Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

TANGGAP MENANGANI SERANGAN STROKE

Penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung (stroke) dianggap merupakan penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Setidaknya, setiap tahun jumlah penderita penyakit ini semakin bertambah seiring kualitas pola hidup yang tidak sehat, seperti merokok.

Stroke juga dikenal sebagai penyakit yang tidak bergejala (silent killer). Jika sudah terkena stroke, pasien bisa mengalami kematian mendadak, bahkan menderita kelumpuhan yang bisa menyerang organ motorik pasien. Sasaran kelumpuhan, seperti tangan, kaki, bagian wajah, dan lidah hingga sulit berkomunikasi.

Ketika stroke menyerang

Ketika stroke menyerang

Dokter spesialis bedah saraf RS Premier Jatinegara DR Dr Wismaji Sadewo SpBS(K) mengungkapkan, stroke sejatinya merupakan sebuah gangguan mendadak pada pembuluh darah. “Gangguan pada pembuluh darah ini letaknya bisa di mana saja. Kalau kena di pembuluh darah besar di otak, bisa mengakibatkan kematian. Tapi, kalau kena saraf pembuluh darah, pasien bisa mengalami kelumpuhan yang membuat pasien menderita,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Penyakit stroke bisa diderita semua orang, baik dewasa maupun anak-anak. Faktor pencetusnya antara lain genetik, hipertensi, usia, diabetes, obesitas, pola hidup tidak sehat, stres, atau adanya sumbatan lain yang mengenai pembuluh darah.

Jika seseorang terkena stroke, dia harus segera ditangani dalam kurun waktu yang disebut golden period. Masa golden period adalah pasien harus lekas ditangani dokter dalam waktu 3-6 jam pascakejadian agar meminimalisasi terjadinya kecacatan atau kematian akibat stroke. Dalam kurun waktu itu, diagnosis tepat sangat dibutuhkan.

Beberapa metode radiologi untuk mendiagnosis kondisi pembuluh darah pasien stroke pun kini telah tersedia, salah satunya dengan digital subtraction angiography (DSA). “DSA untuk memeriksa penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak yang menyebabkan stroke. Tindakan iskemik DSA harus segera dilakukan setelah pasien mengalami serangan,” katanya.

Sebanyak 85 persen pasien stroke di negara kita umumnya mengalami sumbatan. Biasanya dokter menyarankan agar pasien ditangani dengan metode DSA. Sejauh ini, tindakan DSA, menurut Wismaji, tingkat keberhasilannya cukup tinggi, asalkan pasien masih dalam masa golden period.

Proses kerja DSA adalah dengan menyemprotkan cairan heparin dan kontras dengan kateter ke pembuluh darah otak. DSA dapat membantu memperlebar dan melarutkan penyumbatan yang bisa menjadi penyebab stroke. “Proses inilah yang kerap membuat DSA sering disebut sebagai metode cuci otak,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Medik RS Pusat Otak Nasional (RSPON) dr Kemal Imran SpS MARS menjelaskan, sebenarnya penyakit stroke bisa dicegah dan diminimalisasi dampaknya. Asalkan, pasien selalu menjaga pola hidup sehat, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko genetik.

“Stroke sedikit banyak bisa disebabkan oleh makanan dan pola hidup yang kurang baik, padahal semuanya bisa dikendalikan sebagai bagian dari pencegahan. Jangan lupa selalu upayakan melakukan aktivitas fisik agar tetap seimbang,” jelas Kemal.

Selain itu, guna menolong pasien yang terkena stroke, Kemal mengimbau agar selalu mewaspadai setiap gejala. Seperti, gangguan komunikasi, bagian tubuh yang sulit digerakkan, dan lainnya.

Hal penting lagi, lanjutnya, adalah segera mencari pertolongan dokter atau memanggil ambulans saat pasien terkena stroke untuk membawanya ke rumah sakit. Di sana, obat dan fasilitasnya sangat lengkap agar pasien dapat secepatnya ditangani dengan baik.

(dilansir dari Republika 9 Mei 2016 – rep: Aprilia Safitri Ramdhani, ed: Dewi Mardiani)

563 total views, 1 views today