Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

IBU TANGGUH DARI NEGERI KONFLIK

RUANG FISIOTERAPI, Kamis 18 Februari 2016 – Nafisah (36 tahun) namanya, wanita kelahiran Somalia ini datang bersama suami dan kelima orang anaknya yang masih belia. Wajahnya tegar memperlihatkan kekuatan seorang ibu yang berjuang di tengah kondisi yang pelik. Ia tinggal di Yaman selama lebih dari 26 tahun yang lalu sebelum ia mencari suaka ke Malaysia lalu akhirnya ke Indonesia. Tentu bukan perjalanan yang ringan, karena kepindahannya ini semata untuk menyelamatkan keluarganya dari kecaman konflik antar suku di negeri Yaman. Apalagi, dengan 3 dari 5 anaknya yang menderita cerebral palsy.

Cerebral palsy (CP) atau kelumpuhan otak besar, adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan otot gerak (seperti kekakuan dan kelumpuhan), laju belajar, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir. Seperti yang dialami oleh Rania (perempuan, usia 15 tahun), Muhammed (laki-laki, usia 12 tahun), dan Elaf (perempuan, usia 7 tahun), ketiga anak pasangan Nafisah dan Nasher (45 tahun) ini tidak dapat berjalan karena saraf motoriknya tidak berfungsi optimal. Kakinya tidak mampu bergerak maupun menopang tubuhnya dengan sempurna. Karena fungsi saraf motorik seolah ‘mati’, perkembangan sendi pun terhambat. Sendi yang lama tidak digerakan akan menjadi kaku karena pengapuran, dan menimbulkan rasa sakit jika digerakkan. Mereka bertiga hanya bisa menangis menahan sakit ketika terapis melatih kaki mereka secara bergantian.

Latihan yang rutin setiap hari, terutama didampingi oleh orang-orang terdekat, sebenarnya dapat mengurangi kekakuan sendi (kontraktur persendian). Pendamping dapat melatih gerakan sederhana dan ringan pada penderita, seperti mengerak-gerakan tangan dan kaki sesuai arah sendinya, berlatih menggenggam danmengangkat, serta berlatih berdiri dan menopang badan. Kesadaran akan hal ini yang terlambat membuat otot kerangka motorik tidak berkembang dan akhirnya adalah kekakuan sendi. Nampak dari Rania, bentuk kakinya begitu kecil dan sulit untuk diluruskan. Sedangkan kedua adiknya, Muhammed dan Elaf masih dapat digerakan dan diluruskan perlahan, meski sakit.

Terapi gerak tangan Rania

Terapi gerak tangan Rania

Selain tidak bisa berjalan, penderita CP ini memiliki keterbatasan gerak motorik tangan dan komunikasi. Dengan kata lain, mereka hanya dapat pasif menerima tindakan saat terapi sekalipun. Hal ini juga mengakibatkan penderita mengalami kesulitan hidup mandiri, termasuk saat makan. “Rania makan hanya sedikit. Ia pun kurang bisa menggenggam sendok dengan satu tanggan. Tetapi Rania bisa memegang gelas minum dengan kedua tangannya,” tutur Nafisah. Ya, karena itu pula, Rania, Muhammed, dan Elaf terlihat lebih kurus dari dua saudaranya yang lain.

Terapi gerak kaki Muhammad

Terapi gerak kaki Muhammed

Sesekali Rania meneteskan air mata ketika berada di antara banyak orang, tanpa berkata apapun. Sedangkan Muhammed memeluk erat orang di dekatnya dengan gemetar sebagai respon rasa suka. Nabil (laki-laki, usia 14 tahun) selalu memberi semangat kepada kakak dan adik-adiknya saat terapi. Ketabahan yang luar biasa tercermin dari diri Nabil. Ia menggendong adiknya, membantunya berdiri, dan membujuk agar berhenti menangis. Alhamdulillah, Nabil dan Mustafa (laki-laki, usia 5 tahun) tumbuh sehat seperti anak seusianya.

Penyakit CP lebih sering ditemukan pada anak kecil. CP terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi, tetapi 10 kali lebih sering ditemukan pada bayi prematur dan 10-15% kasus terjadi akibat cedera lahir karena aliran darah ke otak terganggu sebelum/selama/segera setelah bayi lahir. CP dapat disebabkan oleh cedera otak yang terjadi pada saat prenatal (bayi masih berada dalam kandungan), proses persalinan berlangsung, saat bayi baru lahir, atau saat anak berumur kurang dari 5 tahun. Tetapi kebanyakkan penyebabnya tidak diketahui. Cedera otak bisa disebabkan antara lain oleh kadar bilirubin yang tinggi di dalam darah, penyakit berat pada tahun pertama kehidupan bayi (misal: ensefalitis, meningitis, sepsis, trauma, dan dehidrasi berat), dan hematom subdural (penggumpalan darah di antara tulang tengkorak dan otak).

Terapi gerak Ilal

Terapi gerak Elaf

Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang berat, bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan. Nafisah menuturkan bahwa anak-anaknya lahir normal. Namun, ketika ketiga anaknya yang menderita CP lahir, nampak ada titik putih di matanya. Rania sudah mengalami 3 kali operasi untuk memulihkan penglihatannya. Sementara Muhammed dan Elaf mendapatkan 1 kali operasi saja.

Nafisah dan keluarga kini menetap di rumah pengungsian di kawasan Cirende bersama para pengungsi lainnya, di bawah naungan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) PBB di Indonesia. RS Rumah Sehat Terpadu DD akhir-akhir ini memang banyak menerima pasien dhuafa dari kawan-kawan pengungsi. Karena seperti yang diketahui, hidup sebagai pengungsi sangatlah berat, perjalanannya mulai dari ketakutan di negara asalnya, terkatung-katung selama di laut atau udara dengan perbekalan yang terbatas, sampai tiba di negara tujuan pun mereka masih mencari perlindungan. Kondisi ini membuat kesehatan mereka terabaikan, apalagi bagi mereka yang berkebutuhan khusus seperti putra-putri Nafisah ini. Alhamdulillah, Nafisah bisa bernapas lebih lega di Indonesia. Nabil pun dapat bersekolah dan ketiga anaknya kini rutin 2 kali setiap pekan mendapatkan layanan fisioterapi di RS Rumah Sehat Terpadu DD.

Cerebral palsy memang tidak dapat disembuhkan dan berlangsung seumur hidup. Tetapi banyak hal yang dapat dilakukan untuk meringankan bebannya sehingga nantinya dapat hidup mandiri. Tetaplah bersemangat Ibu Nafisah dan Ayah Nasher! Bagi sahabat RS Rumah Sehat Terpadu DD dapat memberikan dukungan dana dapat disalurkan ke rekening BNI Syariah dengan nomor rekening 0298535912 atas nama Yayasan Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Terima kasih. (dita)

619 total views, 3 views today