Official Facebook Account of RSTDDOfficial Twitter Page of RSTDDOfficial Instagram Account of RSTDD

Archive for June 2016

Juni 30, 20161 year ago

TIDAK PERLU RISAU UNTUK VAKSINASI

Nasib para orang tua kini sedang dilanda kepanikan. Bagaimana tidak, berita mengenai vaksin palsu kini merebak keberbagai daerah. Ini bermula ketika ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memproduksi dan menjual vaksin palsu. Aktivitas ini terjadi sejak 13 tahun yang lalu. Selama 13 tahun itu pula beberapa fasilitas kesehatan memberikan vaksin palsu kepada anak-anak. Meskipun dalam beberapa kasus pemberian vaksin palsu ini tidak memberikan dampak yang berarti, namun tetap saja para ibu khususnya merasa khawatir akan kondisi kekebalan tubuh sang buah hatinya.

Sebenarnya, apakah itu vaksin? Seberapa penting vaksinasi bagi anak kita? Vaksin adalah suatu bahan berupa bakteri atau virus yang telah dilemahkan yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme tertentu. Dan imuninasi adalah sebuatan bagi proses untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Pemberian vaksin ini dianggap penting. Berikut diantaranya beberapa manfaat dari pemberian vaksin, yaitu:

  1. Untuk menjaga daya tahan tubuh anak.
  2. Untuk mencegah penyakit-penyakit menular yang berbahaya
  3. Untuk menjaga anak tetap sehat
  4. Untuk mencegah kecacatan dan kematian.
  5. Untuk menjaga dan membantu perkembangan anak secara optimal

Bagaimana dengan berbagai isu yang tersebar akhir-akhir ini terkait keaslian, keamanan, dan keahalaln vaksin? Bidan Niken Desna, bidan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, menyampaikan bahawa orangtua tidak perlu khawatir dan ragu untuk memberikan vaksinasi kepada buah hatinya karena menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 04 Tahun 2016 tentang Imunisasi, bahwa imunisasi dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya satu penyakit tertentu. Dan vaksin-vaksin yang disediakan langsung oleh pemerintah (Dinas Kesehatan)  yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi dijamin keaslian, manfaat, dan keamanannya. Insya Allah.

 Pemberian vaksin atau imunisasi lengkap sangat penting karena dapat melindungi anak dari wabah, kecacatan, dan kematian. Orangtua diharapkan melengkapi imunisasi anak mereka agar seluruh anak Indonesia terbebas dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah lewat imunisasi. Imunisasi melindungi anak-anak dari beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian. “Minimal dengan imunisasi 5 dasar, yaitu 1) Hepatitis B, untuk bayi baru lahir mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anak pada proses kelahira), 2) BCG, untuk mencegah kuman tuberkulosis yang menyerang paru, 3) Polio, untuk mencegah lumpuh layu, 4) Campak, untuk mencegah penyakit campak berat, dan 5) DPT-HB-HIB, untuk mencegah difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia & meningitis,” pesan Bidan Niken kepada para orang tua.

1.      Hepatitis B 

Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Hepatitis B, yang bisa menyebabkan kerusakan pada hati. Waktu pemberian: Dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 bulan, lalu saat 3 – 6 bulan. Catatan khusus: Jarak antara pemberian pertama dengan kedua minimal 4 minggu.

 2.      BCG (Bacille Calmette-Guérin)

Manfaat: Mencegah penyakit tuberkulosis atau TB (bukan lagi disingkat TBC), yaitu infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang. Waktu pemberian: Sejak bayi lahir. Catatan khusus: Bila mama ketinggalan dan umur si kecil sudah lebih dari 3 bulan, harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. Uji ini untuk mengetahui apakah di dalam tubuh anak sudah terdapat bakteri penyebab TB atau tidak. BCG baru bisa diberikan, bila uji tuberkulin negatif.

3.      Polio 

Manfaat: Melindungi tubuh terhadap virus polio, yang menyebabkan kelumpuhan. Waktu pemberian: Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya, vaksin ini diberikan tiga kali, yakni saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Catatan khusus: Pemberian vaksin ini harus diulang (boost) pada usia 18 bulan dan 5 tahun

4.      Campak 

Manfaat: Melindungi anak dari penyakit campak yang disebabkan virus. Waktu pemberian: Pertama kali diberikan saat anak umur 9 bulan. Campak kedua diberikan pada saat anak SD kelas 1 (6 tahun). Catatan khusus: Jika belum mendapat vaksin campak pada umur 9 bulan, anak bisa diberikan vaksin kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (MMR atau Measles, Mumps, Rubella) di usia 15 bulan.

