Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

PRODUKSI ASI YANG LANCAR

Air Susu Ibu (ASI) sangatlah penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi karena  ASI memiliki banyak kandungan di dalamnya sehingga dapat membuat bayi memperoleh banyak asupan yang sesuai jika dibandingkan dengan meminum susu formula buatan pabrik-pabrik. Pemberian ASI dilakukan sejak pertama kali kelahiran bayi terjadi yaitu melalui Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sampai usia bayi mencapai 2 tahun. Bagi para ibu, memiliki ASI yang sehat dan lancar menjadi impian yang sangat didambakannya. Akan tetapi banyak dari para ibu, terutama ibu muda yang tidak mendapatkan kelancaran saat menyusui bayi mereka.

Dalam rangka untuk memahami bagaimana melancarkan ASI pada ibu yang menyusui, penting untuk memahami bagaimana proses produksi ASI bekerja. Kita mungkin pernah mendengar bahwa produksi ASI didasarkan pada penawaran dan permintaan. Sejak ibu hamil atau mengandung, hormon dalam tubuh ibu akan memberitahu payudara untuk mulai membuat ASI.

Setelah melahirkan, tubuh ibu tidak tahu persis berapa banyak ASI yang dibutuhkan. Ini adalah waktu terbaik untuk membangun suplai ASI yang baik. Bila sering dipakai, ia akan produksi makin banyak, sebaliknya bila tidak dipakai, pabrik akan berhenti dengan sendirinya.

Seiring waktu, tubuh ibu akhirnya belajar berapa banyak ASI yang akan dihasilkan berdasarkan pada pengeluaran ASI dari payudara ibu. Ketika payudara ibu kosong, ini memberitahu tubuh ibu untuk membuat lebih banyak ASI. Demikian juga, jika payudara penuh sinyal tubuh ibu untuk mengurangi produksi susu. Mengosongkan payudara dengan sering selama tahap awal menyusui akan membantu memastikan bahwa ibu memiliki produksi ASI yang baik dan lancar.

Yang perlu diketahui dan dipahami oleh para ibu menyusui bahwa produksi ASI di dalam tubuh bergantung terhadap dua hormon yaitu Prolaktin dan Oksitosin. Hormon Prolaktin sendiri berpengaruh terhadap produksi ASI dan untuk hormon oksitosin berpengaruh terhadap proses pengeluaran ASI.

Hormon prolaktin berperan dalam proses produksi ASI. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituitari, berada di dalam otak yang berpengaruh terhadap berbagai fungsi fisiologis tubuh. Prosesnya, saat bayi menyusui, rangsangan sensorik akan dikirim ke otak, lalu direspon otak dengan mengeluarkan hormon prolaktin yang akan kembali menuju payudara melalui aliran darah serta merangsang sel-sel pembuat ASI untuk memproduksi ASI.

Semakin banyak nutrisi atau makanan bergizi  yang masuk ke ibu maka semakin banyak hormon prolaktin yang diproduksi, sehingga semakin banyak pula produksi ASI. Oleh karena itu banyak yang menghimbau terhadap ibu yang menyusui bayinya dengan ASI untuk selalu memperhatikan makanan yang mereka makan agar makanan tersebut juga bisa menghasilkan nutrisi yang bertujuan untuk memperlancar dalam memproduksi ASI.

Hormon lain yang terkait pada proses keluarnya ASI adalah oksitosin. Hormon ini berperan untuk merangsang keluarnya ASI. Prosesnya adalah rangsangan dari isapan bayi saat menyusui akan diteruskan menuju hipotalamus yang memproduksi hormon oksitosin. Selanjutnya hormon oksitosin akan memacu otot-otot halus di sekitar sel-sel pembuat ASI untuk mengeluarkan ASI. Otot-otot tersebut akan berkontraksi dan mengeluarkan ASI, proses ini disebut let down reflect (refleks keluarnya ASI).

