Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

RUMAH SEHAT TERPADU DD AKTIF MENGGELAR PELATIHAN

BOGOR. Sebagai RS Rumah Sehat Terpadu DD yang sedang mempersiapkan untuk akreditasi pada tahun 2015, seluruh lini karyawan mempersiapkan diri untuk menjadi tanggap dan cepat dalam mengatasi persoalan yang darurat dalam beberapa jenis pelatihan. Untuk mengatasi korban, secara mendadak atau karena peristiwa lain, kehilangan kesadaran maka terdapat prosedur tindakan untuk mengembalikan kesadaran. Tindakan tersebut adalah Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang pelatihanya telah dilaksanakan setiap hari Rabu selama enam kali pertemuan di bulan Mei dan Agustus dan dihadari 180 peserta.

Pada kesempatan kali ini, RS Rumah Sehat Terpadu DD melalui tim K3 mengadakan pelatihan untuk penggunakan APAR (alat pemadaman api ringan). Target pelatihan ini diikuti oleh seluruh karyawan RS Rumah Sehat Terpadu DD yang berjumlah 325 orang dan diadakan dengan 4 (empat) gelombang setiap Kamis pada bulan September dan Oktober. Pada saat pelatihan, peserta mengikuti materi yang sebelumnya terdapat pre-test dan post-test setelah kegiatan selesai.

Selain untuk tujuan akreditasi, dimana seluruh karyawan perlu mengetahui tindakan-tindakan darurat, pelatihan APAR inipun dilaksanakan guna mengatasi persoalan yang sering muncul disekitar kita. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) DKI Jakarta mencatat dari periode Januari hingga April 2015 terjadi sebanyak 309 kasus kebakaran di wilayah ibu kota. Kebakaran hutan di Indonesia telah mencapai titik tertinggi setidaknya selama tiga tahun terakhir, kemungkinan besar karena pembakaran ilegal pada lahan pertanian dan gambut. Hanya selama satu pekan terakhir, titik api yang terdeteksi di Indonesia mencapai 13.000 titik.

Meskipun pelatihan ini ditujukan kepada kebakaran dengan kapasitas kecil, namun pengetahuan didalamnya dapat digunakan untuk kebakaran dalam skala besar. Prinsip utama dalam penanggulangan kebakaran adalah “Padamkan Api Sebelum Besar”. Dalam pelatihan ini peserta diberikan materi mengenai penyebab kebakaran yang disebut “segitiga api”, terdiri dari sumber panas (kimia, listrik, mekanik, nuklir, dan matahari), oksigen (minimal 16%) dan bahan yang mudah terbakar (padat: kayu, kain, kapas; cair: minyak tanah, bensin, spirtus, solar; dan gas: karbit, LPG).

Kamudian proses terjadinya api, yakni dengan konduksi atau panas yang berpindah dengan cara menjalar melalui benda (penghantar) ke semua arah, konveksi atau panas yang berpindah dengan cara merambat baik melalui udara maupun benda, dan radiasi atau panas yang berpindah dengan cara memancar melalui udara ke semua arah.

Kebakaran yang sering terjadi disekitar kita terbagi kedalam 4 (empat) klasifikasi, yakni kelas A yang disebabkan oleh bahan padat (kayu, kertas, karet, kain, dll), kelas B yang disebabkan oleh bahan cair dan gas (bensin, solar, minyak tanah, LPG, dll), kelas C yang disebabkan oleh aliran listrik (mesin dan alat medis), dan kelas D yang disebabkan oleh logam (Logam Na, K, dll).

Setelah berbagai materi mengenai kebakaran, peserta pun diperkenalkan dengan Alat Pemadam Api Ringan atau APAR. Sesungguhnya tujuan pemadaman kebakaran ini adalah untuk menurunkan suhu bahan terbakar, mengurangi dan memisahkan bahan terbakar dengan oksigen, dan mengurangi radikal bebas penyebab reaksi berantai. Pemadaman api ini dilakukan oleh APAR, hydrant dan fire system dan dinas pemadam kebakaran jika api yang dihasilkan dalam skala besar.

Dalam hal ini, peserta pelatihan kali ini peserta hanya dikenalkan dengan APAR, yakni suatu alat pemedam kebakaran yang dapat di bawa, dioperasikan oleh satu orang, berdiri sendiri, mempunyai berat antara 0.5 kg – 16 kg dan digunakan pada api awal. Bagian dari APAR ini terdiri dari kunci pengaman, tas, indikator tekanan, label, selang, corong, dan tabung.

Penggunaan APAR mudah sekali, hanya tinggal mengingat kata PASS yakni terdiri dari Pull the pin, Aim low, Squeze, dan Sweep. Pull the pin yakni tarik pin yang terdapat pada APAR karena biasanya terdapat pin sebagai bukti APAR tersebut telah terkunci dan aman sebelum digunakan. Aim low yakni arahkan corong APAR kepada sumber api. Squeeze yakni tekan tuas pada APAR. Sweep yakni arahkan corong apar pada sumber api. Penggunaan APAR ketika kebakaran terjadi, sebaiknya mengkuti arah angin, dengan sudut APAR pada sumber pai sebesar 30 – 60 derajat dan APAR ini diarahkan kepada sumber api bukan pada lidah api.

Pemadaman kebakaran ini pada dasarnya bisa dilakukan oleh siapapun. Jika tidak terdapat APAR disekitar maka kabakaran bisa dipadamkan dengan menggunakan kain (handuk, selimut, sprei, karung goni dll) yang sudah dibasahi air. Kemudian kain tersebut ditutupkan pada sumber api kecil.

“Pelatihan APAR ini sangat bermanfaat untuk menangani kebakaran ringan disekitar kita, intinya kalau ada kebakaran maka harus diingat adalah jangan panik” ucap Desi, salah satu peserta APAR.

Penting untuk diketahui mengenai hal yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran adalah jangan panik, lakukan RACE dan lakukan evakuasi menuju essembly poin atau titik berkumpul. RACE merupakan singkatan dari Remove yakni pindahkan langsung pasien yang berada dekat dengan bahaya, Alarm yakni panggil bantuan dan hidupkan alarm, Close yakni tutup pintu, dan Exthinguisher yakni padamkan api dengan APAR atau hubungi dinas pemadam kebakaran. Yuk kita tanamkan pada diri untuk tidak panik dalam menghadapi kebakaran.

1,110 total views, 1 views today