Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

SEPENUH HATI AGUS MENJAGA SANG ISTRI

Buah hati adalah anugerah tiada tara yang Allah SWT berikan kepada pasangan suami istri yang diikrarkan dengan janji ayat suci al-quran. Menantinya adalah waktu yang selalu dihitung semenjak ruh ditiupkan kepada janin pada saat dikandungan. Dan kehadirannya adalah dambaan seoalah tidak ada kebahagiaan lain yang setara. Itulah dia kehadiran sang buah hati.

Pasangan Yan Dwi Lestari (31) dan Agus Haryanto (33) telah mengikrarkan janji suci untuk menapaki hidup bersama selama 10 tahun. Keduanya telah dianugerahi dua anak kembar berusia 9 tahun yakni Satrio dan Satria dan anak kembar ini lahir dengan normal.

Sejak tahun 2013 Yan Dwi harus melakukan aktivitas kesehariannya diatas kursi roda. Karena sebelumnya ia terjatuh dan mengenai tulang kakinya yang kemudian patah. Dengan dibantu oleh suaminya, Agus, ibu anak kembar ini mampu menjalani rutinitas seperti biasa.

Meskipun pergeraknnya terbatas, namun semangat untuk membantu suami dan keluarga tetap ada. “Saya kadang membantu menyeterika dan membantu aktivitas lain yang bisa dilakukan dengan duduk” ungkap Yan Dwi. Setiap harinya Yan Dwi habiskan dengan berbaring dan duduk. Kalaupun ada aktivitas yang harus dilakukan, maka suaminyalah yang menjadi tongkat berjalannya. “Saya digendong suami saya kalau mau berpindah atau melakukan aktivitas di rumah“ ucapnya lirih.

Pada Agustus 2015, kondisi Yan Dwi semakin memperihatinkan. Bagaimana tidak, bagian kakinya patah, kemudian terkena anaknya dan ketika itu hamil 8 (delapan) bulan. “Saya tertimpa anak saya” tambahnya ketika terbaring di ruang Al-Aziz RS Rumah Sehat Terpadu DD. Mengingat usia kehamilannya yang ketika itu akan menginjak 9 bulan, Yan Dwi akan memutuskan untuk tindakan operasi Caesar atau kelahiran dengan proses bedah pada 27 Agustus 2015. Tindakan ini diambil karena melihat kondisi Yan Dwi yang tidak memungkinkan untuk kelahiran normal.

Namun, tidak hanya sampai disitu perjuangan Yan Dwi untuk menyelamatkan kandungannya. Bersama dengan keluarga, Agus mengerahkan segala upaya agar anak dan istrinya bisa diselamatkan. Banyaknya hambatan untuk Yan Dwi melahirkan anaknya. Agus membawa Yan Dwi ke berbagai rumah sakit dengan harapan anaknya bisa dilahirkan dengan lancar. Nasib selah tidak berpihak padanya, dari sekian banyak rumah sakit semuanya memiliki kendala untuk melakukan operasi Caesar dengan alasan adanya persoalan patah tulang yang membuatnya beresiko jika melakukan pembiusan atau anestesi. Alasan keanggotaan kartu jaminan pun menjadi salah satu rumah sakit menjadi hambatan untuk mendapatkan ruangan perawatan.

Semangat Agus tidak berhenti sampai disitu, demi istri tercintanya kembali Agus mencari cara agar istri dan kelahiran buah hatinya bisa selamat. Ia mencoba meminta rujukan dari rumah sakit dekat rumahnya untuk ke rumah sakit besar yang dipercaya memiliki fasilitas lengkap “Waktu istri saya mau dirujuk ke salah satu rumah sakit besar di Jakarta dengan menggunkan ambulan LKC (layanan kesehatan cuma-cuma), salah satu perawat RS Rumah Sehat Terpadu DD menghubungi saya untuk segera membawa istri saya kesana” tambah Agus ketika merapihkan tempat tidur Yan Dwi.

Sesampainya di RS Rumah Sehat Terpadu DD pada 31 Agustus 2015, petugas langsung melayani dengan didampingi oleh dokter kala itu langsung memutuskan akan dilakukannya tindakan Caesar beberapa jam kemduian dengan pertimbangan penyelamatan bayi nomor satu. Untuk persoalan tulang patah pun ditangani oleh spesialis bedah tulang atau orthopedi RS Rumah Sehat Terpadu DD beberapa waktu setelah kelahiran bayi dan tindakan ini berjalan dengan lancar. Kini bagian tulang yang patah dipasangi gips untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali. Cara kerja gips  adalah dengan mengimobilisasi tulang yang patah tersebut dalam posisi tertentu dan memberikan tekanan yang merata pada jaringan lunak yang terletak didalamnya. Selama di RS Rumah Sehat Terpadu DD, Yan Dwi hanya ditemani dengan sang suami, “Soalnya istri saya tidak mau ditemani yang lain” tambah Agus.

Ketika ditanyai bagaimana rutinitas yang seorang istri menjadi tulang punggung mengurus rumah, Agus menjawab “Saya tidak terlalu memikirkan masalah bagaimana saya dan anak-anak saya mengurus urusan rumah, yang jelas istri saya baik-baik saja”.

“Harapan terbesar saya adalah Dwi Yan dapat sembuh secara maksimal namun, kalaupun memang sulit maka yang terpenting adalah bahwa kondisinya sehat” tutup Agus. Pemasangan gips pada Yan Dwi ini bersifat sementara hingga alat kesehatan yang dibutuhkan ada. Alat yang dibutuhkan berupa locking plate 12 dan hole and screw 8 dengan total biaya yang dikeluarkan sebesar 11 juta rupiah. Bagi siapa saja yang ingin memberikan bantuan alat kesehatan dengan konfirmasi Humas RS Rumah Sehat Terpadu DD di nomor 0823 1181 0128. Bantuan dapat pula melalui donasi ke rekening kami di BNI Syariah dengan nomor rekening 0298535912 atas nama Yayasan Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Terima kasih (um).

1,151 total views, 1 views today