Untuk hormon oksitosin bekerjanya tergantung pada sering atau tidak puting susu ibu dihisap oleh bayinya saat menyusu ASI. Semakin sering dihisap maka akan semakin banyak produksi hormon oksitosin yang berdampak terhadap lancarnya ASI yang keluar. Hormon oksitosin ini sering disebut juga dengan hormon cinta atau kasih sayang, karena berhubungan dengan suasana hati dan perasaan seorang ibu pada saat mereka menyusui bayinya.

Akan tetapi apabila kedua hormon ini tidak bekerja secara lancar maka ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk membuat kedua hormon ini bekerja secara optimal, yaitu pertama, penuhi kebutuhan nutrisi pada ibu yang menyusui bayinya. Sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi secara seimbang dan baik karena hal ini bertujuan agar ASI yang keluar dapat lancar. Pilihlah menu makanan yang berkuah banyak, makan sayuran berkuah dan kaldu 2 mangkuk per hari (habiskan sayur beserta kuahnya). Cukup minum air putih, untuk ibu menyusui paling tidak 2-3 liter per hari.

Penuhi kebutuhan kalori, protein, lemak, dan vitamin serta mineral yang cukup. Kemudian, ada beberapa makanan yang sebaiknya dihindari kala ibu menyusui di antaranya makanan yang banyak mengandung gula dan lemak. Lalu, makanan yang merangsang seperti cabe, jahe, merica, kopi. Dan makanan yang membuat kembung seperti kol, sawi dan daun bawang.

Usaha yang kedua, tingkatkan frekuensi menyusui, memompa dan memerah ASI, hal ini bertujuan untuk menciptakan produksi ASI yang banyak dan lancar. Dapat diketahui bahwa semakin jarang bayi disusui oleh ibunya, maka semakin berkurang produksi ASI oleh sang ibu. Semakin sering bayi disusui oleh ibunya, maka dengan isapannya akan merangsang produksi ASI.

Hisapan bayi yang efektif akan mengoptimalkan rangsangan ke otak yang akan memerintahkan untuk memproduksi hormon prolaktin dan oksitosin. Sering-seringlah ibu menyusui bayinya di malam hari, karena menyusui di malam hari akan meningkatkan hormon prolaktin yang mampu meningkatkan produksi ASI. Jangan menunggu sampai payudara terasa ‘kencang’ atau bengkak baru ibu menyusui bayinya. Jangan berikan susu formula kalau bayi masih menangis, mungkin posisi perlekatan mulut bayi pada payudara ibunya yang kurang pas.

Kosongkan kedua payudara saat menyusui dan pastikan bayi menyusui cukup lama untuk mengosongkan kedua payudara ibu. Jangan menjadwalkan menyusui, susui bayi kapan pun ia memerlukannya. Biarkan bayi menikmati “cluster feed” (minum ASI terus menerus dan sering, nyaris tanpa jeda; biasanya sore hari sebelum tidur). Bila jadwal minum biasanya 2-3 jam dan tiba-tiba berubah jadi lebih rapat, kemungkinan besar bayi sedang mengalami pertumbuhan dan memerlukan asupan lebih banyak.

Coba menyusui bergantian. Bila bayi bosan dengan puting payudara kiri, tawarkan puting payudara kanan sehingga ia tak lagi menghisap. Fungsi utama saluran adalah untuk mengalirkan dan membawa ASI dari pabriknya, bukan untuk menyimpan. Jadi, ASI yang sudah diproduksi di pabrik ASI (payudara) sebaiknya langsung dialirkan melalui saluran ASI (puting) dengan menikmati waktu menyusui. Isapan bayi akan mengosongkan maksimal 70% ASI dari payudara, untuk kemudian berproduksi kembali secara alamiah.

Jika sang ibu pun sibuk bekerja, jarang bekerja dan takut akan berkurangnya produksi ASI, maka sang ibu tersebut dapat menggunakan alat khusus yang berfungsi untuk memompa payudara agar produksi ASI tetap banyak dan lancar. Cobalah memompa 15 menit setiap beberapa jam sekali saat bekerja. Gunakan pompa yang dapat memompa 2 payudara sekaligus, ini lebih menstimulasi produksi ASI dibandingkan yang hanya satu bergantian.