5.      DTP (Diphteria, Tetanus, Pertussis)

Manfaat: Mencegah tiga jenis penyakit, yaitu difteri (infeksi saluran pernapasan yang disebabkan  bakteri), tetanus (infeksi bakteri pada bagian tubuh yang terluka), dan pertusis (batuk rejan, biasanya berlangsung dalam waktu yang lama)Waktu pemberian: Pertama kali diberikan saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Pemberian selanjutnya pada usia 4 dan 6 bulan. Catatan khusus: Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Pada usia 12 tahun, vaksin ini diberikan lagi, biasanya di sekolah.

Terkait hal ini, penyebaran vaksin palsu memang sepatutnya kita waspadai. Namun, para orang tua sebaiknya tidak perlu merasa khawatir. Seperti yang diungkapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahwa peredaran vaksin palsu tersebut tidak perlu terlalu dirisaukan. Meski memang tetap harus diwaspadai, namun Kemenkes memberi petunjuk agar para orang tua tidak perlu terlalu waswas dengan hal tersebut. Melalui akun twitter resmi @KemenkesRI, Kemenkes. (pen: um, ed: das)

655 total views, no views today

Juni 28, 20161 year ago

KUNJUNGAN MEDIA TERKAIT MEREBAKNYA ISU VAKSIN PALSU

BOGOR (28/6) RS Rumah Sehat Terpadu DD sebagai rumah sakit nonprofit jejaring Yayasan Dompet Dhuafa Republika di bidang kesehatan selalu memberikan pelayanan yang terbaik. Dengan memaksimalkan sumber daya dan fasilitas, rumah sakit ini kini mampu melayani pasien dhuafa atau yang biasa disebut penerima manfaat.

Merebaknya pemberitaan vaksin palsu yang menyebar dibeberapa daerah berdampak pada munculnya rasa ragu dari para orang tua yang melahirkan anaknya sampai kurun waktu 13 tahun yang lalu. Pejabat daerah khususnya bidang kesehatan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai fasilitas kesehatan guna mencari penyebaran vaksin palsu ini. Khususnya wilayah Kabupaten Bogor, dinas kesehatan saat ini sedang melakukan sidak di fasilitas layanan kesehatan di wilayah Kabupaten Bogor.

RS Rumah Sehat Terpadu DD pun mendapat perhatian media. Perhatian ini diberikan bukan karena vaksin yang digunakan adalah palsu melainkan karena meskipun sebagai rumah sakit gratis untuk dhuafa namun mampu memberikan vaksin yang didistribusikan langsung dari dinas kesehatan atau distributor obat resmi. Hal ini membuktikan bahwa rumah sakit ini menjaga kualitas pelayanan. Perhatian media ini dilakukan dengan kunjungan langsung ke lapangan atau dalam hal ini kepada pasien yang mendapatkan vaksin. Sehingga, pasien RS Rumah Sehat Terpadu DD tidak perlu ragu untuk memvaksinasi buah hatinya di rumah sakit tersebut. Orang tua pun tidak akan menyangsikan lagi keaslian dan kualitas vaksinnya, karena bidan dan perawat selalu memperlihatkan batch ID vaksin sebelum diberikan kepada anak.

Keaslian vaksin hepatitis B0 untuk bayi baru lahir

Keaslian vaksin hepatitis B0 untuk bayi baru lahir

Bagaiman dengan rumah sakit lain? Pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sendiri telah menegaskan bahwa peredaran vaksin palsu tersebut tidak perlu terlalu dirisaukan. Meski memang tetap harus diwaspadai, Kemenkes telah memberi petunjuk agar para orang tua tidak perlu terlalu waswas dengan hal tersebut melalui akun Twitter resmi @KemenkesRI. Adapun 7 alasan tersebut adalah:

  1. Jika anak Anda mendapatkan imunisasi di Posyandu, Puskesmas, dan Rumah Sakit Pemerintah, vaksin disediakan oleh pemerintah yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi. Jadi vaksin dijamin asli, manfaat dan keamanannya
  2. Jika anak Anda mengikuti program pemerintah yaitu imunisasi dasar lengkap di antaranya Hepatitis B, DPT, Polio, Campak, BCG, pengadaannya oleh pemerintah didistribusikan ke Dinas Kesehatan hingga fasyankes. Jadi dijamin asli, manfaat dan keamanannya.
  3. Jika peserta JKN dan melakukan imunisasi dasar misalnya vaksin BCG, Hepatitis B, DPT, Polio dan Campak, pengadaan vaksin didasarkan pada Fornas dan e-catalog dari produsen dan distributor resmi, jadi asli dan aman
  4. Ikuti program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Tanpa adanya vaksin palsu, imunisasi ini disarankan (harus) diulang. Jadi bagi yang khawatir, ikut saja imunisasi ini di posyandu dan puskesmas.
  5. Diduga peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1% wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Ini relatif kecil secara jumlah vaksin yang beredar dan wilayah sebarannya.
  6. Dikabarkan isi palsu itu campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan.
  7. Karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli.

 

Info lebih lanjut: RS. Rumah Sehat Terpadu | Jl. Raya Parung KM 42, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor 16310 | Telp. 0251-8618651 | Fax. 0251-8610876 | Email : humas.pemasaran@rumahsehatterpadu.or.id | www.rumahsehatterpadu.or.id  (pen: um, ed: das)

1,016 total views, no views today

Juni 22, 20161 year ago

HINDARI KEBIASAAN INI DI BULAN RAMADHAN

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan dibukanya kemudahan untuk melakukan kebaikan. Allah SWT akan senantiasa melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang melakukan kebaikan. Namun, disamping itu masih saja terdapat kebisaan-kebiasaan yang dianggap buruk yang masih dilakukan pada bulan suci ini. Untuk itu perhatikanlah kebiasaan-kebiasaan tersebut, agar dapat segera dihindari.

Terlalu Banyak Makan Manis

Pada saat tubuh kita berpuasa, kadar gula darah akan menurun. Tubuh akan merespon penurunan gula darah ini dengan munculnya rasa lapar saat berpuasa. Maka saat berbuka umumnya kita akan mengkonsumsi makanan dengan karbohidrat/gula sederhana agar cepat meningkatkan kadar gula darah seperti, antara lain gula pasir atau makanan manis. Saat baru berbuka, banyak orang langsung menikmati takjil manis. Hal tersebut diperbolehkan, asal jumlahnya tidak banyak. Semangkuk kecil kolak pisang sudah cukup, tidak perlu sampai memakai ukuran mangkuk bakso.

Namun, orang terkadang tidak sadar bahwa konsumsi gula pasirnya berlebih, yang dapat berasal dari es buah, kolak, dll. Sehingga yang dikhawatirkan adalah meningkatnya kadar gula dalam darah, yang menyebabkan terjadinya lonjakan hormon insulin. “Lonjakan hormon insulin ini yang kemudian meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin atau bahkan diabetes melitus tipe 2. Risiko ini akan semakin meningkat bagi orang-orang yang memang memiliki kadar gula darah yang tinggi. Oleh karena itu, dianjurkan mengkonsumsi kurma pada saat berbuka sesuai sunnah Rasulullah, karena kurma juga mengandung kadar gula sederhana. Dan sebaiknya konsumsi apapun itu memang harus dengan takaran yang seimbang,” pesan Ade Yanti, S.Gz, Ahli Gizi RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa.

Selain itu, menurut  DR. dr. Saptawati Bardosono (dokter dari Departemen Ilmu Gizi  FKUI), mengkonsumsi makanan yang terlalu manis dan karbohidrat akan meningkatkan gula darah secara cepat tetapi juga akan menurunkannnya secara drastis di saat yang bersamaan, sehingga akhirnya akan membuat tubuh kamu kekurangan zat gula dan mengakibatkan tubuh kamu menjadi cepat lemas, cepat lapar dan mengantuk.

Banyak Makan Saat Berbuka Puasa

Saat jam berbuka tiba, banyak orang lapar mata dan memakan apa saja yang terhidang hingga perut terasa penuh. Kebiasaan ini sangat buruk, karena selama seharian, sistem pencernaan sedang beristirahat, sehingga mengonsumsi makanan yang banyak sekaligus akan membuat kerja pencernaan lambat dan berat. Makanlah sedikit-sedikit dan kunyah perlahan. Otak perlu waktu sekitar 7 menit untuk mengirimkan sinyal kenyang. Makan secukupnya sesuai kebutuhan.

