Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

NEGARA KUAT DAN BERSIH DENGAN ASI

Menyusui adalah cara alamiah yang direkomendasikan untuk diberikan kepada semua bayi. Dan air susu ibu (ASI) merupakan makanan dan minuman yang terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan (secara eksklusif atau hanya ASI saja) dan dilanjutkan sampai bayi berusia 2 tahun dengan makanan pendamping ASI.

Bayi usia 0-6 bulan tidak memerlukan air atau makanan lainnya (seperti air teh, jus, air gula, air beras, susu lain dan bubur), walaupun berada di daerah yang beriklim panas sekalipun, ASI sudah dianggap memenuhi seluruh kebutuhan bayi. Jadi seorang ibu harus menyusui ASI kepada bayinya secara eksklusif saat bayi berumur 0 – 6 bulan dan dengan  makanan pendamping ASI saat bayi berumur 7 – 24 bulan.

Dengan menyusui ASI dan tidak memberikan susu formula pada bayi, terutama saat bayi berusia 0-6 bulan, ternyata secara data memberikan dampak yang baik untuk negara. Dengan ASI, negara akan menjadi kuat secara aspek ekonomi dan negara semakin bersih karena tidak adanya polusi yang merusak lingkungan.

Secara aspek ekonomi, dengan ASI menjadi gerakan bersama di masyarakat, akan dapat membantu menimbulkan potensi penghematan dan akhirnya dapat menekan defisit anggaran negara serta mencegah meningkatnya angka kemiskinan. Dengan perhitungan berikut ini, dapatlah dipahami bahwa ASI menjadikan negara kuat secara aspek ekonomi.

Berdasarkan data, jumlah bayi di Indonesia tahun 2013 sebanyak 4,6 juta dimana cakupan ASI Eksklusifnya (SDKI 2012) hanya sebesar 27%. Berarti hanya sekitar 1.242.000 bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif, dan sisanya sekitar 3.358.000 bayi diberikan susu formula (sufor) selama 0-6 bulan. Biasanya, sufor dalam kemasan kaleng 800 gram akan habis dalam 5 hari, sehingga dalam 6 bulan diperlukan sekitar 36 kaleng sufor.

Harga sufor kemasan kaleng 800 mg yang termurah adalah Rp 21.000,- (dua puluh satu ribu rupiah) dan yang termahal sekitar Rp 320.000,- (tiga ratus dua puluh ribu rupiah), atau kalau dirata-rata harganya berkisar Rp 116.000,- (seratus enam belas ribu rupiah) per kaleng 800mg. Sesungguhnya terdapat potensi penghematan anggaran yang cukup besar apabila diberikanpada seluruh bayi (berjumlah 4,6 juta) ASI Eksklusif dan tidak menggunakan sufor, yaitu sekitar 19 trilyun (menggunakan harga rata-rata), hal tersebut belum termasuk biaya bahan bakar minyak (BBM) dan air yang juga dihemat.

Di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) RI di tahun 2013, terjadi defisit anggaran sebesar 125 trilyun (penerimaan sebesar 1.292 trilyun dan pengeluaran sebesar 1.418 trilyun). Dengan ASI, terutama pada ASI Eksklusif, terdapat potensi penghematan yang cukup besar.

Di sisi lain, dengan ASI dapat mencegah meningkatnya angka kemiskinan penduduk, Penghasilan rata-rata penduduk Indonesia dalam garis kemiskinan, sekitar >42% (97 juta orang) adalah 2 US$ / hari, kira-kira setara dengan Rp 600.000,- (enam ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 720.000,- (tujuh ratus dua puluh ribu rupiah) setiap bulan. Apabila memiliki bayi dan diberikan ASI Eksklusif dan tidak diberikan sufor, maka terjadi penghematan biaya yang dikeluarkan dalam keluarga sekitar Rp 696.000,- (enam ratus sembilan puluh enam ribu rupiah) setiap bulannya (6 kaleng sufor dikalikan harga rata-rata 1 kaleng sufor sebesar Rp 116.000,-).

Dengan tidak adanya beban biaya tambahan untuk membeli sufor, maka keluarga dengan penghasilan terbatas tersebut dan masuk kategori miskin akan dapat dicegah untuk tidak menjadi lebih miskin. Dan keluarganya lainnya, yang juga memiliki keterbatasan tetapi tidak masuk kategori miskin, dengan ASI pada bayinya secara eksklusif akan mencegahnya menjadi keluarga miskin.

Dengan ASI, selain negara menjadi kuat secara aspek ekonomi, ternyata dapat membuat negara menjadi lebih bersih. Menyusui ASI, tidak menghasilkan sampah atau jejak karbon, istilahnya adalah NOL jejak karbon (carbon footprint). Dimana jejak karbon merupakan  volume karbon yg diemisikan/dihasilkan oleh aktivitas, individu, komunitas, organisasi, atau bisni). Menyusui ASI juga tidak membutuhkan air bersih, istilahnya adalah NOL jejak air (water footprint). Jejak air adalah volume air bersih yang digunakan dalam kegiatan individu, komunitas, atau bisnis. Kedua indikator tersebut merupakan indikator yang dikaitkan dengan upaya  menyelamatkan pohon, lahan, dan hutan.

Dalam suatu penelitian di Meksiko, disimpulkan bahwa untuk membuat 1 kg sufor bubuk dihasilkan dari 12,5 m² hutan tropis. Dengan habisnya hutan menyebabkan kerusakan lapisan ozon dan kerusakan lingkungan. Sedangkan di Amerika, bila semua ibu tidak menyusui, dalam 1 tahun dibutuhkan 86 ribu ton timah untuk membuat 550 juta kaleng susu bayi dan 1.230 ton label kertas untuk membuat labelnya, pada akhirnya akan menjadi limbah dan menimbulkan masalah polusi lingkungan. Selain itu, apabila memberikan sufor, maka diperlukan botol dan dot memerlukan plastik, kaca, karet, dan silikon yang semuanya tidak dapat didaur ulang yang menimbulkan masalah polusi.

Dengan memberikan ASI dan tidak menggunakan sufor, maka negara akan menjadi kuat secara aspek ekonomi dan negara menjadi lebih bersih karena lingkungan terpelihara dan  polusi dapat dicegah.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas, keluarga sejahtera, negara sehat dan kuat serta lebih bersih.

# dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

824 total views, 1 views today