Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

Archive for April 2016

April 15, 20161 year ago

PERAWATAN BAYI BARU LAHIR

Bayi baru lahir adalah bayi yang baru dilahirkan dengan batas usia 0 – 28 hari atau biasa disebut neonates. Bunda, kenalilah tanda-tanda bayi lahir sehat, yaitu: (1) bayi lahir langsung menangis, (2) tubuh bayi kemerahan, (3) bayi bergerak aktif, (4) bayi menyusu dari payudara ibu dengan kuat, dan (5) berat lahir 2.500 – 4.000 gram. Setelah kita mengetahui bayi kita sehat, maka kita dapat melakuakn perawatan yang tepat kepada bayi kita. Karena perawatan bayi sehat tentunya akan berbeda dengan bayi yang tidak sehat. Apa saja yang perlu dilakukan dalam merawat bayi baru lahir?

1.       Menyusui bayi untuk memberi nutrisi.

Waktu pemberian ASI dapat dilakukan berdasarkan permintaan bayi (on demand) atau semau bayi, atau minimal 2 jam sekali. ASI diberikan eksklusif, yaitu bayi hanya minum ASI saja tanpa tambahan apapun hingga bayi berusia 6 bulan. Karena pada usia tersebut, lambung bayi belum kuat mencerna makanan dengan tekstur selain ASI.

Manakah yang lebih baik, ASI atau susu formula? Kita tidak dapat membandingkan keduanya, karena jelas perbedaannya. ASI adalah pemberian alamiah oleh Allah dengan kualitas yang tidak diragukan dan tidak tertandingi. Gizinya pun sempurna, banyak kandungan ASI yang tidak dimiliki oleh susu formula. Selain itu, tidak pernah ditemukan kasus alergi pada pemberian ASI, misal gangguan saluran napas, diare.

Wajarkah jika bayi gumoh atau muntah setelah menyusu? Perlu digarisbawahi bahwa gumoh adan muntah adalah dua hal yang berbeda. Gumoh terjadi pada selang waktu yang dekat setelah pemberian ASI. Gumoh itu sendiri merupakan bentuk alami adapatasi bayi. Atau karena terlalu banyak udara yang masuk bersamaan dengan ASI. Menepuk-nepuk punggung bayi dapat membantu bayi mengeluarkan udara dalam bentuk sendawa. Sedangkan muntah terjadi cukup lama setelah bayi menyusu. Kasus muntah seringkali terjadi pada pemberian susu formula.

2.       Jaga kebersihan bayi.

Kulit manusia harus dibersihkan, karena merupakan “makanan empuk” bagi kuman-kuman kulit. Bayi baru lahir minimal dimandikan sehari sekali karena ia belum tahan dingin. Entah dengan cara berendam di bak mandi atau dilap dengan waslap basah yang sudah diberi sabun bayi.

Agar kulit tetap lembab dan terhindar dari kekeringan, dianjurkan memakai baby oil. Untuk mencegah munculnya biang keringat, atur temperatur ruangan/kamar bayi senyaman mungkin. Jangan sampai bayi kepanasan. Jika tak punya AC, ventilasi kamar harus baik.

Jangan gunakan bedak tabur untuk biang keringat, pada jam-jam yang banyak mengeluarkan keringat seperti siang hari, lap bagian tubuh yang banyak keringat dengan kapas yang dibasahi air hangat atau tisu basah non-alkohol. Lakukan sesering mungkin pada bayi yang banyak biang keringat, terutama di daerah-daerah lipatan. Lalu keringkan tubuh bayi.

Bayi minimal dimandikan sehari sekali dengan air hangat-hangat kuku. Mengapa perlu dengan air hangat? Karena sebelum ia lahir, ia masih dilindungi oleh air ketuban yang menjaganya tetap hangat. Ketika ia lahir, ia masih perlu menyesuaikan tubuhnya dengan suhu lingkungan.

