Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

JAMU, ANTARA OBAT TRADISIONAL DAN TRADISI

BOGOR. Sebagai Negara yang dibangun dari kerajaan dan budaya yang tradisional, Indonesia memiliki kebiasaan yang mengakar dan membudaya hingga saat ini. Sebut saja ‘jamu’, hampir semua kalangan di Indonesia mengenal kata ini.

Kebiasaan mengkonsumsi jamu ini tak lepas dari sejarah pada masa lampau yakni pada masa kerajaan. Menurut ahli bahasa Jawa Kuno, istilah “jamu” berasal dari singkatan dua kata bahasa Jawa Kuno yaitu “Djampi” dan “Oesodo”. Djampi berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa dan ajian-ajian sedangkan Oesodo berarti kesehatan. Pada abad pertengahan (15-16 M), istilah oesodo jarang digunakan. Sebaliknya istilah jampi semakin popular diantara kalangan keraton.

Kemudian sebutan “jamu” mulai diperkenalkan kepada masyarakat umum oleh “dukun” atau tabib pengobat tradisional. Bukti bahwa jamu sudah ada sejak jaman dulu dan sering dimanfaatkan adalah dengan adanya relief Candi Borobudur pada masa Kerajaan Hindu-Budha tahun 722 M, di mana relief tersebut menggambarkan kebiasaan meracik dan minum jamu untuk memelihara kesehatan. Bukti sejarah lainnya yaitu penemuan prasasti Madhawapura dari peninggalan Kerajaan Hindu-Majapahit yaitu adanya profesi “tukang meracik jamu” yang disebut Acaraki.

Sebagai suatu bentuk pengobatan tradisional, jamu memegang peranan penting dalam pengobatan penduduk negara berkembang. Diperkirakan 70-80% populasi di negara berkembang memiliki ketergantungan pada obat tradisional. Di Indonesia sendiri data riset kesehatan dasar (rikesdas) pada tahun 2013 menunjukan sekitar 30,4 persen penduduk Indonesia telah memanfaatkan kesehatan tradisional, dan 49 persen diantaranya menggunakan ramuan jamu.

Kekayaan alam Indonesia membaut Negara ini menghasilkan produk yang melimpah dengan jenia dan manfaat yang beragam. Ini terbukti dengan banyaknya jenis jamu yang kini menyebar hampir dipenjuru negeri ini, diantaranya :

Beras kencur, sesuai namanya, jamu ini terbuat dari bahan utama yiatu beras dan kencur. Manfaatnya selain menyegarkan, kandungan yang ada di dalamnya memiliki senyawa yang bermanfaat, seperti minyak atsiri, zat ini berfungsi sebagai zat analgesic, yaitu zat yang memiliki kemampuan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri, menghilangkan capek, pegal-pegal, batuk, radang lambung, sariawan, keracunan makanan, perut kembung. Tak hanya itu saja, beras kencur juga bermanfaat untuk menambah tenaga karena memiliki sifat stimultan.

Kunyit asem, jamu kunyit asem bahannya terdiri dari rimpang kunyit atau kunir dan asam jawa matang yang direbus dengan takaran yang seimbang. Biasanya diberi rasa manis dengan campuran gula Jawa atau gula batu. Khasiatnya selain sebagai minuman penyegar, juga dipercaya mampu meringankan nyeri haid serta nyeri perut lainnya. Bagi kebanyakan wanita, kunyit asem dimanfaatkan sebagai jamu pelangsing. Jamu ini diyakini dapat menghaluskan kulit serta membuat wangi tubuh menjadi segar. Namun yang perlu diperhatikan adalah, wanita hamil dilarang sering mengkonsumsi minuman ini, karena berbahaya bagi perkembangan bayi dalam kandungan.

Kunci suruh (daun sirih), bahan baku jamu ini sesuai dengan namanya, yaitu rimpang kunci dan daun sirih. Biasanya selalu ditambahkan buah asam yang masak. Jamu kunci suruh dimanfaatkan oleh wanita, terutama ibu-ibu untuk mengobati keluhan keputihan (fluor albus). Sedangkan manfaat lain yaitu untuk merapatkan bagian intim wanita (vagina), menghilangkan bau badan, mengecilkan rahim dan perut, serta dapat menguatkan gigi.

Temulawak, jamu jenis ini baik diminum oleh penderita penyakit hati (hepatitis) karena memiliki efek hepatoprotektor, yaitu efek untuk mencegah penyakit hati. Temulawak juga bisa dimanfaatkan untuk menurunkan kolesterol maupun menghilangkan pegal linu pada tubuh.

Sambiloto, biasa disebut sebagai jamu pahitan. Seperti namanya, jamu ini terbuat dari daun sambiloto. Khasiat jamu yang rasanya sangat pahit ini adalah dapat mengatasi kencing manis, membersihkan darah kotor yang bisa menyebabkan penyakit kulit (gatal-gatal atau jerawat). Selain itu, sambiloto juga mampu menurunkan kolesterol dan menghilangkan bau badan.

Sinom, jamu yang satu ini murni menggunakan bahan daun sinom (daun asam Jawa). Biasanya jamu ini berbahan kunyit asam dan ditambahkan daun sinom. Khasiatnya sama seperti jamu kunyit asam, yaitu bisa menyegarkan badan, mengindari sariawan dan panas dalam.

Cabe Lempuyang, jamu ini biasanya disebut juga sebagai jamu pegal linu, karena khasiatnya yang paling umum adalah untuk mengatasi rasa pegal linu pada tubuh. Khasiat lain adalah mengatasi kesemutan dan menyembuhkan demam.

Gepyokan, gepyokan berasalah dari istilah Jawa (digepyok atau dipukul-pukulkan). Jamu ini terbuat dari berbagai jenis bahan yang digepyokan atau dipukul-pukul hingga hancur dan menjadi satu. bahan-bahannya bisa terdiri dari kunyit, kencur, temulawak, lengkuas dan jahe.

Namun, dewasa ini budaya mengkonsumsi jamu kian berkurang. Diantaranya adalah karena jamu seringkali diasumsikan sebagai minuman orang tua atau minuman kuno. Kemudian karena rasanya yang pahit. Namun, dengan perkembangan inovasi jamu tidak harus digodok lalu diminum sehingga terasa pahit. Jamu sekarang sudah ada yang berbentuk yakni tidak bubuk atau powder tapi juga berkembang dalam bentuk pil, kapsul, kaplet, dan cair.

# dari berbagai sumber

1,335 total views, 2 views today