Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

BAYI PANCA LAHIR DI PERJALANAN MENUJU RST

Panca lahir bukan di rumah sakit, bukan pula di bidan, melainkan di dalam mobil. Lebih tepat ketika ibunya dalam perjalanan menuju RS RST Dompet Dhuafa. Lahir dengan bobot 1700 gram dengan masa kehamilan 7 bulan, Muhammad Panca Maulana lahir prematur. Alhamdulillah, setibanya di rumah sakit, tim IGD sigap langsung membawa bayi Panca ke Ruang Perinatologi untuk ditangani segera, sementara sang ibu ditangani oleh tim dokter dan perawat di IGD.

Kala itu masih pagi buta. Ibu Masitoh (34 tahun) tidak merasakan tanda-tanda ingin melahirkan. Beliau hanya merasa seperti ada air yang keluar. Mulanya, ia mengira air tersebut adalah air yang keluar karena kebocoran kantung kemihnya. “Kata dokter, saya ada fistula. Kantung kemih saya robek ketika saya melahirkan anak kedua saya,” tutur Ibu Masitoh lirih. Panca adalah putra ketiga Ibu Masitoh. Anak pertamanya sekarang berusia 10 tahun, sedangkan anak keduanya meninggal beberapa jam setelah dilahirkan. Fistula Ibu Masitoh sempat direncanakan dioperasi di RS RST Dompet Dhuafa, namun ditunda setelah diketahui Ibu Masitoh sedang mengandung Panca.

Sama seperti Panca, anak keduanya lahir prematur. Ibu Masitoh bersyukur anak ketiganya bisa selamat. “Kakak Panca lahir tahun 2013. Allah berkehendak lain. Waktu itu, di rumah sakit tempat saya lahir belum ada alat yang memadai. Saya pun kondisinya sudah kritis, kalau saja tindakan proses melahirkannya terlambat, mungkin saya sudah tidak ada lagi sekarang. Alhamdulillah, di sini (Rumah Sehat Terpadu), fasilitasnya lengkap, dokter dan perawatnya juga telaten. Anak saya langsung dimasukkan ke inkubator. Bersyukur juga ada alat yang bisa membantu pernapasan anak saya (CPAP),” tambahnya. Karena lahir prematur, Panca mengalami hiperbilirubin (bayi kuning) dan organ pernapasan bayi Panca belum berfungsi optimal. Sehingga dibutuhkan inkubator dan penyinaran biru untuk menurunkan kadar bilirubinnya, serta alat bantu CPAP untuk membantu proses napasnya. CPAP terpasang selama 4 hari sejak Panca lahir, 19 – 22 Maret 2016 lalu.

Bayi Panca di dalam inkubator setelah CPAP dilepas

Bayi Panca di dalam inkubator setelah CPAP dilepas

CPAP atau Continuous Positive Airway Pressure merupakan alat bantu/terapi pernapasan yang diperuntukan bagi bayi yang mengalami henti napas (obstructive sleep apnea). Alat ini terdiri atas mesin kecil yang menyuplai udara napas (oksigen) bertekanan tertentu dan stabiil, selang (sebagai saluran udara), dan masker napas (atau nasal kanul). Alat ini sangat membantu bayi-bayi yang lahir prematur (neolatus kurang bulan dan kurang masa kehamilan) dan mengalami RDS (Respiratory Desperate Syndrome). CPAP yang berada di Ruang Perinatologi ini adalah donasi LAZIS PLN sebagai bentuk kepedulian PLN terhadap kesehatan dhuafa. Alhamdulillah, dengan CPAP, bayi Panca pun dapat terselamatkan.

Suster Yuli mempersiapkan pemasangan alat CPAP

Suster Yuli mempersiapkan pemasangan alat CPAP

Saat ini, bayi Panca masih dirawat di Rumah Sehat Terpadu sampai berat badannya mencapai 2000 gram. Selama Panca dirawat, ibu dua orang anak ini rutin mengunjungi anak mungilnya. “Kapan adik bisa pulang, Bu? Aku udah ga sabar ingin main sama adik,” ucap kakak Panca kepada ibunya saat ia menjenguk Panca. Ia sedih karena sekolah, tidak bisa sering-sering datang ke RS RST Dompet Dhuafa. Selain itu perjalanan yang ditempuh pun relatif jauh. Ibu Masitoh pulang pergi Pasar Minggu – Jampang dengan3 kali naik angkutan umum. Ibu Masitoh sangat bersyukur, dengan haru beliau sampaikan, “Buat ongkos mah, saya perjuangkan. Alhamdulillah, saya merasa tertolong sekali dengan member dhuafa. Anak saya bisa tertolong dengan semua biaya dibebaskan oleh Rumah Sehat Terpadu. Saya ga kebayang kalau mengandalkan KIS atau Jamkesmas. Karena harus nanggung setengah biayanya.”