3.       Pencegahan infeksi

Sesaat setelah lahir, lakukan pencegahan infeksi kuman pada bayi, yaitu pertama dengan pemberian salep mata/tetes mata (2 tetes) dari tenaga kesehatan. Saat bayi lahir normal melalui jalan lahir ibu, kita tidak tahu si ibu mengidap penyakit apa (terutama penyakit kelamin). Penyakit ini sangat mudah menyerang bayi terutama pada jaringan mukosa seperti mata. Kedua, bayi mendapatkan suntikan vitamin K1 dengan dosis 0,25 – 1 mg, fungsinya mencegah perdarahan pada bayi. Kebanyakan kasus perdarahan pada bayi adalah perdarahan tali pusat dan intrakranial (otak). Terkadang bayi mengalami beberapa trauma di jalan lahir. Ketiga, bayi mendapatkan imunisasi HB-0 (hepatitis pertama) sebelum bayi berumur 24 jam sampai 7 hari. Mengingat pentingya pencegahan infeksi ini, ibu sangat dianjurkan untuk dapat melakukan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan. Persalinan dengan bantuan ‘Mak Paraji’ bisa saja dilakukan, namun ibu dan bayi tidak dapat memperoleh tindakan pencegahan infeksi dengan segera.

4.       Perawataan tali pusat

Prinsipnya, jaga tali pusat selalu bersih, kering, dan biarkan terbuka (jangan dibungkus). Jika kotor, bersihkanlah dengan kain bersih dan air matang. Perawatan menggunakan alkohol ataupun betadine, dan penutupan tali pusat sudah tidak dianjurkan lagi. Karena hal tersebut malah akan membuat tali pusar menjadi lembab. Alkohol yang sifatnya dingin juga cenderung membuat bayi hipotermia (kedinginan). Jangan diberi ramuan apapun, apabila kebersihannya tidak terjamin. Umumnya, tali pusat akan putus antara 1-2 minggu setelah kelahiran, tapi bisa juga terjadi lebih dini atau lebih lambat. Kecepatan puput tali pusat dipengaruhi oleh perawatannya.

Bagaimana dengan pemberian koin, bolehkah? Perlakuan ini biasa dilakukan oleh para ibu turun temurun untuk menjaga estetika bayi supaya pusar tidak ‘bodong’. Boleh saja, selama si ibu memastikan koin yang digunakan bersih sehingga bayi terhindar dari infeksi.

5.       Jaga kehangatan bayi.

Mandikanlah bayi baru lahir setelah 6 jam. Kemudian bungkuslah bayi dengan kain kering. Gantilah kainnya jiika basah. Jika berat lahir kurang dari 2.500 gram, lakukan Metode Kangguru. Jangan tidurkan bayi ditempat dingin atau banyak angin.

Perlukan bayi dijemur? Sinar matahari di bawah pukul jam 9 bagus untuk kesehatan bayi. Di dalamnya terdapat pro vitamin D yang baik untuk tulang. Seperti halnya tanaman, tanaman yang selalu disiram tetapi tidak terkena sinar matahari, akan terlihat pucat. Bayi pun demikian. Hindarilah sinar matahari lebih dari jam 9, karena suhunya sudah meningkat dan menjadi terlalu panas bagi kulit bayi.

Bunda, penting juga untuk mengetahui tanda bayi sakit berat. Segera bawa ke bidan/dokter/perawat jika muncul tanda-tanda tersebut, agar tidak terlambat ditangani. Catat kedua belas tanda berikut ya, Bunda.

  1. Tidak dapat menyusu karena nafsu makan menurun.
  2. Mengantuk atau tidak sadar. Bayi menjadi lebih banyak tidur.
  3. Nafas cepat (lebih dari 60 kali per menit).
  4. Tangisannya merintih, karena sambil menahan rasa sakit.
  5. Tarikan dinding dada bagian bawah (retraksi) seperti terengah-engah.
  6. Tampak biru pada ujung jari tangan dan kaki atau bibir, bisa berarti hipotermi atau indikasi awal penyakit jantung. Bayi biru kedinginan akan kembali memerah setelah dihangatkan. Sedangkan bayi dengan penyakit jantung akan tetap biru pada suhu lingkungan berapapun.
  7. Kejang. Gerakan bayi umumnya tidak teratur, sedangkan gerakan kejang teratur dan sering.
  8. Badan bayi kuning karena kadar bilirubin tinggi.
  9. Kaki dan tangan terasa dingin.
  10. Demam, suhu bayi di atas 37,5 derajat Celcius.
  11. Tali pusat kemerahan sampai dinding perut, bahkan berbau, merupakan ciri bayi terkana infeksi
  12. Mata bayi bernanah banyak, bukan belekan. Belekan berwarna putih yang merupakan sekret yang wajar dikeluarkan dari mata bayi. Sedangkan nanah berwarna kuning pekat.

