Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

PHBS KEJADIAN DIARE PADA ANAK

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan program dari Kementrian Kesehatan yang diharapkan dapat terealisasi di Indonesia. Namun, pada kenyataannya persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS masih rendah. Menurut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat tahun 2010, rata-rata persentase PHBS Nasional hanya 35,68 % dari total WNI yang beragama Islam telah berperilaku hidup bersih dan sehat. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam telah mengajarkan umatnya cara berperilaku hidup bersih dan sehat seperti hadist berikut ini :

“Sesungguhnya Allah SWT adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai Yahudi” (HR. Tarmidzi).

Islam memiliki perbedaan yang nyata dengan agama-agama lain di muka bumi ini. Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Khalik-nya dan alam syurga, namun Islam memiliki aturan dan tuntunan yang bersifat komprehensif, harmonis, jelas dan logis. Salah satu kelebihan Islam yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah perihal perspektif Islam dalam mengajarkan kesehatan bagi individu maupun masyarakat.

“Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia” demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam menegaskan perlunya istiqomah memantapkan dirinya dengan menegakkan agama Islam. Satu-satunya jalan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Allah berfirman:

”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orangnya yang beriman” (QS:Yunus 57).

Sehat menurut batasan World Health Organization adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Tujuan Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rokhani, dan sosial sehingga umat manusia mampu menjadi umat yang pilihan.

Berkaitan dengan itu, diharapkan masyarakat luas mampu berpartisipasi aktif dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya hidup perorangan, keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat, dengan tujuan untuk meningkatkan, memelihara dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental spiritual dan budaya.

Kaitannya dengan diare akut, bahwa saat ini diare akut pada anak masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di Negara berkembang. Menurut catatan WHO dan UNICEF, setiap tahunnya sekitar 2 juta anak meningggal karena diare akut. Sedangkan dalam laporan Sukernas (2001), diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita di Indonesia. Di Indonesia diperkirakan ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian tiap tahunnya, dimana sekita 70-80% penderita dibawah umur 5 tahun. Sebagian dari penderita (1-2%) jatuh kedalam dehidrasi dan jika tidak segera ditolong 50-60% dapat meninggal.

Proporsi tertinggi kasus diare terjadi pada anak usia 6-11 bulan. Hal ini disebabkan oleh karena saat usia tersebut anak sudah mulai mendapat makanan pendamping ASI, antibody yang didapat dari ibu mulai menurun, sudah dapat merangkak dan mencoba memegang segala sesuatu, mulai kebiasaan memasukkan makanan kedalam mulut, serta masih rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat di kalangan masyarakat, antara lain kontaminasi air atau makanan oleh kuman melalui rute fecal-oral, kebiasaan tidak mencuci tangan dengan air dan sabun setelah buang air besar, membuang tinja dijamban, jenis jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat serta pemanfaatan sarana air bersih yang masih kurang.

Diare akut memiliki pengertian dimana jika BAB > 3x dalam sehari disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lender serta darah, yang berlangsung kurang dari 1 minggu. Cara penularan diare pada umumnya melalui fecal oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat. (istilah 4F = Finger, Flies, Fluid, Field). Beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan antara lain :

  1. Tidak memberi ASI secara penuh pada 4-6 bulan pertama kehidupan.
  2. Penyediaan air bersih tidak memadai
  3. Pencemaran air oleh tinja
  4. Kurangnya sarana kebersihan
  5. Kebersihan pribadi dan lingkungan yang buruk
  6. Penyiapan dan penyimpanan makana yang tidak higienis
  7. Cara penyapihan yang tidak baik

Sampai saat ini diidentifikasi sekitar 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi, dimana di Negara berkembang kuman patogen penyebab diare akut pada anak-anak yaitu Rotavirus, E. coli, Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua terhadap penderita, seperti lama diare, frekuensi dan volume diare, konsistensi tinja, warna dan bau tinja. Ada tidaknya lender dan darah pada tinja. Selain itu, apakah disertai muntah atau tidak, jika iya, bagaimana frekuensi dan volume muntah, Diperhatikan pula BAKnya, apakah biasa, berkurang atau tidak kencing dalam 6-8 jam terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan selama diare. Adakah panas atau penyakit lain yang menyertai seperti batuk, pilek, otitis media dan campak. Beberapa data diatas sangat membantu seorang dokter atau tenaga medis dalam penanganan diare, sehingga komplikasi dan resiko terburuk dapat dicegah sedini mungkin. Tindakan yang telah dilakukan ibu selama anak diare, pemberian oralit, sudah membawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit, riwayat munisasi serta obat-obatan yang sudah diberikan perlu diketahui oleh tenaga medis.

