Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

BAYI PAKISTAN LAHIR DI RST

BOGOR. Menjelang siang di selasar Ruang VK (Velos Khamer) RS Rumah Sehat Terpadu DD, sedang terduduk Salim Khan (29) atau nama sebelumnya adalah Nowroz Ali. Laki-laki ini dari tampilannya menunjukan bahwa ia adalah penduduk asing dengan tinggi, berkulit putih, dengan hidung mancung serta mata yang menunjukan cirri khas Asia Selatan.

Salim disini sedang menunggu kerabat dekatnya yang telah melewati tindakan caesar atau melahirkan dengan cara dibedah. “Nama saya Salim Khan saya dari Queeta Pakistan” ucanya dengan menggunakan bahasa inggris dengan tidak bisa melepaskan aksen Asia Selatannya. Berdasarkan keterangannya, ia di RS Rumah Sehat Terpadu sejak Sabtu, 23 Januari 2016 menemani Sadiqa (26) yang telah melakukan operasi caesar.

“Sadiqa adalah tetangga saya dan pengalaman hidup kami yang menjadikannya kami seperti keluarga” ucap salim lirih. Salim menceritakan bagaimana ia dan teman-temannya yang lain bisa sampai ke Indonesia. Ia kemudian membagikan pengalaman yang penuh perjuangan. Ia harus melewati berbagai Negara menggunakan pesawat terbang, menggunakan kapal laut dan melewati hutan belantara Kalimantan untuk bisa selamat dari persoalan yang dihadapinya di Pakistan. Salim datang ke Indonesia pada 27 Januari 2011 sedangkan Sadiqa tiba pada 04 September 2015. Salim menemani Sadiqa dengan sang istri yang bernama Salsia (25).

Berdasarkan keterangan salah satu bidan RS Rumah Sehat Terpadu DD, tindakan caesar ini diambil karena sebelumnya Sadiqa telah melakukan operasi caesar sebanyak dua kali untuk kedua puteranya yang bernama Irfan Ali (7) dan Ali Sina (5).

Kondisi bayi Sadiqa ketika lahir mengalami kelainan dimana beratnya dibawah berat bayi normal. Berat bayi Sadiqa ketika itu adalah 1.800 gram, sedangang untuk bayi normal adalah 2.500 gram. Berdasarkan keterangan salah satu bidan, usia bayi ketika dilahirkan adalah premature. Sadiqa dibawa ke RS Rumah Sehat Terpadu DD berdasarkan rujukan dari salah satu rumah sakit di Bogor. Bayinya kini dirujuk ke salah satu rumah sakit ibu dan anak di daerah Bogor untuk mendapatkan fasailitas CPAP atau Continuous positive airway pressure yakni juga digunakan untuk mengobati bayi prematur yang paru-paru belum sepenuhnya berkembang. Untuk pengobatan ini, garpu lembut ditempatkan dalam lubang hidung bayi. Mesin CPAP dengan lembut meniupkan udara ke dalam hidung bayi, yang membantu membuat paru-paru mengembang, sehingga meningkatkan kelangsungan hidup.

Sadiqa kini tinggal di Cipayung, Cisarua, Bogor bersama kedua anaknya dan kerabat dekat sesama pengungsi dari Pakistan. Namun Sadiqa kini tidak ditemani kedua anaknya karena anaknya ditinggal dirumah.

“Bagaimana keadaan anak saya?” tanya  Sadiqa yang sedang memperbaiki posisi tubuhnya.

“Saat ini anak anda sedang sedang berjuang seperti anda untuk sehat” jawab salah satu perawat.

Menutup percakapan siang itu, ketika Salim ditanya mengenai harapannya maka ia berkata “Saya senang hidup disini, disini damai dan orangnya ramah. Saya berharap konflik di kota saya selesai dan kami bisa hidup damai”.

Mari kita sama-sama membantu sang bayi demi kelangsungan hodupnya. Karena kehidupan pengungsi atau pencari suaka berlangsung ditangan kita. Mari kita bantu do’a agar selalu diberikan perlindungan untuk Sadiqa dan kerabat. Bantuan langsung pun dapat disalurkan ke rekening BNI Syariah dengan nomor rekening 0298535912 atas nama Yayasan Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Terima kasih. (um)

654 total views, 1 views today