Sulitkah cara perawatan bayi baru lahir di atas? Tentunya mudah selama dilakukan dengan penuh keikhlasan dari ibu.

*Materi ini disiarkan bersama narasumber Bidan Niken Desna (Bidan Rumah Sehat Terpadu) pada segmen OASE – Healthy Life Style di Radio Swaracinta 107.7 FM

731 total views, no views today

April 13, 20161 year ago

IMUNISASI: DITINJAU DARI MANFAAT

Poliomielitis atau yang biasa kita kenal dengan polio memang termasuk penyakit yang berbahaya. Polio dapat menyebabkan kelumpuhan pada manusia, menyerang pada tangan, kaki dan bahkan organ pernafasan. Penyakit ini pun disebabkan virus poliomielitis yang masuk ke tubuh melalui mulut, dan menginfeksi saluran usus. Virus ini juga bisa memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).

Sejak 23 Januari 2016 lalu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa halal terhadap proses dan kegiatan imunisasi untuk balita atau anak-anak. Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF mengungkapkan, fatwa halal tersebut adalah salah satu upaya MUI untuk menyadarkan masyarakat jika imunisasi penting.

Mengingat masih cukup banyaknya perdebatan tentang halal atau haramnya imunisasi, Hasanuddin pun mengatakan, pada dasarnya, imunisasi boleh saja dilakukan atau tidak haram. “Selama punya maslahat,” jelasnya saat memberi sambutan dalam acara Pertemuan Nasional Sosialisasi Fatwa MUI tentang Imunisasi di Bogor, 21 Februari lalu.

Berikut beberapa jenis vaksin imunisasi lengkap dan manfaat imunisasi yang diberikan antara lain adalah :

1. BCG (Bacille Calmette-Guérin)

Manfaat: Mencegah penyakit tuberkulosis atau TB (bukan lagi disingkat TBC), yaitu infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang keorang.

Waktu pemberian imunisasi ini adalah sejak bayi lahir. Catatan khusus: Bila mama ketinggalan dan umur si kecil sudah lebih dari 3 bulan, harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. Uji ini untuk mengetahui apakah di dalam tubuh anak sudah terdapat bakteri penyebab TB atau tidak. BCG baru bisa diberikan, bila uji tuberkulin negatif.

2. Hepatitis B

Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Hepatitis B, yang bisa menyebabkan kerusakan pada hati. Pemberian imunisasi Hepatitis B ini dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 bulan, lalu saat 3 – 6 bulan. Catatan khusus: Jarak antara pemberian pertama dengan kedua minimal 4 minggu.

3. Polio

Manfaat: Melindungi tubuh terhadap virus polio, yang menyebabkan kelumpuhan.
Waktu pemberian Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya, vaksin ini diberikan tiga kali, yakni saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Catatan khusus: Pemberian vaksin ini harus diulang (boost) pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

4. DTP (Diphteria, Tetanus, Pertussis)

Manfaat: Mencegah tiga jenis penyakit, yaitu difteri (infeksi saluran pernapasan yang disebabkan bakteri), tetanus (infeksi bakteri pada bagian tubuh yang terluka), dan pertusis (batuk rejan, biasanya berlangsung dalam waktu yang lama). Waktu pemberian pertama kali diberikan saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Pemberian selanjutnya pada usia 4 dan 6 bulan. Catatan khusus: Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Pada usia 12 tahun, vaksin ini diberikan lagi, biasanya di sekolah.

5. Campak

Manfaat: Melindungi anak dari penyakit campak yang disebabkan virus. Waktu pemberian pertama kali diberikan saat anak umur 9 bulan. Campak kedua diberikan pada saat anak SD kelas 1 (6 tahun). Catatan khusus: Jika belum mendapat vaksin campak pada umur 9 bulan, anak bisa diberikan vaksin kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (MMR atau Measles, Mumps, Rubella) di usia 15 bulan.

Tujuan imunisasi merupakan upaya yang dilakukan untuk memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Inilah yang dimaksud dengan pentingnya imunisasi bagi anak bayi buah hati kita semuanya.

Berikut jadwal pemberian vaksinasi imunisasi yang pokok yaitu :

  1. Bayi Umur < 7 Hari : Hepatitis B (Hb)0.
  2. 1 Bulan : BCG, Polio 1
  3. 2 Bulan : DPT / HB1, Polio 2.
  4. 3 Bulan : DPT / HB2, Polio 3.
  5. 4 Bulan : DPT / HB3, Polio 4.
  6. 9 Bulan : Campak.

