Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

HARAPAN ASEP UNTUK DIMAS

BOGOR. Ekspresi wajah yang tak bisa digambarkan ketika kami menemui salah satu orang tua pasien yang kini tengah berbaring lemah di ruang perawatan intensif anak atau PICU salah satu rumah sakit ibu dan anak di Bogor. Pediatric intensive care unit atau PICU adalah ICU (Intensive Care Unit)  untuk anak dengan usia 29 hari sampai 18 tahun. Sama seperti pemantauan dan tindakan invasif dan non-invasif yang dapat dilakukan di ICU dewasa, semua hal tersebut dapat dilakukan di PICU.

Pria yang kini telah menunggu di selasar ruang humas RS Rumah Sehat Terpadu DD itu adalah Asep (37), merupakan ayah dari Dimas (9) yang kini telah berbaring di PICU. Dimas menderita sakit DBD atau demam berdarah yang disebabkan oleh virus yang berasal dari gigitan nyamuk. Gejala demam berdarah umumnya akan terlihat pada tiga hingga empat belas hari setelah masa inkubasi dan biasanya diawali dengan demam tinggi yang bisa mencapai suhu 41 derajat celsius. Masa inkubasi adalah jarak waktu antara virus pertama masuk ke dalam tubuh sampai gejala pertama muncul.

Dimas di rawat di salah satu rumah sakit ibu dan anak di Bogor mengingat fasilitas di tempat kami belum lengkap sepenuhnya, maka kami merujuk pasien ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap. Rujukan yang kami lakukan adalah kepada pesien member dengan jaminan sepenuhnya yang di tanggung oleh RS Rumah Sehat Terpadu DD dan didampingi oleh tim rujukan hingga pasien sampai di rumah sakit yang di tuju.

Berdasarkan keterangan Asep, sebelumnya Dimas mengalami demam selama beberapa hari dan dibawa ke dokter dekat rumah. Karena tidak ada perkembangan, maka Dimas kemudian dibawa ke Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) terdekat kerumah dan kemudian di rujuk ke salah satu rumah sakit didaerah Parung. Beberapa hari dirawat tidak menunjukan perkembangan dan juga kesusahan lainnya adalah biaya yang tidak lagi mencukupi untuk Dimas dirawat ditempat itu. Hambatan biaya yang kemudian Asep dan Tini membawa Dimas ke RS Rumah Sehat Terpadu DD. Dimas masuk IGD rumah sakit ini pada demam ketujuh. Kondisi Dimas ketika itu sudah menurun dan perlu adanya perawatan intensif atau PICU. Pihak kami kemudian mengarahkan untuk dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas PICU.

Sangat menyayat hati ketika menyaksikan seorang ayah menangis. Dibalik kekarnya fisik seorang ayah, hatinya kini ada pada kondisi yang terdalam untuk menangis. “Kondisi dimas saat ini semakin menurun, membuka matanya pun sepertinya sulit” ucap Asep pada kesempatan kali itu. Dimas adalah anak kedua dari tiga bersaudara dan dua saudara lainnya adalah Deri (11) dan Dara (6 bulan). Ketiga buah ini merupakan anak dari Asep dan Tini (31).

Asep sehari-harinya bekerja sebagai sopir angkot untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Untuk menghidupi keluarganya, perhari Asep mendapatkan penghasilan sebanyak 40.000 – 50.000 rupiah. Ini masih jauh dibatas cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Biaya yang dikeluarkan untuk perawatan Dimas hingga saat ini adalah sebesar Rp 8.000.000. Ini hanya akan terpenuhi dari uluran tangan kebaikan semuanya. “Harapan terbesar saya saat ini adalah Dimas dapat sembuh seperti sedia kala” tutupnya dengan mengusap air mata yang sedari tadi menetes. Bagi siapa saja yang ingin memberikan bantuan untuk perawatan Dimas, bisa disalurkan ke rekening BNI Syariah dengan nomor rekening 0298535912 atas nama Yayasan Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Terima kasih.

1,027 total views, 1 views today