Dari hari ke hari, perkembangan kesehatan Panca semakin baik. Dengan sentuhan hangat sang ibu dan ASI yang tak pernah henti, berat bayi Panca perlahan naik. Awalnya Panca belum dapat merespon isapan puting susu maupun dot. Setelah terapi saraf mulut diberikan oleh fisioterapis RS RST Dompet Dhuafa, bayi Panca menunjukkan kemajuan positif, ia sudah bisa mengisap susu dari puting. Raut wajah Ibu Masitoh terlihat sangat bahagia karena dapat menggendong Panca mungil sambil menyusuinya. “Panca dipijat-pijat di sekitar mulutnya. Rutin sama terapisnya,” tutur Ibu Masitoh dengan mata berbinar.

Saat ditanya mengapa Ibu Masitoh bisa melahirkan di mobil, beliau pun merasa takjub kala itu. “Mungkin karena kecapean. Seperti saat saya hamil kedua itu, kakak Panca lahir prematur karena saya yang tidak sehat. Ditambah saat Panca lahir kemarin, saya sedang batuk-batuk 2 minggu. Dokter Annisar sudah mengingatkan supaya saya jangan sering-sering batuk. Waktu di mobil itu pun, saya tahan-tahan batuknya. Subhanallah, padahal saya tidak batuk, hanya berdehem, Panca begitu saja lahir. Ibu saya yang saat itu ada di samping saya pun kaget. Karena Panca tidak langsung menangis. Hanya bersuara ngik seperti anak kucing. Barulah beberapa menit kemudian, Panca menangis keras,” cerita Ibu Masitoh mengalir.

Wajar jika Ibu Masitoh kelelahan. Beliau bekerja sebagai pengasuh anak (day care) untuk membantu suaminya yang baru saja di PHK. “Ada ibu-ibu yang kuliah di kampus dekat rumah saya. Setiap ia kuliah, ia menitipkan anaknya yang berusia 2 tahun dari pagi sampai siang di rumah saya. Alhamdulillah, anaknya tidak rewel,” tuturnya. Hal tersebut Ibu Masitoh lakukan untuk mendukung perekonomian keluarganya. Suaminya sekarang bekerja sebagai pengumpul sampah di lingkungan RT tempat ia tinggal. Sesekali ada sampah daur ulang yang bisa ia jual, barulah dari situ ia mendapat tambahan. Hasilnya dicukup-cukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari, keperluan sekolah anaknya, dan membeli pampers untuk Ibu Masitoh sendiri. Sejak beliau menderita fistula, ia tidak bisa mengontrol keluar air dari kantung kemihnya. Sehingga ia harus memakai pampers kemana-mana. Bagaimana setelah lahir bayi Panca? Ketika Ibu Masitoh ditanya demikian, beliau menjawab dengan penuh keyakinan, “Insya Allah, semua sudah diatur rezekinya. Bayi saya juga sudah ditentukan bagian-bagiannya. Tidak perlu khawatir. Rezeki mah bisa datang tanpa disangka-sangka. Saya saja tidak mengira kalau mobil yang mengantar saya melahirkan tidak mau menerima bayaran sepeser pun.” Beliau mengakhiri kisahnya dengan senyuman ketabahan seorang ibu. Harapannya tidak muluk-muluk, asalkan suaminya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, anak-anaknya bisa sekolah dan tumbuh sehat. Semangat, Ibu Masitoh!

Ibu Masitoh, warga Jati Padang, 34 tahun

Ibu Masitoh, warga Jati Padang, 34 tahun

Dan teruntuk sahabat RS RST Dompet Dhuafa dapat memberikan dukungan dana atau donasi kepada sahabat dhuafa, dapat disalurkan melalui rekening BNI Syariah dengan nomor rekening 0298535912 atas nama Yayasan Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Berbagi kebahagiaan itu begitu indah terasa ketika melihatnya bahagia karena perantara kita. Terima kasih. (dita)

562 total views, 1 views today