Efek Samping Pemberian Imunisasi

Imunisasi kadang mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik yang membuktikan vaksin betul-betul bekerja secara tepat. Bagi bunda para orang tua yang memiliki anak bayi atau balita dan ingin mengimunisasi anak bayi buah hati maka tidak perlu khawatir. Efek samping yang ditimbulkan setelah imunisasi tidak berbahaya.

Selain itu tidak semua anak akan mengalami demam setelah imunisasi karena hal ini juga dipengaruhi oleh daya tahan tubuh anak. Oleh karena itu, sebelum membawa anak anda untuk diimunisasi, pastikan terlebih dahulu buah hati kita berada dalam kondisi yang sehat dan siap untuk diimunisasi.

Berikut beberapa efek dampak imunisasi yang umum terjadi antara lain adalah sebagai berikut :

  • BCG, dua minggu setelah imunisasi terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan, seterusnya timbul bisul kecil dan menjadi luka parut.
  • DPT, umumnya bayi menderita panas sore hari setelah mendapatkan imunisasi, tetapi akan turun dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan merah dan bengkak serta sakit, walaupun demikian tidak berbahaya dan akan sembuh sendiri.
  • Campak, panas dan umumnya disertai kemerahan yang timbul 4 – 10 hari setelah penyuntikan.

Tips Cara Kiat Mengatasi Panas Demam Pada Anak Setelah Imunisasi

Penyebab panas demam pasca imunisasi pada bayi anak adalah respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan. Vaksin yang dilemahkan akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi melalui serangkaian proses. Demam pasca imunisasi adalah demam ringan yang timbul setelah anak mendapatkan imunisasi. Biasanya demam yang timbul bersifat ringan dan tidak pernah mencapai suhu lebih dari 38,5 derajat Celsius. Bagi para orang tua bunda berikut beberapa cara dan tips atasi demam efek dari pemberian imunisasi antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Apabila bayi anak demam, maka berikan obat penurun demam dengan dosis yang tepat sesuai anjuran dokter agar suhu tubuh menjadi normal kembali.
  2. Kompres bayi anak dengan air hangat untuk mengurangi resiko kejang-kejang dibandingkan dengan menggunakan air dingin.
  3. Kompres dengan air dingin bagian tubuh yang disuntik untuk mengurangi nyeri dan bengkak yang timbul.
  4. Apabila anak bunda masih bayi, berikan ASI sesering mungkin karena ASI memiliki zat yang dapat mengurangi peningkatan suhu tubuh. Sedangkan apabila buah hati bunda sudah tidak dalam usia menyusui, berikan banyak air putih untuk mengurangi demam.
  5. Apabila buah hati menunjukkan gejala yang lebih serius tak lama setelah diimunisasi seperti sulit bernapas, gatal dan bintik-bintik, jantung berdebar, atau hilang kesadaran, segera periksakan buah hati ke dokter.

#diperoleh dari berbagai sumber

723 total views, 1 views today

April 8, 20161 year ago

RAWATLAH GIGI SI KECIL SEJAK DINI

Sebelum gigi pertama muncul, bersihkan gusi sekali atau dua kali sehari. Caranya adalah menggunakan kain lap bayi yang bersih, lingkarkan ke jari telunjuk lalu usapkan pada gusi. Membersihkan gusi akan mencegah bakteri terkumpul di situ. Lalu setelah gigi pertama muncul, mulailah membersihkan gigi dengan sikat gigi. Walaupun gigi susu akan lepas dan digantikan gigi permanen, gigi susu memegang peranan pada perkembangan wajah dan mulut. Kebiasaan mengunyah yang baik berpengaruh pada cara makan yang baik, dan kesehatan gigi berpengaruh pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Untuk itulah perawatan gigi anak diperlukan sejak awal.

Di antara berbagai elemen makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan gigi ini yang utama adalah :

  • Makanan yang mengandung zat kapur atau fosfor ( banyak ditemui pada susu dan keju ).
  • Vitamin D ( terdapat dalam sinar matahari pagi, susu, mentega dan kuning telur ).
  • Vitamin C ( dalam jeruk, tomat, kol dan vitamin ).
  • Vitamin A.
  • Beberapa jenis vitamin B.