Hindari penggunaan dot dan empeng pada bayi untuk menghindari bingung puting. Karena menghisap dari dot dan empeng lebih gampang, sementara dari puting lebih susah, bila anak kebiasaan ngempeng dot, maka ia akan menolak puting ibu ketika akan disusui dengan ASI.

Kemudian usaha yang ketiga adalah minimalkan tingkat gangguan psikologis yang dialami pada ibu, misalnya seperti stres.Karena stres (ibu yang tidak dalam keadaan rileks, tidak tenang, dan tidak senang serta tidak nyaman) dapat mengakibatkan produksi ASI berkurang dan menjadi tidak lancar.

Keadaan emosi atau stres pada ibu yang menyusui sangat memengaruhi refleks pengaliran susu.  Pasalnya, refleks ini mengontrol perintah yang dikirim oleh hipotalamus pada kelenjar bawah otak. Bila ibu sedang dalam kondisi stres, cemas, khawatir, tegang, dan sebagainya, air susu tidak akan turun dari alveoli menuju puting. Umumnya kejadian ini berlangsung pada hari-hari pertama menyusui dimana refleks pengaliran susu belum sepenuhnya berfungsi.

Refleks pengaliran susu dapat berfungsi baik bila ibu merasa rileks dan tenang, tidak tegang ataupun cemas. Karena itu, pasti ibu tak kelelahan, tenang, dan istirahat cukup. Peran keluarga, dalam hal ini suami juga penting untuk menjaga kondisi psikis istri agar tetap merasa tenang,  menciptakan suasana yang nyaman.

Jika ibu merasa terlalu lelah, maka tubuh ibu tidak akan memiliki energi untuk dapat memproduksi susu dengan baik. Jadi cobalah untuk mengejar ketinggalan dengan  istirahat dan tidur siang, jika pada malam harinya ibu kurang tidur. Intinya adalah istirahat yang cukup.

Kebiasaan baru mempunyai bayi mungkin bisa membuat ibu stres, karena ibu mungkin menemukan hal-hal yang terasa menyulitkan. Biasakanlah bersyukur atas karunia seorang anak yang sudah Tuhan berikan kepada ibu. Jadi ide yang baik demi bayi ibu adalah dengan mencoba untuk sering bersantai. Cobalah untuk mencari bantuan dalam mengatasi banyak pekerjaan di rumah, apakah itu dari anggota keluarga lainnya atau memperkerjakan pembantu.

Yang keempat, merawat payudara dengan baik dan benar. ASI memang tergantung terhadap nutrisi yang terkandung di dalam tubuh sang ibu, akan tetapi menjaga keindahan bentuk payudara pun juga sangat penting karena banyak perempuan yang tidak mau menyusui anaknya hanya gara-gara mereka takut payudaranya menjadi lembek dan tidak kencang. Oleh karena itu diperlukan sedikit perawatan untuk payudara sang ibu. Caranya adalah dengan memijat-mijat payudara, membersihkan payudara dengan menggunakan air hangat dan air dingin secara bergantian.

Sebaiknya perawatan payudara dilakukan saat ibu masih dalam masa kehamilan karena perawatan yang benar akan memperlancar produksi ASI. Dengan merangsang payudara akan mempengaruhi hypopise untuk mengeluarkan hormon progesteron, estrogen dan oksitosin lebih banyak lagi. Hormon oksitosin akan menimbulkan kontraksi pada sel-sel lain sekitar alveoli (lubang-lubang kecil di paru-paru) sehingga air susu mengalir turun ke arah puting,dan akhirnya bisa dihisap bayi.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas, serta keluarga yang bahagia dan sejahtera. Dan para ibu tidak perlu memberikan susu formula kepada bayinya karena dengan cara menyusui ASI yang benar, maka kebutuhan gizi dan makanan bayi sudah dapat dipenuhi dengan baik.

 

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

1,682 total views, 2 views today