Saat penderita sudah di bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit, tenaga medis wajib menilai pemeriksaan fisik yang di temukan pada penderita, sehingga penderita dapat di nilai ringan beratnya penyakit diare, karena dari pemeriksaan fisik yang di dapat dari penderita dapat menentukan derajat dehidrasi yang akan menentukan terapi selanjutnya. Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, chloride dan bikarbonat, Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila disertai panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolic dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolomia, kolaps kardiovaskular dan kematian bila ditangani dengan tepat dan cepat.

Berdasarkan WHO, penentuan derajat dehidrasi yaitu :

Penilaian

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan-sedang

Dehidrasi berat

Keadaan umum

Baik, sadar

Gelisah, rewel

Lesu, lunglai, tidak sadar

Mata

Normal

Cekung

Sangat cekung

Air mata

Ada

Tidak ada

Kering

Mulut/lidah

Basah

Kering

Sangat kering

Rasa haus

Tidak haus, minum biasa

Ingin minum banyak, haus

Malas minum, tidak mau minum

Turgor kulit

Kembali cepat

Kembali lambat

Sangat lambat

Rencana terapi

Terapi A

Terapi B

Terapi C

Terapi A : Segera diberi cairan rumah tangga seperti air tajin, larutan gula garam,kuah sayur-sayuran, dsb. Jumlah cairan yang diberikan 10ml/kg BB.

Terapi B : Harus dirawat di sarana kesehatan dan segera diberi Oralit dengan jumalah 75 ml/kg BB. Jika tidak dapat diberikan secara oral, oralit diberikan melalui NGT dengan volume yang sama dengan kecepatan 20 ml/kgBB/jam.

Terapi C : Harus dirawat di sarana kesehatan dan diberi terapi dehidrasi parenteral yaitu dengan cairan Ringer Laktat 100ml/kg BB dengan ketentuan yaitu anak < 1 tahun : 1 jam pertama 30 cc/kg BB, dilanjutkan 5 jam berikutnya 70 cc/kg BB. Anak > 1 tahun ½ jam pertama 30 cc/kg BB, dilanjutkan 2 ½ jam 70 cc/kg BB. Disamping itu anak harus tetap diberi oralit selama pemberian cairan intravena.

Departemen Kesehatan menetapkan 5 pilar tata laksana diare yang dirawat di rumah atau di Rumah Sakit :

  1. Rehidrasi dengan Oralit formula baru (berdasarkan rekomendasi WHO dan UNICEF)

Oralit dengan osmolaritas rendah yang dapat mengurangi pengeluaran tinja hingga 20% dan muntah 30%.

Ketentuan  pemberian oralit formula baru:

  1. Beri ibu 2 bungkus
  2. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dengan 1 liter air matang untuk persediaan 24 jam.
  3. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali setelah BAB dengan ketentuan :

-          < 2 tahun : 50-100ml tiap kali BAB -          > 2 tahun : 100-200ml tiap kali BAB

  1. Jika dalam 24 jam oralit masih bersisa, sisa larutan harus dibuang
  1. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut.
  2. ASI dan makanan pendamping tetap diteruskan.
  3. Antibiotik selektif sesuai indikasi.
  4. Nasihat pada orang tua.

Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian diare, pemerintah (Depkes) melakukan upaya sebagai berikut :

  1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas tata laksana penderita diare melalui pendekatan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) dan Pelembagaan Pojok Oralit
  2. Mengupayakan tata laksana penderita diare di rumah tangga secara tepat dan benar.
  3. Meningkatkan upaya pencegahan melalui KIE (komunikasi,informasi, edukasi) dan meningkatkan upaya kesehatan bersumber masyarakat.
  4. Meningkatkan sanitasi lingkungan.
  5. Peningkatan kewaspadaan diri dan penanggulangan kejadian luar biasa diare.

Pada dasarnya penyakit diare dapat dicegah, salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencegah diare yaitu dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga yang terdiri dari 10 indikator, antara lain :

  1. Persalinan diolong oleh tenaga kesehatan
  2. Memberi ASI eksklusif
  3. Menimbang balita setiap bulan
  4. Menggunakan air bersih
  5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
  6. Menggunakan jamban sehat
  7. Memberantas jentik dirumah sekali seminggu
  8. Makan buah dan sayur setiap hari
  9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
  10. Tidak merokok didalam rumah

Dengan mengetahui ini indikator-indikator PHBS, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kemampuan keluarga dan berperan aktif untuk melaksanakan PHBS, sehingga setiap rumah tangga akan meningkat kesehatannya dan mudah sakit, anak tumbuh sehat dan cerdas, serta produktifitas anggota keluarga dapat berjalan secara maksimal.

#dari berbagai sumber

Dr. Dhika Hanggita R (Sekretaris Komite Medik RST Dompet Dhuafa)

2,464 total views, 4 views today