Menghindari penumpukan gula

Karies adalah kerusakan gigi yang terjadi karena gula menempel pada gigi, yang kemudian akan membentuk asam perusak enamel gigi. Untuk mencegah karies, hindari penumpukan gula pada gigi. Susu mengandung gula, begitu pula permen dan makanan manis lainnya. Untuk anak yang masih harus tidur sambil mengulum botol susu, sebaiknya ganti susu dengan air putih selama tidur. Dan juga jangan mencelupkan empeng ke dalam madu atau air gula untuk dikulum ketika tidur. Perlahan-lahan, kebiasaan tidur ditemani empeng dan botol susu ini harus dikurangi, sehingga anak terbiasa tidur tanpa bantuan seperti itu.

Pemeriksaan gigi secara teratur

Perawatan gigi anak sehari-hari harus dibarengi dengan pemeriksaan gigi anak secara teratur. Perhatikan apakah pada gigi anak muncul plak berwarna coklat atau hitam, dan bawalah anak ke dokter gigi bila Anda menemukan hal ini. Bila tidak ada masalah pada gigi, bawa anak Anda ke dokter gigi minimal 1 tahun sekali untuk pengecekan rutin.

Hindari transfer bakteri dari orang tua

Banyak kerusakan gigi anak yang diakibatkan karena transfer bakteri dari orang tua yang memiliki karies. Untuk menghindarinya, hindari penggunaan mug dan peralatan makan yang sama ketika makan. Jangan menjilat atau mengulum dot anak untuk membersihkannya.

Orang tua juga harus memiliki kebiasaan merawat gigi yang baik. Selain untuk menghindari transfer bakteri penyebab karies, anak cenderung mencontoh kelakuan dan kebiasaan orang tuanya.

Menyikat gigi secara teratur

Sikat gigi anak 2 kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur. Gunakan sedikit pasta gigi, kira-kira sebesar kacang polong untuk anak balita. Sebelum anak berusia 2 tahun, hindari pasta gigi yang mengandung fluoride karena takut tertelan. Sebagai gantinya, gunakanlah pasta gigi khusus untuk anak-anak.

Jadwal makan yang teratur

Dengan jadwal menyikat gigi yang teratur, aturlah juga jadwal makan, yaitu 3 kali makan utama dan 2 kali cemilan di antara ketiga makan utama tersebut. Dengan jadwal ini, anak tidak makan lagi setelah sikat gigi malam dan tidur dalam kondisi gigi bersih.

Perawatan gigi sejak dini sebaiknya dilakukan berdasarkan usianya. Ini dilakukan karena koloni-koloni bakteri yang tumbuh pada gusi sebenarnya sama saja dengan yang terbentuk pada gigi-gigi yang rusak. Sehingga gusi yang bersih memungkinkan gigi kelak tumbuh di lingkungan yang lebih bersih. Hal ini tentunya mengurangi kemungkinan gigi susu menjadi busuk di usia dini dan mewariskan penyakit pada gigi tetap.

Cara merawat mulut bayi pada saat usia 0 – 6 bulan:

1. Bersihkan gusi bayi anda dengan kain lembab, setidaknya dua kali sehari

2. Jangan biarkan bayi anda tidur sambil minum susu dengan menggunakan botol susunya.

3. Selesai menyusui, ingatlah untuk membersihkan mulut bayi dengan kain lembab

4. Jangan menambah rasa manis pada botol susu dengan madu atau sesuatu yang manis.

Cara merawat mulut dan gigi bayi pada usia 7-12 bulan:

1. Tanyakan dokter anak atau dokter gigi anda apakah bayi anda mendapat cukup fluor

2. Ingatlah untuk membersihkan mulut bayi anda dengan kain lembab ( tidak basah sekali), sehabis menyusui.

3. Jangan biarkan bayi tidur dengan botol susunya (sambil minum susu dari botol) kecuali air putih.

4. Berikan air putih bila bayi anda ingin minum diluar jadwal minum susu

5. Saat gigi mulai tumbuh, mulailah membersihkannya dengan menggunakan kain lembab. Bersihkan setiap permukaan gigi dan batas antara gigi dengan gusi secara seksama, karena makanan seringkali tertinggal di permukaan itu.

6. Saat gigi geraham bayi mulai tumbuh, mulai gunakan sikat gigi yang kecil dengan permukaan lembut dan dari bahan nilon.

