Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

MIMPI YANG TERHENTI

BOGOR. Jika anda masuk ke dalam Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, maka akan banyak sekali pengalaman dan pembelajaran berharga yang akan didapatkan. Hal ini akan memotivasi diri anda untuk menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang begitu melimpah. Pelajaran ini tidak dari lembaga pendidikan, melainkan dari pasien yang begitu luar biasa menjalani rutinitas demi memenuhi kebutuhan untuk menjadi orang sehat.

Rutinitas yang dijalani pasien Hemodialisa adalah dihadapkan dengan mesin cuci darah selama 4 – 5 jam dalam setiap kali melakukan tindakan cuci darah dan dilakukan dua kali dalam sepekan. Kusniati (45) menjalani rutinitas ini selama kurun waktu 12 tahun. Kusniati didiagnosis gagal ginjal pada 27 Juni 2013 lalu.

Mimpi wanita hebat ini adalah untuk menjadi relawan pengajar di daerah terpencil. “Hal yang berharga dalam dunia ini bukanlah uang, melainkan bersosialisasi dengan mereka yang membutuhkan” terang Kusniati. Seorang guru yang sedang memulai langkah untuk mencapai mimpinya ini, terpaksa terhenti ditengah jalan karena diagnosis gagal ginjal.

Kini Kusniati menjalani rutinitas cuci darah dan pengobatan secara rutin. Hidup Kusniati saat ini menggantungkan kepada sang kaka dan belas kasih dari kerabat dekat. Hal ini karena setelah tiga bulan didiagnosis gagal ginjal, Asril (53) sang suami meninggalkannya. Meskipun ada kesempatan untuk kembali menjalin kehidupan rumah tangga, Kusniati enggan menerima kembali sang suami, “Saya trauma mba, takut ditinggalkan lagi.” ucapnya.

Kesana kemari mencari fasilitas cuci darah talah dilakukan Kusniati selama 12 tahun, karena fasilitas Hemodialisa ini masih jarang ditemui di tempat pelayanan kesehatan lainnya. Setelah mengetahui keberadaan Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa sebagai tempat pelayanan kesehatan gratis, kini Kusniati tidak perlu bersusah payah untuk manjalani tindakan cuci darah secara rutin.

“Disini sudah gratis ditambah fasilitas cuci darahnya nomor satu” ungkap Kusniati.

Kusniati membagi pengalaman suka dan duka selama menjalani cuci darah “Saya orang yang serba ingin tahu, saya orang yang pembelajar akan hal baru dan disini tempat saya belajar mengenai informasi yang disampaikan oleh petugas kesehatan dan disini saya memiliki keluarga baru, sesama pasien Hemodialisa”.

Cita-cita untuk terlibat dalam dunia sosial menjadi seorang pengajar seperti yang dimiliki oleh Kusniati ini patut untuk dijadikan contoh, bahwa waktu untuk menggapai cita-cita dimiliki oleh siapapun namun kesempatan yang diberikan hanya terbatas pada siapa yang memilikinya. Kesempatan ini kita jadikan nikmat yang begitu berharga dengan membaginya kepada siapapun yang saat ini memiliki keterbatasan. Mari berbagi kesempatan dengan berbagi kebahagiaan dan mendukung kepada mereka yang membutuhkan dengan membagi donasi anda melalui BNI Syariah 0298535912 atas nama Yayasan Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. (Um)

1,240 total views, 1 views today