Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

IMUNISASI SEBAGAI INVESTASI KESEHATAN MASA DEPAN (BAGIAN I)

Kita semua pasti sepakat bahwa salah satu karunia yang sangat berharga dalam hidup ini adalah “Kesehatan”. Tidak seorangpun mengingkan sakit, karena sakit identik dengan penderitaan, kesulitan dan keterbatasan. Namun, tahukah bahwa sakit adalah sunatullah yang telah menyatu dengan kehidupan semua makhluk hidup di alam ini. Menjadi orang yang sehat tanpa ada gangguan penyakit memungkinkan seseorang menjadi lebih produktif dalam bekerja, lebih banyak beribadah dan lebih bahagia. Itulah mengapa Rasulullah menyebutkan sehat itu adalah kenikmatan, namun sayangnya nikmat sehat inilah yang paling sering dilupakan oleh manusia.

Untuk mengetahui integralitas dan kesempurnaan ajaran islam, tidak bisa tidak, kita harus melibatkan hadits-hadits Rasulullah untuk melakukan eksplorasi praktek dan implementasi nilai dan ajaran islam dalam kehidupan beliau. Sebab Nabi Muhammad SAW adalah model praktek seluruh ajaran islam yang Allah sebut sebagai Uswatun Hasanah (suri tauladan). Dalam hal kesehatan, kita jumpai banyak arahan di seputar masalah ini dari hadits-hadits Rasulullah, baik yang bersifat qau’liy (ucapan) dan fi’liy (perbuatan). Dari hadits-hadits islam tersebut, secara ringkas dapat disimpulkan beberapa prinsip tentang kesehatan dalam islam :

  1. Menjaga kebersihan badan, pakaian, dan tempat tinggal
  2. Menjalani pola hidup islami
  3. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib
  4. Menghindari daerah wabah
  5. Menghindari segala sesuatu yang menimbulkan bahaya
  6. Menjalankan ibadah yang diperintah Allah SWT
  7. Segera berobat ketika sakit
  8. Berobat dengan sesuatu yang halal dan dibenarkan
  9. Berobat kepada ahlinya

Jika kita perhatikan, dari sekian banyak prinsip kesehatan islam yang tadi disebutkan, kita dapati bahwa sebagian besar prinsip-prinsip tersebut berkenaan dengan bagaimana melakukan usaha-usaha pencegahan terhadap timbulnya penyakit, sesuai dengan kesehatan yang sangat terkenal “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Upaya-upaya pencegahan yang dianjurkan agama, sesungguhnya membuka ruang yang sangat luas terhadap berbagai pilihan-pilhan, salah satunya adalah dengan “Imunisasi”. yang dimaksudkan agar tubuh memiliki kekebalan terhadap jenis penyakit tertentu. Sehingga diharapkan prinsip kesehatan dalam islam dapat terwujud dimana islam menghendaki umatnya selalu dalam kondisi sehat dan terjauh dari penyakit.

Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah dibanding mengobati seseorang yang telah sakit dan dirawat di rumah sakit. Dalam melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang paling efektif dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita.

Penurunan insiden penyakit menular telah terjadi berpuluh-puluh lampau di Negara-negara maju yang telah melakukan imunisasi dengan teratur,demikian juga di Indonesia, contohnya pada tahun 1985 terjadi penurunanan insidens untuk penyakit difteri, pertusis, tetanus, campak dan polio. Dengan melakukan imunisasi terhadap seorang anak, tidak hanya memberikan perlindungan pada anak tersebut tetapi juga berdampak pada anak lainnya karena terjadi tingkat imunitas umum yang meningkat dan mengurangi penyebaran infeksi, oleh karena itu sangat penting untuk melakukan imunisasi terhadap anak dan dewasa.

Berdasarkan data terakhir WHO, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per tahun akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, misalnya batuk rejan/pertusis (294.000/20%), tetanus (198.000/14%), campak (540.000/38%). Sedangkan di Indonesia, UNICEF mencatat 30.000-40.000 anak setiap tahun meninggal karena campak. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 oleh Depkes dan BPS cakupan imunisasi lengkap hanya 46,2% (BCG, polio 3x, DPT 3x, Hep. B 3x dan campak). Hal ini menunjukkan upaya pencegahan penyakit belum perhatian khusus. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara masyarakat, orang tua, petugas kesehatan, pemerintah, LSM dan akademisi untuk mengupayakan program imunisasi.

Secara konvensional, upaya pencegahan penyakit maupun cedera dan keracunan di dalam 3 kategori :

  1. Primer : upaya untuk menghindari terjadinya sakit/kejadian yang mengakibatkan sakit/menderita cedera dan cacat. Contohnya : memperhatikan gizi, pengamanan terhadap segala macam cedera dan keracunan, vaksin/imunisasi.
  2. Sekunder : berupa pendeteksian dini dengan memberikan pengobatan sesuai diagnosis sehingga tidak terjadi komplikasi berupa kematian dan cacat.
  3. Tersier : membatasi berlanjutnya penyakit atau kecacatan dengan upaya pemulihan agar dapat hidup mandiri berupa terapi rehabilitasi medik.

Istilah imunisasi dan vaksinasi sering kali diartikan sama. Imunisasi adalah pemindahan/transfer antibody secara pasif. Vaksinasi adalah pemberian vaksin/antigen yang dapat merangsang pembentukan imunitas dari sistem imun di dalam tubuh. Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit.

Dilihat dari cara timbulnya, terdapat 2 jenis kekebalan :

  1. Aktif : kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti imunisasi. Kekebalan berlangsung lama karena adanya memori imunologik
  2. Pasif : kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri seperti kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau setelah pemberian immunoglobulin. Kekebalan tidak berlangsung lama karena dimetabolisme oleh tubuh.

Pada dasarnya vaksin dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :

  1. Live attenuated (bakteri/virus hidup yang dilemahkan), vaksin ini diproduksi di laboratorium dengan cara melakukan pembiakan berulang-ulang. Contoh : vaksin campak, gondongan rubella, polio, rotavirus, yellow fever, BCG, demam tifoid oral
  2. Inactivated (bakteri, virus atau komponennya dibuat tidak aktif) dengan cara membiakan bakteri atau virus dalam media pembiakan, kemudian dibuat tidak aktif dengan penambahan bahan kimia. Contoh : influenza, polio, rabies, hep. A, pertusis, tifoid, kolera, lepra, hep. B Hib, pneumokokkus, meningokokkus.

Beberapa imunisasi yang diwajibkan menurut rekomendasi katan Dokter Anak Indonesia) IDAI dan (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) PPI:

  1. Hepatitis B
  2. Polio
  3. BCG
  4. DPT
  5. Campak

Bersambung ….

#dari berbagai sumber

dr. Dhika Hanggita R (Sekretaris Komite Medik RST Dompet Dhuafa)

1,893 total views, 1 views today