7. Jangan gunakan pasta gigi dan ingat untuk selalu membasahi sikat gigi dengan air.

8. Periksakan gigi anak anda ke dokter gigi, setelah 6 bulan sejak gigi pertama tumbuh, atau saat usia anak setahun.

Cara merawat mulut dan gigi bayi pada usia 13-24 bulan:

1. Mulailah perkenalkan pasta gigi berfluoride

2. Jangan biarkan anak tidur dengan botol susu (sambil minum susu dari botol), kecuali air putih.

3. Pergunakan pasta gigi seukuran sebutir kacang hijau.

4. Sikat gigi anak setidaknya dua kali sehari (sehabis sarapan dan sebelum tidur di malam hari)

5. Gunakan sikat gigi yang lembut dari bahan nilon.

6. Ganti sikat gigi tiap tiga bulan atau bila bulu-bulu sikat sudah rusak.

7. Jadilah teladan dengan mempraktekkan kebiasaan menjaga kesehatan mulut dan lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

8. Biasakan anak untuk memakan makanan ringan yang sehat, seperti buah segar dan sayuran segar.

9. Hindari makanan ringan yang mengandung gula.

Bersikaplah sabar dalam melatih cara menyikat gigi pada buah hati Ibu serta jangan lupa untuk menekankan tujuan terpentinga dalam menggosok gigi, yaitu membersihkan semua kotoran dan sisa makanan yang melekat di gigi terutama saat akan tidur.

627 total views, no views today

April 6, 20161 year ago

ELIMINASI STIGMA NEGATIF TENTANG TB

Hari TB se-dunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Maret, di mana momen ini sekaligus juga memperingati ditemukannya kuman (bakteri) penyebab TB oleh Dr. Robert Koch pada tahun 1882 yang membuka jalan bagi penemuan metoda diagnosa dan penyembuhan. Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang menular dan disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberkulosis). Penyakit TB dapat diderita oleh siapa saja, orang dewasa atau anak-anak dan dapat mengenai seluruh organ tubuh kita manapun, walaupun yang terbanyak adalah organ paru.

Sejak tahun 1993, WHO menyatakan bahwa TB merupakan kedaruratan global bagi kemanusiaan. Walaupun strategi Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) telah terbukti sangat efektif untuk pengendalian TB, tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi. Dengan berbagai kemajuan yang dicapai sejak tahun 2003, diperkirakan masih terdapat sekitar 9,5 juta kasus baru TB, dan sekitar 0,5 juta orang meninggal akibat TB di seluruh dunia (WHO, 2009).

Permasalahan TB yang dihadapi di Indonesia masih sangat besar, saat ini Indonesia berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia, yaitu setiap tahun masih ada 61.000 orang atau 169 orang per hari yang meninggal karena TB. Penyakit TB juga berkaitan dengan “economic lost” yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga. Menurut WHO, seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun (WHO, 2010).

Diperlukan sekali penyebaran informasi dan pengetahuan yang benar dan utuh tentang TB kepada masyarakat. Banyak program dan upaya yang telah dilakukan, baik oleh pemerintah dan masyarakat, baik edukasi dan pelayanan kesehatan untuk pengendalian penyakit TB. Diharapkan, semua itu dapat mewujudkan Indonesia Bebas TB. 

Namun ternyata, masih adanya stigma negatif (pengetahuan dan pemahamam yang salah) tentang TB di dalam masyarakat, membuat pelaksanaan program pengendalian TB yang dilaksanakan oleh pemerintah dan lembaga non pemerintah mengalami hambatan, seperti pasien dikucilkan atau diasingkan, sehingga tidak mendapatkan pengobatan TB secara benar dan tuntas.

Padahal, pasien TB (dewasa dan hasil pemeriksaan dahaknya positif ada kuman TB) yang tidak diobati akan dapat menularkan kepada 10-15 orang yang ada di sekitarnya setiap tahun. Sehingga sangat diperlukan sekali peran serta masyarakat yang aktif dan berkesinambungan, bersama-sama dengan pemerintah dan lembaga non pemerintah dalam berantas TB di Indonesia.

Stigma-stigma negatif tentang TB tersebut adalah :

1.    TB adalah penyakit guna-guna atau kutukan

Dikarenakan pada pasien TB sering disertai dengan gejala batuk berdarah dengan tiba-tiba, di masyarakt dipahami itu adalah karena guna-guna atau kutukan. Sehingga pasien TB akan dikucilkan karena dianggap melakukan hal-hal yang salah dan menyimpang.

