Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

PEKAN EDUKASI AKREDITASI RS UNTUK RAIH AKREDITASI PARIPURNA

BOGOR – Jelang Akreditasi Rumah Sakit 2015, Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa terus berbenah mempersiapkan segala hal yang menjadi kebutuhan demi terwujudnya mimpi meraih Akreditasi Paripurna. Salah satunya yaitu dengan menggelar Kegiatan Pekan Edukasi Akreditasi Rumah Sakit bagi seluruh warga RST Dompet Dhuafa.

“Ini merupakan salah satu cara untuk mensosialisasikan kebijakan dan standar baru yang berlaku di RST Dompet Dhuafa berkaitan dengan penerapan standar akreditasi,” ucap Kania, Manager Mutu Rumah Sakit sekaligus Tim Akreditasi RST Dompet Dhuafa.

Lebih lanjut, Kania menyampaikan bahwa seluruh karyawan/I RST Dompet Dhuafa hingga tenaga outsourcing wajib mengikuti kegiatan ini. Hal ini bertujuan agar seluruh karyawan mengetahui dan memahami standar yang akan diberlakukan di RST.

Para karyawan/I RST Dompet Dhuafa pun harus mempelajari terlebih dahulu standar akreditasi yang diujikan pada pekan edukasi dan mengikuti tes untuk menguji pemahaman mereka terhadap standar tersebut.

“Jika lulus tes maka akan kami berikan cap “lulus” pada rapot mereka yang berisi beberapa standar akreditasi yang akan diujikan,” ucap Kania.

Pekan Edukasi Akreditasi Rumah Sakit ini akan diadakan selama satu pekan di setiap akhir bulan. Pada akhir bulan Januari kemarin sendiri telah diadakan edukasi mengenai Sasaran Keselamatan Pasien (SKP).

“Dari jadwal satu pekan kami perpanjang sampai pekan ini, karena masih ada karyawan yang belum melakukan tes untuk SKP ini,” kata Kania.

15 standar akreditasi yang akan diimplementasikan siap diujikan dalam Pekan Edukasi ini diantaranya meliputi, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Asesmen Pasien (AP), Pelayanan Pasien (PP), Akses Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan (APK) dan lain sebagainya.

“Kami berharap dengan cara seperti ini cakupannya akan lebih banyak dan karyawan akan lebih semangat untuk mempelajari standar akreditasi secara mandiri. Karena jika sosialisasi dibuat dengan metode pemaparan di kelas tentunya akan sangat membosankan dan dikhawatirkan karyawan akan jenuh dengan materi yang diberikan, “ tutup Kania. (tie)

1,344 total views, 1 views today