Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

RAMADHAN MEMBENTUK JIWA YANG SEHAT

Kita semua selalu ingin sehat, namun perlu kiranya dipahami pengertian dari sehat itu sendiri secara benar dan tepat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.

Dan definisi sehat menurut WHO tersebut, terdapat empat komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam definisi sehat yaitu:

1. Sehat Jasmani

Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.

2. Sehat Mental/Jiwa

Sehat Mental/Jiwa dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno “Dalam jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat “ (Men Sana In Corpore Sano)”. Atribut seorang insan yang memiliki mental/jiwa yang sehat adalah antara lain adalah gembira, santai dan menyenangkan serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan serta dapat  bergaul dengan baik dan dapat menerima kritik serta tidak mudah tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi terhadap kebutuhan emosi orang lain.

3. Kesejahteraan Sosial

Batasan kesejahteraan sosial yang ada di setiap tempat atau negara sulit diukur dan sangat tergantung pada kultur, kebudayaan dan tingkat kemakmuran masyarakat setempat. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.

4. Sehat Spiritual

Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.

Keempat komponen ini dikenal sebagai sehat positif atau disebut sebagai “Positive Health” karena lebih realistis dibandingkan dengan definisi WHO yang hanya bersifat idealistik semata-mata.

Dan suasana  di bulan Ramadhan yang penuh kebaikan dan keberkahan, serta ibadah puasa yang dijalankan kaum mukminin telah banyak memberikan manfaat untuk kesehatan jasmaniah Ternyata juga  sangat bermanfaat untuk membentuk jiwa yang sehat bagi kaum mukminin. Jiwa yang sehat dikarenakan hubungan dengan Allah SWT Yang Maha Kuasa semakin kuat dan hubungan dengan sesama manusia semakin baik.

Di bulan Romadhon, terdapat beberapa penyakit spiritual dan jiwa yang dapat disembuhkan, yaitu :

1.Penyakit KUTIL (kurang tilawah Al-Qur`an)

Kaum mukminin berloma-lomba membaca Al-Qur`an sampai khatam 30 juz selama bulan Romadhon, artinya ditargetkan tilawah Al Qur`an 1 juz setiap harinya.. Bahkan ada yang memiliki target dapat mengkhatamkan Al Qur`an sampai 3 kali selama bulan Romadhon.

2.Penyakit KUSTA (kurang sholat tahajud)

Di bulan biasa betapa beratnya untuk menegakkan sholat malam atau tahajud. Mulai dari rasa ngatuk yang tidak dapat dilawan sampai rasa malas yang sulit ditaklukan menjadi alasan kenapa jarang menegakkan sholat tahajud. Namun datangnya bulan Ramadhon menggelorakan kaum mukminin untuk dapat menegakkannya, paling tidak pada saat sholat Tarawih.

3.Penyakit KURAP (kurang rasa peduli)

Rasulullah SAW mengajarkan memberikan makan / minum saudaranya untuk berbuka ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Ini adalah sikap peduli terhadap sesama yang membutuhkan. Kecenderungannya, selama Ramadhon begitu banyak kaum mukminin yang melaksanakan ibadah puasa, banyak meningkatkan rasa peduli terhadap sesamanya (terutama yang dhuafa) dengan cara mengeluarkan infaq dan shodaqoh. Tentunya diiringi juga dengan kewajiban mengeluarkan zakat yang ketetapannya sudah ada dalam ajaran agama Islam. Suasana Ramadhon seperti ini sangat mendukung untuk memusnahkan penyakit KURAP dalam komunitas masyarakat mukmin/ah.

4.Penyakit KUDIS (kurang disiplin)

Makan sahur serta waktu berbuka yang telah ditetapkan, bagi kaum mukminin menjadi momen untuk belajar disiplin. Disiplin kapan boleh makan dan minum, serta disiplin kapan tidak boleh makan dan minum. Rasa disiplin juga ditunjukkan dengan semakin banyaknya kaum mukmin yang menegakkan sholat wajib tepat waktu dan bahkan senang berjama`ah di masjid atau mushollah.

5.Gejala MUNTAH (mudah untuk marah)

Puasa menumbuhkan sikap sabar atau tidak mudah untuk marah dari kaum mukminin. Tuntutan untuk menahan diri walaupun sedang menghadapi godaan atau ujian atau hinaan yang tidak menyenangkan sangatlah besar ketika kaum mukmin sedang menjalankan ibadah puasa. Karena sesungguhnya kemenangan yang besar akan dirasakan ketika kaum mukminin mampu menahan hawa nafsu atau amarahnya.

Dengan tidak mudah marah maka akan membuat tekanan darah kita menjadi normal. Apabila seseorang sedang marah, maka kadar zat kathekolamin dalam tubuhnya akan meningkat dan menyebabkan jantung berdetak lebih cepat, pembuluh darah menjadi sempit dan aliran darah terganggu sehingga menyebabkan tekanan darahnya akan naik.

dr. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa) 

1,004 total views, 2 views today