Mengonsumsi Makanan Tinggi Lemak dan Kalori

Pada saat berbuka puasa yang sering terjadi, banyak orang sengaja memanjakan tubuh dengan makanan enak yang tinggi lemak dan kalori. Hal ini terjadi biasanya sebagai bentuk ‘balasan’ karena tubuh sudah berpuasa selama satu hari. Padahal saat berbuka puasa, makanan harus berimbang. Ada asupan karbohidrat, protein, lemak sehat dan serat.

Melewatkan Waktu Sahur

Banyak orang melewatkan waktu sahur karena malas bangun, capek dan malas memasak. Padahal waktu sahur adalah saat yang tepat untuk mengisi tubuh dengan energi, termasuk waktu yang tepat untuk mengonsumsi cairan. Menikmati makanan kaya serat dan tinggi protein dapat membantu tubuh tidak mudah lapar seharian.

Sedikit Mengonsumsi Buah dan Sayur

Selama berpuasa dan kita tetap menjalani aktifitas kita seperti biasa, begitu pun tubuh kita yang tetap membutuhkan asupan nutrisi seperti serat dan vitamin. Dengan mengkonsumsi sayur dan buah kita akan membantu  sistem pencernaan yang sangat membutuhkan serat untuk mengolah makanan yang masuk. Tetapi, kebiasaan masyarakat akan mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak dan kalori sehingga mengurangi porsi buah dan sayur. Padahal organ pencernaan Anda membutuhkan banyak serat untuk bekerja dengan baik. Tidak heran jika banyak yang mengalami masalah susah membuang air besar ketika puasa. Konsumsi buah segar saat berbuka puasa. Anda bisa mencoba buah kaya air seperti semangka, blewah, melon dan sebagainya.

Kurang Minum

Salah satu efek samping banyak makan saat berbuka puasa adalah kurang minum. Perut yang terasa sesak tidak kuat menampung minuman. Karena itu, makanlah secukupnya dan perbanyak konsumsi air putih. Tubuh Anda memerlukan cairan agar tetap fit dan siap menjalankan ibadah selanjutnya. Selama puasa kamu dianjurkan untuk minum paling tidak sebanyak 1,5-2 liter air mineral. Jumlah ini cukup untuk menjaga tubuh kamu tetap fit selama beraktifitas selama berpuasa. (pen: um, ed: das)

 #didukung oleh referensi dari berbagai sumber

608 total views, 1 views today

Juni 20, 20161 year ago

SAAT BESAR NANTI MALIK INGIN BISA MENDENGAR, IBU

Waktu Malik lahir, sang bidan hanya bilang, “Bu, daun telinga anak ibu kelipet. Tapi tak apa.” Muhammad Malikiyas Dika, anak kedua dari pasangan Erna (28) dan Liyas (35) lahir pada tanggal 24 Oktober 2015. Bayi laki-laki ini lahir prematur. Seminggu kemudian ia pun mengalami penurunan berat badan dari 2,3 kg ke 1,9 kg. Puskesmas menyarankan agar Malik dirawat di dalam inkubator, karena badannya menguning akibat kadar bilirubinnya meningkat. Tiga bulan kemudian, sang ibu mulai menyadari ada yang lain dari putranya. Malik dirujuk ke rumah sakit di bilangan Jakarta agar segera ditangani oleh dokter THT. Dokter memberikan diagnosa bahwa Malik menderita microtia di kedua telinganya. Sedih tentunya perasaan seorang ibu yang melihat anaknya tumbuh tanpa daun dan lubang telinga. Senyum kakaknya, Dian (7), terkadang menjadi pelipur lara saat ceria bermain dengan adik kecilnya.

Mikrotia terbentuk dari dua kata yaitu micro yang artinya kecil dan otia yang artinya telinga. Sehingga microtia didefinisikan sebagai bentuk telinga luar yang kecil, abnormal, atau bahkan suatu kondisi tanpa adanya telinga luar. Jika terjadi pada satu telinga disebut unilateral microtia, sedangkan jika terjadi pada dua telinga disebut bilateral microtia. Bentuk unilateral lebih banyak terjadi jika dibandingkan dengan yang bilateral (kurang lebih 90% angka kejadian mikrotia adalah unilateral).

