Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD
Foto bersama ketiga narasumber, peserta, dan panita Talkshow Sadar Kanker

SADARI KANKER SEJAK DINI

JAMPANG, Ba’da Sholat Jum’at, 19 Februari 2016 – Perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa siang itu ramai oleh para ibu yang begitu antusias menghadiri Talkshow Sadar Kanker. Topik talkshow yang diangkat memang menarik, yaitu Sadari Sejak Dini Potensi Kanker. Talkshow yang dimoderatori oleh saudara Tegar Rantau Ihsan Hamdani, menghadirkan 3 (tiga) orang narasumber, yaitu dr. Jumpa Utama Amrannur sebagai tenaga medis dari RS Rumah Sehat Terpadu DD, dan 2 (dua) orang ibu yang sebelumnya pernah menderita kanker, yakni Ibu Titi Widiani dan Rita Gandasari.

Edukasi masyarakat mengenai kanker menjadi poin perhatian para tenaga medis, terutama untuk kaum wanita. Mengingkat angka penderita kanker terbesar di dunia adalah wanita. Kanker serviks dan kanker payudara menempati dua urutan teratas tipe kanker yang banyak diderita oleh wanita Indonesia. Dokter Jumpa, yang juga menjabat sebagai Manajer Pelayanan Medis, menaruh kepedulian terhadap bahasan kanker ini. Jumlah peneritanya terus meningkat setiap tahunnya. Penyakit kanker menjadi momok yang menakutkan bagi penderitanya. Bagaimana tidak, kanker seringkali berujung pada kematian. Namun sebenarnya, penyakit ini dapat ditangani jika dapat terdekteksi sejak awal sebelum mengganas. Oleh karena itu, sosialisasi sadar gejala kanker lebih awal seperti talkshow ini sangat penting dan menjadi bentuk kepedulian RS Rumah Sehat Terpadu DD terhadap penanggulangan kanker di Indonesia.

Suasana talkshow di tengah para peserta

Suasana talkshow di tengah para peserta

 ”Penderita kanker sering mengira benjolan yang muncul pada dirinya itu benjolan biasa. Mereka beranggapan toh nanti juga hilang sendiri. Padahal tidak!” tukas Wawan Hermawan, Kepala Desa Jampang, dalam sambutannya. Beliau menghimbau warganya agar peduli dan kritis terhadap kesehatan diri sendiri, terutama terhadap gejala-gejala awal kanker. “Jangan ragu bertanya kepada dokter, dan menyampaikan keluhan yang diderita. Manfaatkanlah fasilitas BPJS yang telah diperoleh untuk pergi ke dokter,” tambahnya.

Dokter Jumpa menegaskan bahwa kanker atau carcinoma sebenarnya adalah sel tubuh yang tumbuh sangat cepat, dibanding dengan sel sejenisnya. Pertumbuhan abnormal ini akhirnya mengganggu fungsi/kerja jaringan tersebut, bahkan dapat menyebar ke jaringan lainnya dalam tubuh. Pemeriksaan atau pendeteksian kanker sejak dini dapat dilakukan setiap orang. Direkomendasikan pengecekan dilakukan 2 tahun sekali, misalnya dengan metode mammography untuk deteksi kanker payudara, dan 1 tahun sekali untuk yang diduga menderita atau bentuk kewaspadaan. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tidak semua benjolan itu kanker.

