnya jika yang terjadi hanyalah gejala ringan, berbagai pemeriksaan tersebut tidak perlu dilakukan.

Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit yang disebabkan oleh virus korona manusia dan vaksin untuk virus ini sampai sekarang belum ditemukan. Pemberian vaksin influenza bukan untuk mencegah virus ini, tetapi untuk mencegah infeksi virus lain menjadi faktor risiko yang memudahkan tertular MERS-CoV. Kebanyakan orang dengan penyakit yang disebabkan infeksi virus korona akan sembuh dengan sendirinya seperti pada umumnya penyakit virus lainnya. Namun, terdapat faktor-faktor yang dapat memperburuk kondisi infeksi yakni usia tua dan seseorang dengan daya tahan tubuh yang terganggu.

Oleh karena itu, lebih baik melakukan pencegahan terhadap infeksi virus korona pada umumnya dan MERS-CoV pada khususnya. Pencegahan yang paling utama untuk dilakukan adalah dengan melaksanakan perilaku hidup besih dan sehat (PHBS) seperti rajin melakukan mencuci tangan dengan air dan sabun, tidak sembarangan menyentuh mulut, hidung, atau mata dengan tangan yang kotor, serta menghindari kontak dengan penderita. Jika sudah terlanjur terinfeksi dan menunjukan gejala, maka hal yang harus dilakukan adalah istirahat, banyak minum, dan menggunakan obat-obatan untuk meredakan gejala yang menyertai seperti demam dan sakit tenggorokan. Jika gejala berlanjut, sebaiknya segera menemui tenaga medis. Vaksinasi khusus untuk mencegah MERS-CoV sampai saat ini belumlah ditemukan.

Dan bagi orang yang akan berpergian atau berangkat ke negeri Timur Tengah dengan tujuan perjalanan haji atau umroh dan sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) terdapat beberapa upaya pencegahan dari MERS yang dapat dilakukan, yaitu :

  • Bagi penderita penyakit kronik seperti diabetes mellitus, penyakit kronik dan penurunan kekebalan tubuh dianjurkan untuk menunda keberangkatan, namun bila tidak maka diharapkan mempersiapkan kondisi kesehatan dalam kondisi yang stabil.
  • Memahami informasi kewaspadaan kesehatan dalam perjalanan seperti memahami gejala influenza, infeksi saluran napas dan diare serta segera melaporkan kondisi kepada petugas di tempat kedatangan maupun keberangkatan. Berikan penekanan untuk meningkatkan kebersihan dengan mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bersih (makanan yang tertutup), menghindari makanan atau pun minuman yang tidak dimasak , mencuci buah dan sayur sebelum dimakan dan menjaga kebersihan lainnya.
  • Bila didapatkan gejala sakit pernafasan akut seperti demam, batuk atau yang lebih berat sesak hingga mengganggu aktifitas sehari hari sebaiknya meminimalkan kontak dengan banyak orang, menerapkan etika batuk dengan baik dan benar, yaitu menutup hidung dan mulut bila batuk dan bersin, membuang tisu bila menggunakan tisu dan segera cuci tangan sesudahnya, atau menutupnya dengan lengan baju.
  • Bila seorang kembali dari Timur Tengah dan mengalami gejala penyakit saluran napas akut segera pergi ke Puskesmas, dokter atau fasilitas kesehatan lain terutama dalam 2 minggu sejak pulang.
  • Bila didapatkan gejala yang sama pada orang atau anggota keluarga yang kontak dengan orang yang memiliki gejala MERS-CoV maka harus juga segera melaporkan ke petugas kesehatan seperti Puskesmas, rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya.
  • Sampaikan kepada petugas kesehatan bahwa penderita tersebut memiliki riwayat perjalanan ke negara Timur Tengah terutama Haji dan Umroh atau sebagai TKI.
  • Selama dalam menjalankan ibadah haji atau umroh hindari kontak dengan hewan ternak terutama unta, pergi ke peternakan, pasar hewan ternak ataupun rumah potong hewan ternak
  • Hindari mengkonsumsi produk hewan ternak mentah seperti susu onta mentah, atau produk hewan mentah lainnya
  • Konsumsi makanan yang sehat dan bersih, bila membeli makanan pilihlah yang matang dan tertutup sehingga terhindar kontaminasi berbagai kotoran termasuk kotoran hewan.
  • Konsumsi buah dan sayuran setelah dicuci bersih

Jika terdapat gejala dan juga memiliki faktor risiko untuk terinfeksi MERS-CoV, misalnya terdapat riwayat kontak langsung dengan penderita ataupun terdapat riwayat perjalanan ke tempat-tempat sumber MERS (negeri Timur Tengah), sebaiknya segera memeriksakan diri kepada tenaga medis untuk dilakukan skrining lebih lanjut. Untuk menyikapi terjadinya wabah MERS ini, pemerintah berbagai negara sudah menempatkan pos-pos skrining di Bandara Internasional masing-masing dan untuk orang-orang yang positif terinfeksi MERS-CoV akan dikarantina dengan ketat di pusat-pusat kesehatan sampai kondisi pasien membaik.

#dari berbagai sumber

Ditulis oleh dr Yelsi Khairani & dr Yahmin Setiawan, MARS

2,139 total views, 1 views today