Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

PENYAKIT GINJAL KRONIS DI DUNIA MENINGKAT

Setiap tahunnya, pasien penyakit ginjal kronis meningkat. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sekitar 10 persen dari populasi dunia menderita penyakit ginjal kronis dan diperkirakan angkanya bakal meningkat hingga 17 persen pada 10 tahun mendatang. Menurut Kidney Health Australia Anne Wilson, penyakit ginjal kronis adalah persoalan yang semakin serius di negeri itu. Lebih dari 1,7 juta orang dewasa Australia saat ini hidup dengan indikasi penyakit ginjal kronis, tapi 90 persen di antara mereka tidak menyadari hal tersebut. Penyakit silent killer ini bisa menimpa siapa saja. Penderita bahkan terkadang baru tersadar ginjalnya bermasalah ketika fungsi organ hanya tersisa 10 persen.

Orang dengan penyakit ginjal kronis memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit lain, termasuk dua sampai tiga kali lebih besar risikonya untuk terkena serangan jantung. Peluang kematian juga 20 kali lebih besar daripada risiko kematian akibat cuci darah atau transplantasi ginjal.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), Dr Dharmeizer mengungkapkan jumlah penderita penyakit ginjal kronik di Indonesia terus meningkat. Penyebabnya komplikasi dari Hipertensi dan Diabetes. Dua penyebab terbesar di Indonesia, 31 persen kurang lebih karena hipertensi dan 26 persen diabetes melitus.

Gaya hidup masyarakat yang sering mengonsumsi makanan siap saji ditengarai menjadi penyebab hipertensi yang berujung penyakit ginjal kronik. Hal itu dikarenakan makanan siap saji mengandung kadar garam yang cukup tinggi. Kadar garam yang berlebih sebenarnya akan dibuang oleh ginjal. Namun karena mekanisme kerja garam yang menyerap air di saluran pembuangan, maka ia berkontribusi pada terjadinya tekanan darah tinggi. ”Berdasarkan data tahun 2013, hipertensi masih jadi penyebab utama penyakit ginjal tahap akhir atau stadium lima yang membutuhkan terapi pengganti ginjal,” ujar Dharmeizer.

Bila seseorang mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, atau pernah mengalami serangan stroke, ia harus segera menguji kondisi ginjalnya. Terlebih, bila dia adalah perokok, gemuk, berusia di atas 60 tahun, dan penyuka minuman ringan, maka pemeriksaan ginjal sepatutnya menjadi prioritas.

Indikator peningkatan penyakit ginjal ini dihitung berdasarkan hitungan prevalensi 400 juta penduduk. Jika penduduk Indonesia sekitar 240 juta jiwa maka jumlah pasien yang saat ini menderita ginjal kronik stadium lima sebanyak 96 ribu orang. Dharmeizer juga mengatakan jumlah tersebut bisa dikurangi dengan menerapkan langkah-langkah preventif. Seperti mengurangi konsumsi garam, menghindari asupan tinggi protein, kontrol konsumsi gula, serta menerapkan gaya hidup sehat.

Jika telah menderita penyakit ginjal, maka konsumsi cairan harus dibatasi. Karena pada penderita penyakit ini, ginjal mulai terjadi kerusakan. Kemudian menyebabkan produksi jumlah cairan urin yang dibuang melalui ginjal berkurang. ”Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kelebihan cairan yang menyebabkan pasien menjadi sesak dan batuk-batuk, sampai kepada sesak napas yang akut,” jelas Dharmeizer.

(dilansir dari Republika 24 Mei 2016 dan 30 Januari 2015 - rep: Mg02/ red: Djibril Muhammad)

——

Kerja Sama Operasi 50 Unit Hemodialisa

Perubahan gaya hidup menjadi semakin tidak sehat memunculkan beragam tren penyakit, salah satunya gagal ginjal. Kebutuhan akan mesin cuci darah (hemodialisa) sebagai pengganti fungsi ginjal yang rusak, pun seperti kebutuhan sehari-hari yang semakin kini semakin dianggap lumrah. Jumlahnya dari tahun ke tahun semakin meningkat, terutama di negara berkembang. Padahal biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, paling tidak hampir Rp 1 juta dikeluarkan setiap kali cuci darah. Dan itu harus dilakukan 2 kali setiap minggunya seumur hidupnya. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan?

Tindakan preventif memang yang paling baik daripada tindakan kuratif. Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan sahabat kita yang memang sudah terlanjut memiliki ginjal yang rusak. Apalagi sahabat dhuafa yang mengalaminya. Alhamdulillah, saat ini 8 unit mesin hemodialisa telah beroperasi sejak tahun 2013 di RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Terima kasih kepada para muwakif dan donatur yang telah mendonasikan hartanya, sehingga rata-rata 10 orang per hari atau 248 orang per bulan (data tahun 2016) telah menerima manfaatnya.

Dan kini, RS Rumah Sehat Terpadu DD telah menjalin kerjasama dengan PT Fresenius Medical Care dalam pengadaan 50 unit mesin hemodialisa. Dengan penambahan unit mesin hemodilisa ini, RS Rumah Sehat Terpadu DD dan PT Fresenius berharap dapat turut membantu meningkatkan kualitas hidup para penderita gagal ginjal hingga 20 tahun ke depan. Selain memfasilitasi layanan cuci darah, dengan adanya kerjasama ini. PT Fresenius berharap ada nilai edukasi kesehatan kepada pasien dan berbagi teknologi kesehatan kepada para tenaga medis.

Penandatanganan Kerja Sama Operasi Mesin Hemodialisa antara RS Rumah Sehat Terpadu dan PT Fresenius pada Tanggal 10 Mei 2016

Penandatanganan Kerja Sama Operasi Mesin Hemodialisa antara RS Rumah Sehat Terpadu dan PT Fresenius pada Tanggal 10 Mei 2016

Peluang berdonasi terus terbuka terutama untuk sahabat dhuafa. Keinginan Anda dapat disampaikan langsung kepada Customer Service kami di RS Rumah Sehat Terpadu DD atau layangkan SMS ke nomor SMS Donasi di 087709923187. Donasi Anda meningkatkan fasilitas kesehatan untuk para dhuafa. Salam #sehatmiliksemua. (das)

484 total views, 1 views today