Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

ELIMINASI STIGMA NEGATIF TENTANG TB

Hari TB se-dunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Maret, di mana momen ini sekaligus juga memperingati ditemukannya kuman (bakteri) penyebab TB oleh Dr. Robert Koch pada tahun 1882 yang membuka jalan bagi penemuan metoda diagnosa dan penyembuhan. Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang menular dan disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberkulosis). Penyakit TB dapat diderita oleh siapa saja, orang dewasa atau anak-anak dan dapat mengenai seluruh organ tubuh kita manapun, walaupun yang terbanyak adalah organ paru.

Sejak tahun 1993, WHO menyatakan bahwa TB merupakan kedaruratan global bagi kemanusiaan. Walaupun strategi Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) telah terbukti sangat efektif untuk pengendalian TB, tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi. Dengan berbagai kemajuan yang dicapai sejak tahun 2003, diperkirakan masih terdapat sekitar 9,5 juta kasus baru TB, dan sekitar 0,5 juta orang meninggal akibat TB di seluruh dunia (WHO, 2009).

Permasalahan TB yang dihadapi di Indonesia masih sangat besar, saat ini Indonesia berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia, yaitu setiap tahun masih ada 61.000 orang atau 169 orang per hari yang meninggal karena TB. Penyakit TB juga berkaitan dengan “economic lost” yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga. Menurut WHO, seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun (WHO, 2010).

Diperlukan sekali penyebaran informasi dan pengetahuan yang benar dan utuh tentang TB kepada masyarakat. Banyak program dan upaya yang telah dilakukan, baik oleh pemerintah dan masyarakat, baik edukasi dan pelayanan kesehatan untuk pengendalian penyakit TB. Diharapkan, semua itu dapat mewujudkan Indonesia Bebas TB. 

Namun ternyata, masih adanya stigma negatif (pengetahuan dan pemahamam yang salah) tentang TB di dalam masyarakat, membuat pelaksanaan program pengendalian TB yang dilaksanakan oleh pemerintah dan lembaga non pemerintah mengalami hambatan, seperti pasien dikucilkan atau diasingkan, sehingga tidak mendapatkan pengobatan TB secara benar dan tuntas.

Padahal, pasien TB (dewasa dan hasil pemeriksaan dahaknya positif ada kuman TB) yang tidak diobati akan dapat menularkan kepada 10-15 orang yang ada di sekitarnya setiap tahun. Sehingga sangat diperlukan sekali peran serta masyarakat yang aktif dan berkesinambungan, bersama-sama dengan pemerintah dan lembaga non pemerintah dalam berantas TB di Indonesia.

Stigma-stigma negatif tentang TB tersebut adalah :

1.    TB adalah penyakit guna-guna atau kutukan

Dikarenakan pada pasien TB sering disertai dengan gejala batuk berdarah dengan tiba-tiba, di masyarakt dipahami itu adalah karena guna-guna atau kutukan. Sehingga pasien TB akan dikucilkan karena dianggap melakukan hal-hal yang salah dan menyimpang.

Sesungguhnya, ketika pasien TB mengalami batuk berdarah, hal tersebut disebabkan karena pecahnya pembuluh darah yang ada dalam paru-paru dikarenakan infeksi kuman TB pada saat batuk. Darah yang keluar berwarna merah segar dan dapat terjadi jarang atau sering ditentukan dengan luasnya infeksi kuman TB yang terjadi pada paru-paru pasien. Dengan meminum obat anti TB (OAT) secara tepat dan teratur akan dapat membunuh kuman TB yang ada dan menyembuhkan paru-paru yang sakit, sehingga batuk berdarah akan hilang.

2.    TB adalah penyakit keturunan

Seringkali ditemukan penyakit TB dialami dalam satu keluarga, apabila orangtuanya sakit maka anaknya juga sakit, apabila suaminya sakit maka istrinya juga sakit. Sehingga dimasyarakat dipahami bahwa TB adalah penyakit keturunan dan membahayakan, yang akhirnya membuat masyarakat mengucilkan satu keluarga pasien TB.

Sesungguhnya, TB adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman TB dan salah satu penyakit menular. Proses menularnya adalah dengan percikan dahak/sputum yang dikeluarkan oleh pasien TB dewasa yang di dalamnya sudah ada kuman TB, dan kuman TB yang bersebaran di udara tersebut di hirup oleh orang yang disekitarnya. Kuman TB tersebut masuk ke dalam saluran nafas dan berada di dalam tubuh kita, akan muncul menjadi penyakit TB apabila daya tahan tubuh kita melemah dan kuman berkembang  menjadi banyak.

Apabila sudah menjadi penyakit, maka gejala-gejala pasien TB akan terjadi yaitu batuk berdahak lebih dari 2 minggu disertai demam, keringat malam, nafsu makan berkurang dan berat badan berkurang. Karena orang terdekat dari pasien TB adalah keluarga dalam satu rumah, maka yang bisa tertular dengan mudah adalah anggota keluarga lainnya, yaitu suami/isti dan anak-anak.

Upaya pencegahan terbaik yang bisa dilakukan adalah mengobati pasien TB dengan tepat, teratur dan sampai sembuh sehingga sumber penularan tidak ada lagi. Upaya lainnya adalah dengan meningkatkan kesehatan lingkungan yang ada di dalam rumah seperti ventilasi sinar matahari yang cukup dan lingkungan yang bersih dan sehat.

3.    TB adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan

Di masyarakat, sering ditemui pasien TB yang tidak berobat menjadi berat sakitnya dan akhirnya meninggal. Dikarenakan berobat TB harus dalam waktu yang lama menyebabkan pasien menjadi bosan dan merasa tidak bisa disembuhkan. Hal ini menimbulkan pemahaman di masyarakat bahwa TB adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Saat ini, sudah banyak dibuktikan bahwa TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Pengobatan TB saat ini sudah mengalami banyak kemajuan untuk bisa menyembuhkan sampai tuntas pasien TB. Pengobatan yang hanya dalam waktu 6-8 bulan., sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu yang lama pengobatannya bisa 1-2 tahun. Obat Anti TB (OAT) paket FDC/KDT yang sudah memudahkan pasien TB dalam meminumnya dan disediakan secara gratis atau cuma-cuma oleh pemerintah melalui Puskesmas dan Rumah Sakit sera LKC DD.

Pasien TB yang sedang berobat haruslah didampingi oleh PMO (pengawas menelan obat), agar pasien TB meminum obatnya sampai selesai. Dalam pengobatan, perlu juga ditunjang dengan asupan makanan yang cukup gizi.  Sehingga, apabila ada pasien TB dan berobat di sarana kesehatan yang benar, dengan OAT yang tepat dan teratur serta ditunjang dengan asupan gizi yang cukup, maka pasien TB dapat disembuhkan sampai tuntas.

Stigma negatif tentang TB tersebut, harus dieliminasi dengan berbagai cara dan melibatkan banyak pihak. Sosialisasikan informasi TB dengan benar di masyarakat dengan intensif dan luas, dengan harapan masyarakat memiliki pengetahuan tentang TB yang benar. Dengan itu, maka program pengendalian TB di Indonesia dapat terlaksana dengan baik dan terwujudlah Indonesia Bebas TB.

Ditulis oleh dr. Yahmin Setiawan,MARS (Direktur Utama RST Dompet Dhuafa)

710 total views, 1 views today