Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

PENGHAMBAT LANCARNYA ASI

Air Susu Ibu (ASI) sangatlah penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi karena  ASI memiliki banyak kandungan gizi di dalamnya sehingga dapat membuat bayi memperoleh banyak asupan yang sesuai jika dibandingkan dengan meminum susu formula buatan pabrik-pabrik. Pemberian ASI dilakukan sejak pertama kali kelahiran bayi terjadi yaitu melalui Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sampai usia bayi mencapai 2 tahun.

Bagi para ibu, memiliki ASI yang sehat dan lancar menjadi impian yang sangat didambakannya. Akan tetapi banyak dari para ibu, terutama ibu muda yang tidak mendapatkan kelancaran saat menyusui bayi mereka. Sebuah riset menemukan sekitar 15% ibu menyusui rata-rata 3 minggu setelah melahirkan mengalami masalah produksi ASI yang sangat sediki, tidak lancar dan tidak bisa memenuhi kebutuhan bayinya.

Untuk diketahui dan dipahami oleh para ibu menyusui bahwa produksi ASI di dalam tubuh bergantung terhadap dua hormon yaitu Prolaktin dan Oksitosin. Hormon Prolaktin sendiri berpengaruh terhadap produksi ASI dan untuk hormon oksitosin berpengaruh terhadap proses pengeluaran ASI.

Hormon prolaktin berperan dalam proses produksi ASI. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituitari, berada di dalam otak yang berpengaruh terhadap berbagai fungsi fisiologis tubuh. Prosesnya, saat bayi menyusui, rangsangan sensorik akan dikirim ke otak, lalu direspon otak dengan mengeluarkan hormon prolaktin yang akan kembali menuju payudara melalui aliran darah serta merangsang sel-sel pembuat ASI untuk memproduksi ASI.

Hormon lain yang terkait pada proses keluarnya ASI adalah oksitosin. Hormon ini berperan untuk merangsang keluarnya ASI. Prosesnya adalah rangsangan dari isapan bayi saat menyusui akan diteruskan menuju hipotalamus yang memproduksi hormon oksitosin. Selanjutnya hormon oksitosin akan memacu otot-oto halus di sekitar sel-sel pembuat ASI untuk mengeluarkan ASI. Otot-otot tersebut akan berkontraksi dan mengeluarkan ASI, proses ini disebut let down reflect (refleks keluarnya ASI).

Ketidakmampuan bayi menghisap ASI dengan baik membuat payudara kurang mendapatkan rangsangan untuk mengeluarkan ASI dan bayi yang lahir prematur biasanya mudah lelah saat menghisap payudara ibu, akibatnya produksi dan pengeluaran ASI menjadi tidak maksimal. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur  dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ.

Pada studi 32 ibu dengan bayi prematur disimpulkan bahwa produksi ASI akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama  bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi  prematur belum dapat menyusui dengan baik. Dan pada studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi cukup bulanmenunjukkan bahwa frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali perhari selama 2  minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang  cukup. Berdasarkan hal ini  direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal  setelah melahirkan, sehingga apabila frekuensi menyusuinya kurang akan menyebabkan tidak lancarnya produksi ASI.

Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir yaitu berat lahir <2.500 gram mempunyai kemampuan  mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal  Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama  penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan  mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.

Gaya hidup ibu yang tidak sehat menyebabkan kelenjar susu tidak bisa menghasilkan ASI dalam jumlah memadai. Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi  produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan  berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman. Apabila kondisi ibu terlalu capek, kurang istirahat maka ASI juga berkurang.

Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon  prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan  adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin. Minuman alkohol dosis rendah dapat menghambat produksi oksitosin.

Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu proses laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI. Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan  dengan penurunan volume dan durasi ASI, sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka  tidak ada dampak terhadap volume ASI. Berdasarkan hal ini WHO merekomendasikan pil  progestin untuk ibu menyusui yang menggunakan pil kontrasepsi.

Hanya sekitar 4 % ibu yang mengalami pasokan ASI rendah memiliki masalah medis tertentu seperti masalah pada kelenjar tiroid, gangguan hormonal, pernah melakukan operasi payudara, atau mengalami pendarahan berat ketika melahirkan.

Selain itu, pasokan ASI yang sedikit juga bisa dipengaruhi paparan pestisida. Penelitian tahun 2006 menemukan anak perempuan dari ibu hamil yang tinggal di daerah pertanian yang terpapar pestisida memiliki kelenjar susu lebih sedikit ketimbang anak perempuan yang tinggal di tempat sehat.Rendahnya pasokan ASI juga bisa dipengaruhi masalah kesuburan, contohnya wanita dengan kondisi yang dapat mangakibatkan masalah ovulasi (Polycystic Ovary Syndrome) memiliki kelenjar susu yang kurang berfungsi dengan baik.

Satu hal yang tidak kalah penting dalam hal ini adalah faktor dukungan dari sekitar dan orang yang terdekat, yaitu suami dan anggota keluarga lainnya. Begitu pula dukungan dari lingkungan pekerjaan tempat bekerja sang ibu bila sang ibu tersebut bekerja misalnya seperti tersedianya ruangan khusus untuk memerah ASI, lemari es untk menyimpan ASI perah dan sebagainya. Dukungan postif akan lebih membuat ibu merasa nyaman dan yakin akan pilihannya dalam memberikan ASI seoptimal mungkin. Dengan demikian, produksi ASI akan sangat mencukupi untuk si buah hati.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas, serta keluarga yang bahagia dan sejahtera. Dan para ibu tidak perlu memberikan susu formula kepada bayinya karena dengan cara menyusui ASI yang benar, maka kebutuhan gizi dan makanan bayi sudah dapat dipenuhi dengan baik.

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

9,435 total views, 9 views today