Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

9 LANGKAH SUKSES MENYUSUI PADA IBU BEKERJA

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) merupakan pilihan terbaik untuk memenuhi gizi anak selama dua tahun pertama dalam kehidupannya.  ASI eksklusif menjadi investasi yang tidak terhingga untuk menciptakan generasi sehat berkualitas secara fisik maupun emosional.  Pertumbuhan dan perkembangan ideal anak akan tercapai dalam enam bulan pertama jika pemberian ASI eksklusif berhasil dilakukan.

Pemberian ASI secara eksklusif adalah pemberian ASI dari seorang ibu kepada bayinya dari usia bayi 0 – 6 bulan tanpa tambahan makanan apapun. Jadi hanya diberikan ASI saja selama 6  bulan pertama kehidupan seorang bayi tanpa tambahan seperti susu formula, madu, air putih, sari buah, biskuit atau bubur bayi. Selanjutnya, dari bayi usia di atas 6 bulan sampai 2 tahun, ASI diberikan dengan ditambahkan makan pendamping ASI (MP-ASI) seperti bubur, biskuit dan buah.

Namun sayangnya, target 80% cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat jauh dari kenyataan.  Prevalensi ASI eksklusif dari Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (1997-2007) menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun yaitu dari 40,2% (1997) menjadi 39,5% (2003) dan semakin menurun pada tahun 2007 yaitu sebanyak 32%.  Bahkan angka ini berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) semakin mengkhawatirkan turun menjadi 15,3% di tahun 2010. Praktik pemberian ASI eksklusf hingga usia bayi 6 bulan di DKI Jakarta adalah 8,5% (Dinkes Propinsi DKI Jakarta, 2005).

Banyak penyebab yang mempengaruhi rendahnya pemberian ASI eksklusif, salah satunya adalah pada ibu menyusui yang bekerja. Terdapat banyak ibu yang bekerja akan menghentikan menyusui ASI pada bayinya dan beralih ke susu formula ketika masa cuti bekerjanya telah selesai. Hal ini disebabkan karena kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat termasuk institusi yang mempekerjakan perempuan yang belum memberikan tempat dan kesempatan bagi ibu untuk menyusui di tempat kerja, jarak dari rumah ke kantor yang jauh dan sulit kendaraan serta tenaga kesehatan yang kurang mendukung.

Sebenarnya ada 9 langkah yang dapat dilakukan oleh ibu menyusui yang bekerja agar sukses menyusui ASI pada bayinya secara eksklusif dan sampai 2 tahun, yaitu :

  1. Niat dan yakin bahwa menyusui bisa sukses walaupun sudah mulai bekerja, serta perbanyak pengetahuan dan tukar pengalaman tentang menyusui yang baik dan benar dari tenaga kesehatan yang terlatih tentang laktasi.
  2. Selama masa cuti, ibu hanya menyusui ASI pada bayinya.
  3. Biasakan untuk menyusui bayi sebelum ibu berangkat bekerja.
  4. Lakukan juga pengeluaran ASI untuk persediaan di rumah sebelum ibu berangkat kerja. Keluarkan ASI sebanyak mungkin dan tampung ke cangkir atau tempat/teko yang bersih. Ada ibu yang dapat mengeluarkan sampai 2 cangkir (400-500 ml) atau lebih walaupun setelah bayi selesai menyusui. Tetapi meskipun hanya 1 cangkir (200 ml) sudah bisa untuk pemberian 2 kali  @100 ml.
  5. Lakukan pangosongan payudara dengan perah ASI di tempat kerja, setiap 3-4 jam. Pengosongan payudara untuk mengeluarkan ASI dapat diperah melalui 3 cara, yakni menggunakan tangan, memakai alat secara manual atau menggunakan pompa elektrik. Kita bisa memilih cara yang dianggap paling gampang dan nyaman. Tapi jika menilik dari kepraktisan dan sisi ekonomis, memerah ASI dengan tangan lebih unggul dibandingkan dua cara yang lain. Kita bisa melakukan kapan saja tanpa repot mencari alat bantuan khusus. Kecuali wadah untuk menampung ASI. Namun, apapun cara yang dipilih, jangan abaikan faktor kebersihan. Sebelum memerah ASI, siapkan wadah tertutup yang bersih dan steril untuk menampung ASI. Cucilah tangan kita dengan sabun dan air, hingga bersih. Selanjutnya, perah sedikit ASI, lalu oleskan pada puting dan areola. Tindakan ini sebaiknya dilakukan dengan alasan ASI mengandung zat anti bakteri. Setelah siap, silahkan kita mulai memerah ASI.
  6. ASI dapat disimpan di lemari pendingin dan dibawa pulang. ASI dapat diberikan pada bayi saat ibu bekerja dengan menggunakan cangkir, tidak boleh menggunakan dot. Penyimpanan ASI dilakukan selama 6-8 jam di temperature ruangan (19-25°C), bila masih kolostrum (susu awal, 1-7 hari) bisa sampai 12 jam. Dapat disimpan selama  1-2 hari di lemari es (4°C) serta bisa bertahun dalam “deep freezer” (-18°C). Pada ASI beku yang akan digunakan, perlu dicairkan dahulu dalam lemari es (4°C). ASI kemudian tidak boleh dimasak, hanya dihangatkan dengan merendam cangkir dalam air hangat.
  7. Pada saat ibu di rumah, sesering mungkin bayi disusui, dan anti jadwal menyusuinya sehingga banyak menyusui di malam hari.
  8. Keterampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal menyusui sebaiknya telah mulai dipraktekkan sejak satu bulan sebelum kembali bekerja.
  9. Minum dan makan makanan yang bergizi dan cukup selama bekerja dan selama menyusui bayi. Selanjutnya adalah hindari stres karena beban fisik dan mental akan menghambat asi sehingga kuantitas menjadi terganggu.
Ilustrasi: Stok ASI

Ilustrasi: Stok ASI

Kepada para pemilik perusahaan dan perkantoran, sangat perlu didorong untuk menyediakan tempat khusus bagi para karyawan perempuannya yang ingin menyusui atau memerah ASI nya di tempat kerja. Bagi ibu yang bekerja dapat diberikan waktu khusus untuk memerah ASI setiap 3-4 jam sekali selama 15-30 menit di dalam waktu kerjanya.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas.

 # dari berbagai sumber

(dr. Yahmin Setiawan, MARS – Dirut Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa)

609 total views, 1 views today