Grade mikrotia pada anak

Grade mikrotia pada anak

Mikrotia biasanya mulai berkembang sejak anak dalam kandungan, khususnya di semester pertama, dimana sedang terjadi pembentukan organ. Namun, sampai sekarang alasan kenapa hal ini bisa terjadi belum bisa dijelaskan dengan pasti secara ilmiah. Erna pun tidak merasakan hal yang aneh saat mengandung Malik. Menurut perkiraan medis sendiri, kondisi ini bisa dipicu karena penggunaan obat-obatan pada trimester pertama kehamilan, adanya faktor genetik atau pengaruh dari lingkungan. Mikrotia bisa dijadikan satu alasan untuk seorang ibu melakukan pemeriksaan komprehensif pada bayinya, untuk mengetahui ada atau tidaknya kegagalan pembentukan di organ lain selama kehamilan.

Menurut data National Deaf Children Society (NDCS), mikrotia lebih sering terjadi pada anak laki-laki, dan hanya terjadi pada satu telinga saja. Telinga kanan lebih sering mengalami microtia dibandingkan telinga kiri. Malik menjadi seorang bayi dari 8000-10000 bayi yang lahir mengalami kondisi mikrotia, dan 1 dari 10 anak dengan microtia mengalami mikrotia di kedua telinga.

Malik lahir normal, saat lahir pun ia menangis seperti bayi pada umumnya. “Sekarang saya sendiri  belum tahu nanti Malik besar seperti apa. Kata dokter, Malik harus dipasang alat bantu dengar supaya bisa mendengar,” tutur Erna. Kekhawatiran Erna mengingat perkembangan fungsi bicara tentunya dipengaruhi oleh kemampuan dengar dan melihat. “Kalau hanya sebelah telinga, saya mungkin masih bisa menunda pengobatan Malik. Tetapi, yang terjadi pada anak saya adalah kedua telinganya tidak dapat mendengar. Ketika perawat memperkirakan biaya pemasangan alat itu sebesar Rp 14 juta, saya dan suami juga bingung. Sebagai orang tua, kami hanya ingin anak kami dapat tumbuh sehat dan normal,” sahut Erna dengan lirih. Mungkin saat ini Malik masih bisa bermain ceria dengan kakaknya, bermain gerakan tangan, kaki, dan mimik senyum. Tetapi  saat dia besar, tentu indera pendengarannya akan sangat dibutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Membayangkan biaya pengobatan Malik, Erna tidak bisa berharap banyak dari penghasilan suaminya yang bermatapencaharian sebagai buruh lepas harian. Pendapatannya tidak menentu per bulannya. Jikapun ada pekerjaan kuli bangunan, upahnya Rp 90 ribu per hari. Di rumah berukuran 50 meter persegi di kawasan Gandul, Cinere, Depok, keluarganya tinggal berbagi ruang dengan keluarga saudara suaminya. Di sela-sela waktu berobat ke dr. Winda, Sp.A di RS Rumah Sehat Terpadu DD, Erna bercerita kepada redaksi Humas sambil menggendong Malik yang sedang demam., “Dulu sebelum bulan puasa, saya suka berjualan jajanan anak di depan rumah untuk bantu suami sedikit-sedikit. Untuk beli susu Malik, Mba. Sedari kakaknya, ASI saya ga keluar. Sudah banyak cara saya coba, tetapi tidak berhasil. Sekarang, pikiran kami bertambah ke pengobatan Malik.”

Pemasangan alat bantu dengar pada penderita mikrotia

Pemasangan alat bantu dengar pada penderita mikrotia

Pada anak-anak yang terlahir dengan mikrotia pada kedua telinganya harus ditangani dengan lebih khusus. Rekonstruksi telinga luar sebaiknya segera dilakukan. Dahulu disarankan untuk melakukan operasi sedini mungkin agar proses perkembangan dan proses pembelajaran anak tidak terganggu. Namun seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran dalam alat bantu pendengaran, saat ini proses operasi pada microtia bilateral bisa ditunda sampai umur 6-7 tahun. Sehingga pada saat lahir sampai dengan umur 6-7 tahun anak akan dipasang alat bantu pendengaran atau BAHA (Bone Anchored Hearing Aids). Alat inilah yang rencananya akan dipasangkan pada Malik di usianya yang baru 7 bulan. Semoga dengan alat tersebut, Malik dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak sebayanya. Bagi Sahabat RST yang ingin berdonasi, Anda dapat menghubungi kami di line Customer Service (0251) 8618651 atau SMS layanan donasi di 087709923187. Salam #sehatmiliksemua.

975 total views, 1 views today

Pages:1234Next »