Pemaparan materi tentang kanker ditinjau dari segi medis

Pemaparan materi tentang kanker ditinjau dari segi medis

 ”Membedakan benjolan biasa dengan benjolan kanker adalah pertumbuhan benjolan kanker lebih cepat dari benjolan biasa maupun benjolan tumor, karena kanker bersifat ganas,” tambah dr. Jumpa. Seperti itu juga yang diceritakan oleh Ibu Titi Widiani, benjolan tumor pada lehernya berkembang dalam kurun waktu 10 tahun, dari tahun 2005 hingga tahun 2015. Sedangkan kanker payudaranya, berkembang begitu cepat. Sejak dokter, memvonis dirinya mengidap kanker payudara pada Juni 2012, morfologis payudaranya berubah cepat memerah kehitaman dan mengalami pendarahan hanya dalam waktu beberapa bulan. Emosi kejiwaan pasien pun berpengaruh terhadap kelajuan pertumbuhan sel kanker. Pikiran yang stress akan semakin mempercepat pertumbuhan kanker dan memperburuk kondisi pasien sendiri. “Sekali lagi jangan takut mengkonsultasikannya kepada dokter,” tegasnya. Gejala awal kanker payudara dapat dideteksi mandiri dengan melihat adanya bejolan di payudara dan ketiak (pada kelenjar getah bening) saat mengankat tangan. “Sedangkan gejala lanjutannya, yaitu saat metastasis atau sel kanker menyebar, antara lain timbulnya nyeri pada tulang, mual, berat badan turun, hilang nafsu makan, dan penglihatan kabur,” papar dr. Jumpa saat sesi diskusi.

Suasana makin mengharu biru di antara keempatpuluh peserta, ketika Ibu Rita menuturkan kisahnya. Ibu dari satu orang putri ini, divonis menderita kanker kolorektal pada tahun 2015. Gejala awal yang dirasakan oleh Rita adalah susah buang air besar seperti masuk angin. Gejala itu sering muncul saat ia mengandung putri pertamanya. Bagian bawah punggungnya sakit. Dan berulang kembali ketika putrinya berusia beberapa bulan. Akhirnya kolonoskopi memberikan diagnosa kanker usus besar, dengan terlihatnya benjolan di usus. Kolostomi, kemoterapi oral, dan rangkaian operasi di bagian usus dilalui oleh Ibu Rita. “Usus terdiri atas beberapa bagian. Kanker kolorektal menyerang usus di saluran bagian akhir (mendekati anus). Dampak benjolan pada usus membuat bentuk feses lebih meruncing, tidak sebesar ukuran feses biasa. Gejala lain diantaranya perut kembung karena pencernaan tidak lancar dan adanya darah pada feses,” jelas dr. Jumpa.

Penyakit kanker seperti penyakit lainnya, atas izin Allah dapat disembuhkan. Pengobatannya dapat dilakukan dengan metode kemoterapi, operasi, atau radioterapi. Titi dan Rita adalah dua dari sekian banyak bukti kesembuhan kanker. Bahkan Titi kaki tangannya sempat lumpuh waktu itu dan divonis hanya dapat hidup sampai Desember 2012. Namun, alhamdulillah kini Titi telah sembuh total, beraktivitas, dan mengendarai motor seperti sedia kala. Sedangkan Rita dalam waktu dekat ini akan menjalani operasi ke-5 kanker usus besar. Ibu Titi dan Rita juga menjadi bagian dari keberhasilan alat ECCT Prof. Warsito. “Jika Allah menganugerahi kanker, jangan sampai putus asa, tetap membuka diri dan mencari wawasan tentang penyakitnya. Bismillah, ketika beriktiar menjalani rangkain pengobatan. Karena Allah yang berkuasa atas usia manusia,” tegas Titi.

Narasumber (dari kanan ke kiri): dr. Jumpa Utama Amrannur, Ibu Rita Gandasari, dan Ibu Titi Widiani

Narasumber (dari kanan ke kiri): dr. Jumpa Utama Amrannur, Ibu Rita Gandasari, dan Ibu Titi Widiani

Talkshow ditutup oleh dr. Jumpa dan para narasumber dengan pesan kepada audiens, agar senantiasa mempraktikkan pola hidup sehat dari sekarang, jangan menunggu sakit. Pola hidup sehat adalah benteng diri yang paling utama dari penyakit kanker. Tambahlah wawasan tentang apa saja makanan yang sehat dan yang tidak sehat. Sebab makanan mengawali kesehatan tubuh Anda. Selain faktor genetik dan polusi, makanan dan pola hidup yang tidak sehat menjadi pemicu timbulnya kanker. Hindari makanan dan jajanan yang mengandung bahan tambahan pangan (BTP) berlebihan atau bahan tambahan non pangan berbahaya. Serta jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Bersikap terbukalah kepada dokter, tentang apa-apa saja keluhan yang dialami. RS Rumah Sehat Terpadu DD pun selalu menyambut hanyat pasien yang ingin memeriksakan kesehatannya. Salam sehat milik semua. (dita)

718 total views, 2 views today