Sesungguhnya, ketika pasien TB mengalami batuk berdarah, hal tersebut disebabkan karena pecahnya pembuluh darah yang ada dalam paru-paru dikarenakan infeksi kuman TB pada saat batuk. Darah yang keluar berwarna merah segar dan dapat terjadi jarang atau sering ditentukan dengan luasnya infeksi kuman TB yang terjadi pada paru-paru pasien. Dengan meminum obat anti TB (OAT) secara tepat dan teratur akan dapat membunuh kuman TB yang ada dan menyembuhkan paru-paru yang sakit, sehingga batuk berdarah akan hilang.

2.    TB adalah penyakit keturunan

Seringkali ditemukan penyakit TB dialami dalam satu keluarga, apabila orangtuanya sakit maka anaknya juga sakit, apabila suaminya sakit maka istrinya juga sakit. Sehingga dimasyarakat dipahami bahwa TB adalah penyakit keturunan dan membahayakan, yang akhirnya membuat masyarakat mengucilkan satu keluarga pasien TB.

Sesungguhnya, TB adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman TB dan salah satu penyakit menular. Proses menularnya adalah dengan percikan dahak/sputum yang dikeluarkan oleh pasien TB dewasa yang di dalamnya sudah ada kuman TB, dan kuman TB yang bersebaran di udara tersebut di hirup oleh orang yang disekitarnya. Kuman TB tersebut masuk ke dalam saluran nafas dan berada di dalam tubuh kita, akan muncul menjadi penyakit TB apabila daya tahan tubuh kita melemah dan kuman berkembang  menjadi banyak.

Apabila sudah menjadi penyakit, maka gejala-gejala pasien TB akan terjadi yaitu batuk berdahak lebih dari 2 minggu disertai demam, keringat malam, nafsu makan berkurang dan berat badan berkurang. Karena orang terdekat dari pasien TB adalah keluarga dalam satu rumah, maka yang bisa tertular dengan mudah adalah anggota keluarga lainnya, yaitu suami/isti dan anak-anak.

Upaya pencegahan terbaik yang bisa dilakukan adalah mengobati pasien TB dengan tepat, teratur dan sampai sembuh sehingga sumber penularan tidak ada lagi. Upaya lainnya adalah dengan meningkatkan kesehatan lingkungan yang ada di dalam rumah seperti ventilasi sinar matahari yang cukup dan lingkungan yang bersih dan sehat.

3.    TB adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan

Di masyarakat, sering ditemui pasien TB yang tidak berobat menjadi berat sakitnya dan akhirnya meninggal. Dikarenakan berobat TB harus dalam waktu yang lama menyebabkan pasien menjadi bosan dan merasa tidak bisa disembuhkan. Hal ini menimbulkan pemahaman di masyarakat bahwa TB adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Saat ini, sudah banyak dibuktikan bahwa TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Pengobatan TB saat ini sudah mengalami banyak kemajuan untuk bisa menyembuhkan sampai tuntas pasien TB. Pengobatan yang hanya dalam waktu 6-8 bulan., sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu yang lama pengobatannya bisa 1-2 tahun. Obat Anti TB (OAT) paket FDC/KDT yang sudah memudahkan pasien TB dalam meminumnya dan disediakan secara gratis atau cuma-cuma oleh pemerintah melalui Puskesmas dan Rumah Sakit sera LKC DD.

Pasien TB yang sedang berobat haruslah didampingi oleh PMO (pengawas menelan obat), agar pasien TB meminum obatnya sampai selesai. Dalam pengobatan, perlu juga ditunjang dengan asupan makanan yang cukup gizi.  Sehingga, apabila ada pasien TB dan berobat di sarana kesehatan yang benar, dengan OAT yang tepat dan teratur serta ditunjang dengan asupan gizi yang cukup, maka pasien TB dapat disembuhkan sampai tuntas.

Stigma negatif tentang TB tersebut, harus dieliminasi dengan berbagai cara dan melibatkan banyak pihak. Sosialisasikan informasi TB dengan benar di masyarakat dengan intensif dan luas, dengan harapan masyarakat memiliki pengetahuan tentang TB yang benar. Dengan itu, maka program pengendalian TB di Indonesia dapat terlaksana dengan baik dan terwujudlah Indonesia Bebas TB.

Ditulis oleh dr. Yahmin Setiawan,MARS (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa)

677 total views, 2 views today

Pages:12Next »